Jenderal Sarwo Edhie Wibowo | purworejokab.go.id

Jenderal Sarwo Edhie Wibowo | purworejokab.go.id

NIASONLINE, JAKARTA – 1 Oktober. Hari yang dikenal dengan sebutan Hari Kesaktian Pancasila. Hari dimana rencana Partai Komunis Indonesia (PKI) menguasai pemerintahan melalui revolusi yang merenggut nyawa sejumlah jenderal digagalkan. Hari dimana Pancasila ditegakkan kembali sebagai ideologi negara.

Terlepas dari kontroversi peristiwa itu, namun setelah itu operasi penumpasan terhadap mereka yang dianggap anggota PKI ataupun organisasi sayapnya dilakukan. Operasi tidak hanya di Jakarta atau di Pulau Jawa. Tapi berlangsung hingga ke seluruh negeri, bahkan di pelosok. Berapa jumlah korban tewas, tidak ada data valid. Tapi yang jelas, diperkirakan ratusan ribu hingga satu juta orang.

Salah satu sosok yang menjadi figur penting dalam operasi itu adalah Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Saat itu, dia memimpin satuan elit Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini dikenal dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Sarwo Edhie sendiri, yang saat itu menjabat Komandan RPKAD (1964-1967) turun langsung memimpin pasukan di beberapa wilayah.

Pulau Nias juga punya catatan kesan dengan jenderal yang dikenal berani dan tegas tersebut. Sekitar tahun 1966, pasukan mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu tiba di Pulau Nias. Salah satu tujuan mereka adalah mencari mereka yang diduga terlibat pada aktivitas PKI di beberapa desa yang sekarang menjadi wilayah Kabupaten Nias Selatan.

Setelah melakukan pencarian di beberapa desa, mereka tiba di Desa Bawömataluo. Di desa itu, pasukan Sarwo Edhie tidak menemukan keterlibatan warga dengan PKI atau organisasi afiliasinya.

Sebaliknya, kedatangan ayah mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo tersebut ke sana justru penuh kejutan dan kesan. Dia dan pasukannya terheran-heran melihat keindahan desa Bawömataluo.

Sebagaimana tradisi masyarakat, Sarwo Edhie diterima dan disambut dengan penuh hormat. Tidak tampak suasana ‘perang’.

Memenuhi rasa ingin tahunya, Sarwo Edhie menanyakan sejarah desa Bawomataluo dan siapa saja yang berada di belakang pembangunan desa itu.

Dari situlah kemudian, jenderal kelahiran 25 Juli 1925 di Purworejo, Jawa Tengah tersebut ‘berkenalan’ dengan sosok besar yang pernah berjuang habis-habisan melawan Belanda di wilayah Telukdalam, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, Raja Saönigeho.

“Kakek menuturkan, saat itu, Sarwo Edhie kemudian menuju makam Amada Saönigeho. Di sana
Sarwo Edhie berdoa dan memberikan hormat,” ujar Marselino Fau, cucu dari Ama Fima kepada
Nias Online di Jakarta, Selasa (1/10/2013).

Tak hanya itu, seperti dituturkan tokoh Desa Bawömataluo, Waspada Wau yang saat itu berusia sekitar 10 tahun atau masih di bangku Sekolah Dasar (SD), Sarwo Edhie melakukan tindakan simbolis yang sangat berkesan saat itu.

Dia mengatakan, saking berkesannya kunjungan Sarwo Edhie itu, namanya begitu familiar bagi masyarakat desa saat itu. Dia membandingkannya dengan familiarnya nama Jokowi saat ini bagi publik.

“Saat itu Sarwo Edhie disambut dengan penuh hormat, seperti kebiasaan masyarakat kita. Dia juga diberi cinderamata. Melihat sambutan yang diterima dan rasa kagumnya, beliau lalu mengambil pisau komandonya dan memberikannya sebagai balasan setimpal,” ujar dia.

Pisau komando khas pasukan elit itu diterima langsung oleh Ama Fima yang juga cucu dari Raja Saönigeho. Pisau itu kemudian disimpan dan diletakkan sejajar dengan pedang kerajaan warisan Raja Saonigeho di Omo Sebua, Rumah Raja. Namun untuk keamanan, pisau itu sekarang ditaruh di tempat yang relatif tidak mudah dijangkau.

“Pisau itu sekarang disimpan terpisah di tempat yang agak sulit dijangkau. Saya pernah pakai pisau itu untuk asesoris pada sebuah drama Paskah di gereja. Karena saat itu saya berperan sebagai tentara Romawi,” jelas Marselino mengenang pengalamannya dengan pisau bersejarah itu.

Waspada juga menyampaikan keprihatinannya. Pasalnya, sampai saat ini, meski jasa Raja Saönigeho itu sangat besar melawan penjajah, tidak pernah ada pengakuan resmi dari pemerintah atas jasanya.

Pernah diupayakan untuk mendaftarkannya sebagai pahlawan nasional ataupun dalam bentuk pengakuan lainnya. Namun, entah kenapa, proses itu kini tidak jelas. Dia pun berharap ada upaya untuk mengangkat tokoh besar itu ke kancah nasional, setidaknya menjadi salah satu figur mewakili Nias dalam daftar para pejuang yang berjasa bagi Indonesia.

Sarwo Edhie sendiri kemudian mengakhiri karir militernya dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal (Letjen). Dia meninggal dunia pada di Jakarta pada 9 November 1989 pada usia 64 tahun. Meninggalkan seorang istri dan enam putra dan putri.

Kehadiran Sarwo Edhie, seorang pejuang nasional legendaris melengkapi daftar nama besar petinggi negeri ini yang pernah hadir di sana.

Setelah kemerdekaan, setidaknya dua wakil presiden pernah berkunjung ke sana. Yakni, Sri Sultan HB IX dan Adam Malik. Tak terhitung pejabat setingkat menteri, panglima, dan pejabat lainnya pernah menginjakkan kaki di sana. (EN)

Facebook Comments