Oleh Frederik C.H. Fau

peta nias selatan

Peta Nias Selatan | regional.coremap.or.id

Pengantar Redaksi: Masing-masing wilayah memiliki sejarah dan keunikannya tersendiri. Berikut sekilas gambaran desa Botohilitanö dan asal-usulnya yang ditulis oleh Frederik C.H. Fau. Tulisan ini bertujuan untuk memperkaya khasanah kita, tidak hanya dari segi kebudayaan atau bahasa Nias, namun juga sejarah wilayah-wilayah di pulau Nias. Redaksi menerima tulisan yang senada dengan tulisan ini. Selamat membaca.

Bila ditinjau dari aspek administrasi dan kepemerintahan, desa Botohilitanö terletak di kecamatan Fanayama (sekarang termasuk wilayah kecamatan Luahagundre Maniamölö) di kabupaten Nias Selatan. Didirikan pada tahun 1757 (± abad 17) oleh leluhur bangsawan/Si’ulu masyarakat adat desa Botohilitanö yang bernama Lafau dengan gelar adat Tuha Owasa dan Tuha Harimao. Leluhur Lafau merupakan anak dari leluhur Faulujitaögö dari desa Hilizondregeasi.

Desa Botohilitanö pada awalnya berasal dari desa Hilizondregeasi. Selain desa Botohilitanö, desa Hiliamaetaniha juga merupakan pecahan dari desa Hilizondregeasi. Jadi, kedua desa tersebut pada awal sejarahnya adalah satu desa, yaitu desa Hilizondregeasi. Penulis menggunakan istilah pecahan dan bukan pemekaran karena secara sistem administrasi dan pemerintahan desa Botohilitanö dan desa Hiliamaetaniha bukan merupakan hasil pemekaran desa, sebagaimana dimuat dan diatur dalam UU otonomi daerah, akan tetapi kedua desa dimaksud terbentuk atas dasar sejarah adat dan memiliki ikatan batin yang kuat.

Pendiri desa Hilizondregeasi tersebut adalah leluhur masyarakat adat desa Hilizondregeasi yang bernama Tuhu Luluö. Istilah bangsawan/Si’ulu dalam budaya masyarakat adat Nias Selatan Luahajiwarawara -yang sekarang disebut kota Teluk Dalam- sama dengan istilah gelar kebangsawanan lainnya yaitu Balugu.

Masyarakat adat desa Hilizondregeasi sebelumnya adalah tergolong masyarakat nomaden. Berpindah–pindahnya lokasi desa disebabkan oleh alasan-alasan tertentu, misalnya akibat perang antar desa/kampung, wabah penyakit, atau karena kemauan mengembangkan jati diri klan/rumpun kebangsawanan, yang dalam bahasa Nias disebut Nafulu Fa’a Si’ulu Niha. Perpindahan ini dilakukan dengan cara menguasai atau mendirikan suatu desa/kampung adat diluar desa sebelumnya. Menurut penuturan para narasumber, leluhur dari leluhur Tuhu Luluö sebelumnya berasal dari desa Hilisamofo sebelum akhirnya berpindah dengan mendirikan desa Hilizondregeasi. Sedangkan leluhur desa Hilisamofo merupakan keturunan dari leluhur Borodano Fau dari desa Orahili Fau.

Leluhur Tuhu Luluö memiliki beberapa turunan putra dan putri. Beberapa putri yang dimaksud yaitu Sunituha dan Röginawua. Sebagaimana tradisi masyarakat adat Luahajiwara (Teluk Dalam), disebutkan bahwa Tuhu Luluö memiliki beberapa putra.

Taögögamuri, leluhur dari desa Hilizondregeasi, adalah putra sulung. Ia memiliki seorang putra yang bernama Manönöni, yang merupakan pendiri desa Hiliamaetaniha. Kemudian Faulujitaögö, leluhur dari desa Hilizondregeasi, merupakan putra kedua. Faulujitaögö adalah keponakan dari Foutueho (paman atau dalam bahasa Nias disebut Sibaya) yang bernama Faulujitaögö dari desa Hilisimaetanö. Dalam sejarah desa Hilisimaetanö dan desa Botohilitanö -atau disebut juga desa Hilizondregeasi- ada satu peristiwa berdarah yang bersejarah yang dikenal dengan “peristiwa Luahagundre.” Pada peristiwa tersebut Foutueho (bangsawan/Si’ulu desa Hilisimaetanö) dan Faulujitaögö (bangsawan/Si’ulu desa Hilizondregeasi) tewas terbunuh dalam penyergapan secara tiba–tiba di desa Orahili Fau dan Botohösi. Yang harus dicatat dan dipahami oleh pembaca, kedua bangsawan/Si’ulu tersebut sama-sama disebut sebagai Sakao Baluaha. Keduanya memiliki ikatan pertalian darah, yakni selaku paman/sibaya dan keponakan. Kedudukan paman (Sibaya) dalam masyarakat adat Luahajiwara (Telukdalam) sangat tinggi, bahkan dapat dikatakan sebagai junjungan adat (bahasa Nias: Nifosumane Ba Hada). Leluhur Faulujitaögö memiliki seorang putra yang bernama leluhur Lafau, yang adalah pendiri desa Botohilitanö.

Helajatarö, leluhur dari desa Hilizondregeasi, adalah putra ketiga. Beliau memiliki putra dan putri. Putra sulung dari leluhur Helajatarö, yaitu leluhur Hakabadanö, bergabung dengan saudaranya Lafau di desa Botohilitanö. Keba’aro, leluhur dari desa Hilizondregeasi, merupakan putra keempat. Beliau juga memiliki putra dan putri. Putra pertama dari leluhur Keba’aro, yaitu leluhur Olegeta, bergabung dengan saudaranya Lafau dan Hakabadanö di desa Botohilitanö.

Demikian sekilas gambaran asal-usul desa Botohilitanö. Belum lengkap rasanya jika kita tidak melihat peta demografis dan geografis wilayah kecamatan Fanayama, yakni kecamatan dimana desa Botohilitanö berada. Jumlah penduduk kecamatan Fanayama adalah sebanyak 19.807 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 4.474. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 10.008 orang laki–laki dan 9.719 orang perempuan.

Kecamatan dengan luas wilayah 942,63 km² ini di sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Aramö dan kecamatan Mazino, di sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Teluk Dalam, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Maniamölö dan Samudera Hindia. Kecamatan ini memiliki 16 desa dan 48 Dusun. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah petani (80 %). Selain itu, mata pencaharian lainnya adalah sebagai nelayan (10 %), wiraswasta (8 %), dan PNS (2 %). (lcz)

*Penulis adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Selatan.

Sumber: Kantor Camat Fanayama, data tahun 2012
Narasumber :
1. Samakhoi Wau dengan Gelar Adat Tuha Sitöra.
2. Amurisi Fau dengan Gelar Adat Solagö Ewali.
3. Samasuka Fau, SE dengan Gelar Adat Salawa Harimao dan Samaeri Eho.

Editor: Lovely Christi Zega

Facebook Comments