Salah Kaprah Penamaan Bangunan Bersejarah di Pulau Nias

Monday, October 7, 2013
By susuwongi

Oleh Marselino Fau*

Apa Arti Sebuah Nama

Marselino Fau | Foto Pribadi

Marselino Fau | Foto Pribadi

Dalam bukunya An Essay On Man, Ernst Cassirer mengatakan bahwa manusia adalah animal symbolicum. Demikian Ernst Cassirer mendefinisikan siapa itu manusia. Manusia memiliki ciri yang betul-betul khas manusiawi, yakni pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis yang menjadi dasar bagi seluruh kemajuan kebudayaan.

Manusia mencipta dan berkreasi, sebagai ungkapan budi dan perasaannya yang dinyatakan dalam satu bentuk tertentu yang memiliki makna simbolis. Manusia membuat monumen bukan hanya sekedar peringatan tetapi juga sebagai harapan agar manusia yang melihat monumen tersebut bertingkah laku sebagaimana tingkah laku simbolis yang tersirat dalam monumen tersebut.

Setiap suku memiliki kebudayaan unik. Memiliki situs atau tempat yang bermakna simbolis yang disarikan dari kehidupan warganya. Demikian juga halnya dengan orang Nias memiliki kebudayaan yang unik, sebagai hasil internalisasai pengalaman dan perasaan atas interaksi leluhur orang nias dengan alam sekitarnya.

Contoh rumah tradisional Nias yang tahan gempa dibangun berdasarkan pemahaman mereka dengan alam pulau Nias yang sering diguncang oleh gempa. Leluhur orang Nias mendisain rumah tradisional berdasarkan pemahaman mereka tentang alam semesta.

Bagian bawah melambangkan Laturadanö (dewa perusak), bagian tengah melambangkan Silewe (dewi pelindung) dan bagian atas melambangkan Lowalani (sang pencipta). Perbedaan ini kita bisa pahami karena sebutan atau namanya.

Bagi orang Nias, nama adalah sesuatu yang penting. Tidak hanya sebagai identitas diri tetapi juga sebagai simbol perilaku. Misalnya Si A di beri nama “Silõtõi” artinya tanpa nama. Nama ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas dirinya tetapi menyimbolkan sebuah perilaku kerendahan hati. Bukan siapa-siapa, tanpa nama.

Demikian juga halnya memberi nama khusus terhadap sebuah objek tertentu. Si pemberi nama bertujuan untuk membedakannya dengan objek yang lain. Dan selain itu di dalamnya terkandung sebuah makna.

Rumah-rumah tradisional di Nias sekalipun memiliki tipe yang sama namun diberi nama berbeda. Ada yang disebut Omo Nifolasara, Omo Nitõrõ Arõ, Omo Sebua, Omo Tuho, Bale, dan sebagainya. Pemberian nama-nama ini tidak hanya sekedar membuat yang samar menjadi jelas dan yang mirip terungkap perbedaannya, tetapi jauh melampauinya. Di dalamnya terkandung makna dan tujuan khusus yang menyimbolkan kehidupan orang yang ada di dalamnya.

Sebutan terhadap objek-objek di atas menurut Ernst Cassirer, ini disebut sebagai simbol yang dinyatakan dalam bentuk bahasa. Omo Nifolasara adalah simbol yang dinyatakan dalam bahasa Nias, dimana monumen ini menyimbolkan identitas si pemilik, menunjukkan tingkat kekuasaan, pengaruh si pemilik di wilayahnya. Demikian juga dengan nama Bale adalah sebuah kata yang digunakan untuk menyimbolkan ‘pilar perkampungan’.

Pilihan kata untuk nama objek-objek ini adalah sebuah simbol pemikiran leluhur orang Nias untuk menyatakan diri mereka, untuk menyatakan peradaban mereka. Bukan menyatakan peradaban orang lain. Demikian nama menjadi sangat penting bagi peradaban dan kemajuan kebudayaan Ono Niha. Pada nama Omo Nifolasara dan Bale terkandung nilai kearifan leluhur orang Nias.

Omo Nifolasara Desa Hilimondregeraya & Bale Desa Hiliamaetaniha

Pada sebuah buku berjudul “OMO NIHA, Perahu Darat di Pulau Bergoyang” karangan Nata’alui Duha, pada halaman xi ada satu keterangan gambar tentang rumah tradisional di Nias di desa Hilimondegeraya. Lengkapnya sebagai berikut:

Rumah Besar “Omo Nifolasara”yang diberi nama khusus ‘OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA’ di Desa Hilimondegeraya – Nias Selatan. Dibangun pada tahun 2010 oleh Tirto Foundation Jakarta, bekerjasama dengan Museum Pusaka Nias Gunungsitoli.

Pada halaman xii ada keterangan gambar tentang Balai Desa di desa Hiliamaetaniha sebagai berikut:

Balai Musyawarah Warga atau balai desa yang diberi nama khusus ‘TIRTO AMAETANIHA’ di desa Hili’amaetaniha Nias Selatan. Ruang bawah sebagai balai musyawarah, sedangkan ruang atas sebagai Kantor Kepala Desa. Dibangun pada tahun 2010 oleh Tirto Foundation Jakarta bekerjasama dengan Museum Pusaka Gunung Sitoli.

Membaca dua keterangan gambar di atas penulis melihat ada satu keanehan yang secara sengaja dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap situs-situs tersebut di atas.

Penamaan terhadap sebuah situs ditafsirkan sebagai sebuah wilayah yang dapat diinterpretasi secara personal atau oleh lembaga tertentu saja tanpa melihat kedalaman makna kearifannya. Sehingga secara serampangan kita memberi pemaknaan berdasarkan pemahaman personal ataupun institusi. Disadari atau tidak, kita menjadikan nilai kearifan lokal menjadi hak paten yang boleh dipindahkan kepada personal atau institusi tertentu.

Tentu kita sangat berterima kasih kepada Tirto Foundation Jakarta atas bantuan dan ketulusannya untuk merenovasi pusaka-pusaka yang mengalami kepunahan di Nias Selatan. Namun sangatlah disayangkan kalau sebuah situs berubah nama menjadi nama donatur.

Menjadi pertanyaan apakah pemberian nama itu adalah kehendak dari si penyandang dana atau kehendak masyarakatnya atau kehendak personal.

Omo Nifolasara adalah sebuah sebutan rumah milik Si’ulu di setiap kampung di Nias Selatan. Rumah ini juga sering disebut Omo Nitõrõ Arõ. Pada tahun 1960 muncul sebutan baru disebut Omo Sebua (rumah besar). Istilah Omo Sebua ini, sebenarnya hanya memberikan informasi perbedaan ukuran besarnya, tidak menjelaskan makna yang unik.

Sedangkan Omo Nifolasara memiliki makna yang jauh melebihi sebutan Omo Sebua. Sebutan Omo Nifolasara memiliki dimensi transenden, tersimbolkan sebuah nilai yang tidak terdapat di rumah-rumah lainnya.

Dengan menggunakan nama Omo Nifolasara, kita diajak untuk mengenal apa sebenarnya Lasara? Mengapa harus memakai Lasara, mengapa jalan utamanya lewat bawah kolong rumah. Pada Omo Nifolasara, Lasara digunakan menunjukkan satu makna simbolis bahwa di sini berdiam Lowalani, tuhan yang disembah oleh leluhur orang nias. Jadi Lasara menunjukkan hubungan transenden antara penghuni dalam rumah tersebut dengan tuhannya.

Disini harus dimengerti bahwa seorang Si’ulu dalam rumah ini menjadi penghubung antara tuhan dan seluruh warga perkampungan ini, sehingga tidak mengherankan jika Si’ulu sering menjadi ere (imam) dalam perkampungan karena tugas ini.

Pertanyaannya, apakah dengan memberi nama khusus pada omo nifolasara di desa Hilimondregeraya dengan sebutan khusus ‘OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA’ mau menunjukkan bahwa imam di perkampungan Hilimondregeraya adalah Tirto?

Penggunaan kata Omo Nifolasara atau Omo Sebua terhadap satu objek yang sama, tidak berarti maknanya juga sama. Sebutan Omo Nitõrõ Arõ memiliki dimensi penghormatan, pengakuan atas kekuasaan seseorang.

Sebutan Omo Nitõrõ Arõ memiliki perbedaan yang mendasar dengan Omo Nifolasara. Omo Nitõrõ Arõ belum tentu memakai Lasara sekalipun akses jalan utamanya melewati melawati kolong bawah rumah. Sedangkan Omo Nifolasara sudah pasti memiliki Lasara dan melawati kolong bawah rumah.

Sedangkan sebutan Omo Sebua hanya untuk membedakannya dengan rumah yang lain berdasarkan konsep besar dan kecil. Ketiga sebutan ini sekalipun memiliki objek yang sama namun maknanya sangat jauh berbeda.

Untuk memahami makna perbedaan ini, penulis mengutip pesan seorong cucu Si’ulu Saõnigeho bergelar ‘Meziwa Ndrõgõ’ di Bawõmataluo. Beliau selalu mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa tinggal di Omo Nifolasara, sekarang disebut Omo Sebua, “mae siso ba nose famasi, tobai fakhumi, sebua hosi-hosi”. Artinya tinggal di Omo Nifolasara banyak pantangannya, tidak boleh membuat keributan.

Pesan ini menunjukkan bahwa rumah ini bukanlah rumah sembarangan tetapi sebuah rumah yang harus “disucikan”. Dalam tradisi agama Kristen peringatan ini mungkin bisa dimengerti dengan cara bagaimana kita mensucikan gereja.

Hal ini sangat masuk akal karena kita harus menyadari bahwa fungsi Lasara adalah sebuah simbol yang ditempatkan di sebuah rumah pemimpin perkempungan. Fungsinya untuk berdiamnya tuhan yang mereka percayai, oleh karena itu setiap orang harus menjaga sikap dan perilakunya bila memasuki rumah ini.

Di dalam Omo Nifolasara ada sebuah kholo-kholo (semacam altar) yang digunakan untuk mempersembahkan hasil panen kepada tuhan mereka. Jadi dengan sebutan Omo Nifolasara kita bisa memahami perbedaannya dengan sebutan yang lain, dan terlebih perbedaan atas apa yang disimbolkannya.

Sebutan Bale memiliki nama lain ‘osali ndra ama’. Penggunaan kata osali menunjukkan bahwa tempat ini adalah tempat yang disucikan. Osali biasanya diartikan sebagai gereja saat ini. Jadi kita bisa memahami makna dasarnya bahwa bale adalah tempat yang “disucikan” bagi sebuah perkampungan karena fungsinya adalah untuk menata norma-norma masyarakatnya, membuat aturan-aturan yang mengikat dalam perkampungan itu sendiri.

Disini diatur hal-hal yang tidak pantas dan layak. Balai Desa adalah sebuah tempat yang memiliki sejuta makna, di dalamnya terdapat sejuta kearifan leluhur setiap kampung. Di dalamnya berdiam “roh perkampungan”, karena disini diatur dan disusun apa yang pantas dan yang dilarang. Disini dilahirkan hukum yang mengikat semua warga perkampungannya. Disini diletakkan kebajikan dan kearifan.

Kehadiran monumen ini dapat dimengerti dengan melihat balai desa di Bawõmataluo. Sebagai pembanding, bale di Bawõmataluo memiliki 4 tiang besar dan 4 ‘daro-daro” batu. Ini menandakan ada 4 pilar utama pendiri desa ini.

Di sekitarnya ditempakan tempat duduk bagi Si’ila dan Ono Mbanua. Di dalamnya dipajang ukuran-ukuran baku, afore, dan takaran emas. Di sini hukum adat dirancang dan ditegakkan. Di tempat ini perkampungan dipantau, tabu bila wanita dibawa kesini. Sehingga disain tangganya pun dibuat sedemikian rupa agar para wanita tidak menaikinya.

Simbol-simbol ini tidak boleh diganti oleh siapapun dan demi kepentingan apapun. Demikian halnya balai desa di Hiliamaetaniha, selain fungsinya sekarang ini sebagai tempat musyawarah desa, satu hal yang tidak bisa dipungkiri sekarang ini bahwa pantang dan tabu bagi seorang wanita bila dibawa di bale untuk diadili.

Melihat kasus di Hilimodregeraya dan di Hiliamaetaniha pemberian nama khusus terhadap omo nifolasara dan bale merupakan tindakan “salah kaprah” . Ini menunjukkan bahwa Pemeritah Daerah di Kabupaten Nias Selatan dan tokoh-tokoh masyarakat tidak melakukanan pengawasan atas kekayaan budaya di Nias Selatan.

Terlalu royal memberikan gelar, nama kepada sebuah situs karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman atas budaya lokal di Nias selatan. Kasus ini adalah sebuah kekeliruan yang secara laten kita digiring melepaskan identitas diri kita secara sukarela dan menyerahkannya kepada pihak lain.

Pemberian nama khusus terhadap omo nifolasara di Hilimondregeraya, yakni OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA menambah pengertian dan konsep baru yang semakin jauh dari makna aslinya.

OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA menghasilkan sebuah arti baru yaitu “ Rumah Besar Tirto Paling Selatan”. Atau bisa juga menjadi satu tipologi rumah tradisional Nias yang baru yaitu “rumah besar tipe Tirto Fondegeraya”. Atau barangkali raja (Si’ulu) Hilimondegeraya sudah digantikan oleh Tirto. Sama seperti rumah Si’ulu di Bawõmataluo yang sering disebut, Omo Laowõ atau Omo Saonigehõ.

Penggunaan sebutan Omo Sebua (rumah besar) sesungguhnya sudah jauh dari makna aslinya. Apalagi ketika ditambah embel-embel Tirto justru semakin mengaburkan jati diri rumah tradisional sekaligus mengaburkan kearifan lokat masyarakat itu sendiri.

Pada pengertian yang kedua seolah kita menambah disain yang membedakannya dari yang sebelumnya, padahal sama saja. Terkesan kita sepertinya menciptakan terminologi baru tentang Omo Nifolasara. Sedangkan pengertian yang ketiga semakin membingungkan dan meninggalkan satu pertanyaan bagi generasi muda, kelak mereka akan bertanya-tanya sungguhkah leluhur Hilimondegeraya bernama Tirto?

Pemberian nama TIRTO AMAETANIHA pada balai desa di Hiliamaetaniha sama janggalnya dengan penambahan nama Tirto pada rumah tradisional di Hilimondregeraya, membuat penulis bertanya apakah ini “nama baptis” atau “santo pelindung” balai desa Hili Amaetaniha?

Perlu kita sadari bahwa dengan memberikan istilah baru ini kita telah membelokkan label asli rumah dan balai tradisional Nias menjadi label personal atau label institusi. Entah apapun motif pemberian nama ini, entah siapa pun pencetus ide ini, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Tirto Foundation Jakarta yang bekerjasama dengan Pusaka Museum Nisa Gunungsitoli untuk mengupayakan pelestarian situs ini, pemberian nama ini menurut penulis adalah kesalahan dan kekeliruan membalas budi.

Pemberian nama OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA dan pemberian nama balai desa di Hiliamaetaniha menjadi TIRTO AMAETANIHA, secara sengaja kita telah mengiring orang-orang Nias menghilangkan identias dirinya. Upaya renovasi dan pemugaran dengan pemberian nama baptis “santo pelindung” secara tidak sadar kita telah melakukan upaya pelestarian situs sekaligus menyusupkan kepentingan personal dan institusi seolah kita melembagakan jiwa “Tulus tapi Pamrih”.

Sebuah contoh pembanding, candi Borobudur pernah direnovasi oleh Unesco, antara tahun 1975 – 1983 tapi tidak menganti nama candi Borobudur menjadi Candi Unesco Borobudur.

Saran

Mengutip kata-kata bijak dari Amada Barani, Si’ulu dari Hilisimaetanõ kepada pendeta Fries ketika misionaris Jerman itu datang ke pulau Nias. Dalam buku ‘Famatõ Harimao’ beliau mengatakan sebagai berikut:

Gumõi ine molo’õ chõu Duha (Saya akan mengikuti engkau Tuan)
Gumõi ine chõu, manerenue, chõ Yesu ( Saya akan menjadi pengikut Yesus)
Gumõi ine chõu manunõ (Saya akan bernyanyi bersamamu)
Ba lõna ine gumbunu hada namagu” (Tapi saya tidak akan melenyapkan adat istiadat leluhur saya).

Berharap semoga kita terinspirasi dengan kata-kata bijak ini, terlebih para pengelola Nias Selatan. Semoga berhati-hati memberikan sebutan-sebutan terhadap sebuah situs dan agar tidak merusak situs itu sendiri yang dapat membingungkan gerenerasi muda.

Semoga para tokoh-tokoh masyarakat, Si’ila dan Si’ulu menggunakan fungsinya untuk memberikan pandangan yang bijak seperti leluhurnya, tidak sebaliknya mendiamkannya.

Sebuah pepatah bijak yang dialamatkan kepada para orang tua, “Bõi bini’õ gafore, bõi bini’õ lauru, elunu zibohou tumbu“. Jangan sembunyikan kebenaran, jangan diam melihat kesalahan karena generesi muda akan tersesat.

Alangkah lebih indah dan elok bila nama dua objek ini ‘dibaptis’ sesuai dengan nama aslinya yang diberikan leluhur orang Nias dengan tambahan catatan kaki, “Ini dibangun atau direnovasi oleh yang bermurah hati “Tirto Foundation Jakarta” bekerjasama dengan “Pusaka Museum Nisa Gunungsitoli.”

Tidak seperti yang sekarang ini diberi nama khusus OMO SEBUA TIRTO FONDEGERAYA atau Balai desa TIRTO AMAETANIHA, terkesan “Tirtoisasi”.

*Penulis adalah Pemerhati Budaya Nias Selatan, tinggal di Tangerang.

Tags: ,

Komentari

Kalender Berita

October 2013
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031