Miniatur Pesawat NAM Air | Etis Nehe

Miniatur Pesawat NAM Air | Etis Nehe

NIASONLINE, JAKARTA – Satu lagi maskapai penerbangan meramaikan persaingan ketat di industri penerbangan nasional. Maskapai baru itu adalah NAM Airlines, yang merupakan anak perusahaan dari maskapai Sriwijaya Air.

Maskapai baru milik Chandra Lie, pengusaha asal Pangkal Pinang tersebut diarahkan menjadi feeder bagi maskapai induknya, Sriwijaya Air. Karena itu, maskapai NAM Air akan menyasar rute-rute penerbangan jarak pendek dan dengan landasan yang pendek di berbagai kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

“Dalam jangka pendek, NAM Air akan melengkapi dan mengiringi kiprah Sriwijaya Air dalam merajut kepulauandi seluruh Indonesia. Bahkan, NAM Air akan diproyeksikan untuk penerbangan ke wilayah yang lebih dalam, seperti tingkat kabupaten dan kotamadya,” jelas
Direktur Utama Sriwijaya Air Chandra Lie pada Grand Launching NAM Air di gedung Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (26/9/2013).

Sementara itu, Presiden Direktur NAM Air Jefferson Jauwena mengatakan, untuk tahap awal, NAM Air akan mengoperasikan lima unit Boeing 737-500.

Sedangkan untuk keperluan penerbangan jarak pendek dimaksud, NAM Air memesan 100 unit pesawat R-80 produksi PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang dibidani mantan Presiden BJ Habibie bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).

“Untuk memberikan pelayanan terbaik dan jangkauan penerbangan yang lebih luas, kami telah memesan 100 unit pesawat R-80. Terdiri dari 50 unit yang sudah firm. 50 unit lainnya lagi opsi,” jelas Jefferson pada penandatanganan MoU pemesanan pesawat tersebut bersama mantan Presiden BJ Habibie.

Pesawat-pesawat R-80 tersebut berkapasitas 60-80 penumpang. Memiliki teknologi yang terbaru dan bisa mendarat pada bandara-bandara dengan landasan pacu pendek yang banyak terdapat di daerah kabupaten/kota.

Pesawat-pesawat itu diperkirakan diterima pada 2018. Sementara menunggu pesawat buatan dalam negeri tersebut, pihaknya juga sedang negosiasi pembelian pesawat ukuran sedang dengan Embraer, Brazil dan ATR, Prancis.

NAM Air dijadwalkan beroperasi pada 1 Oktober 2013. Namun, jadwal itu bisa saja bergeser karena masih menunggu turunnya Air Operator Certificate (A0C) yang saat ini sudah memasuki proses tahap kedua.

Ada pun rute-rute awal yang akan diterbangi di antaranya, Jakarta – Sorong PP, Jakarta – Kupang PP, Jakarta – Pangkalpinang PP, Jakarta – Pontianak PP, Surabaya – Luwuk PP, Surabaya – Pangkalanbun PP, Surabaya – Biak PP, Surabaya – Denpasar PP, Denpasar – Waingapu PP, Denpasar – Maumere PP dan Denpasar – Kupang PP.

Dirut Sriwijaya Air Chandra Lie | Etis Nehe

Dirut Sriwijaya Air Chandra Lie | Etis Nehe

Terbang ke Nias

Sementara itu, ditanya kemungkinan peluang menerbangi rute penerbangan ke Pulau Nias, Senior Manager Sriwijaya Air Agus Soedjono mengatakan peluang itu sangat terbuka.

Sebab, kata dia, karena NAM Air difokuskan sebagai maskapai feeder atau pengumpan bagi Sriwijaya Air hal itu bisa saja dilakukan.

“Bisa saja ke sana (terbang ke Pulau Nias). Intinya, kita akan masuk hingga ke kabupaten dan kota yang ada bandaranya,” jelas dia menjawab Nias Online sebelum acara dimulai.

Seperti diketahui, salah satu rute utama Sriwijaya Air selama ini adalah Jakarta-Kualanamu (dulu Polonia, Medan). Selama ini, maskapai Lion Air telah menerapkan pola yang sama dengan mengoperasikan Wings Air untuk terbang dari Kualanamu ke Bandara Binaka, Nias. Selanjutnya, menggunakan maskapai Lion Air ke berbagai rute utama lainnya. Hingga saat ini, tinggal maskapai Wings Air yang melayari rute Kualanamu-Bandara Binaka.

Sekilas Pesawat R-80

Pesawat R-80 merupakan tonggak baru meneruskan prestasi Indonesia menciptakan pesawat sendiri seperti pernah sukses dilakukan pada saat BJ Habibie memimpin Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kini bersalin nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Untuk mewujudkan rencana itu, PT RAI yang dipimpin oleh Ilham Habibie menggandeng lima maskapai nasional. Yakni, Merpati, Citilink, Wingsair, Sky Aviation, dan Kal Star. Masukan dari kelima maskapai itu terkait kemampuan pesawat, desain interior, mesin, kargo, kokpit dan hal teknis lainnya. Sudah ada sejumlah pertemuan membahas hal itu di Bandung.

R-80 sendiri masih memeprtahankan beberapa desain N-250 yang dibuat BJ Habibie beberapa tahun lalu. Meski begitu, perbedaan di antara keduanya mencapai 70%. Di antaranya, pada ukuran badan pesawat yang lebih besar, jumlah penumpang yang mencapai 80 orang, mesin dan sistem pengendalian.

Konsumsi bahan bakar R-80 juga diklaim lebih hemat dibanding pesawat sekelas, bahkan hingga 50%.

Dari sisi harga, R-80 dihargai sekitar US$500-600 juta. Jauh lebih murah dibanding pesawat buatan Eropa dan Amerika Serikat.

Harapannya, dengan terbangnya pesawat R-80 itu, tidak hanya menjadi produk dalam negeri yang membanggakan, tapi juga ikut mengembalikan kejayaan PT DI sebagai pembuat pesawat terbang yang telah dikenal dunia selama ini. (EN)