Prof. Ir. Oetarjo Diran | IST

Prof. Ir. Oetarjo Diran | IST

NIASONLINE, JAKARTA – Gemilangnya prestasi dunia penerbangan Indonesia berpuluh tahun lalu, sebelum krisis ekonomi 1998, tidak lepas dari banyaknya anak bangsa ini yang memiliki kemampuan mumpuni.

Bahkan di Asia Tenggara, sampai saat ini, Indonesia masih tercatat sebagai satu-satunya negara yang memiliki pabrik pembuatan ataupun perakitan pesawat.

Namun, berbicara mengenai para tokoh di balik kemajuan itu, tidak banyak figur yang mudah diingat publik. Publik biasanya hanya mengenal BJ Habibie. Tentu saja itu tidak salah. Beliau memang tokoh hebat di sektor itu.

Tapi sejatinya bukan cuma BJ Habibie. Sejumlah pakar terlibat pada lingkar inti pengembangan industri penerbangan nasional melalui Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) yang kini bersalin nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama BJ Habibie. Salah satu di antaranya adalah Prof. Ir. Oetarjo Diran.

Namun, Guru Besar yang juga pendiri Teknik Penerbangan di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1970-an tersebut telah menghadap Tuhan kemarin, Selasa (17/9/2013) petang. Beliau meninggal di RS Siloam Hospital, Jakarta akibat stroke ringan yang menyebabkan kondisi kesehatannya menurun dalam 2 bulan terakhir.

Setelah disemayamkan di rumah duka di Menteng, Jakarta, Rabu (18/9/2013) subuh tadi jenazah dibawa dan disemayamkan di Aula Timur ITB. Selanjutnya, dibawa lagi ke Bekasi untuk dimakamkan sesuai permintaan beliau.

Beliau meninggalkan istri R.A. Joni Pratiwi Soemitro yang dinikahinya pada 1968 dan seorang putrid Katja Rachmiana Diran.

Perancang Pesawat Jenis CN

Pria kelahiran Ciamis, 20 Februari 1934 dan akrab dipanggil Diran tersebut awalnya diharapkan ayahnya, M. Diran menjadi dokter, seperti profesinya. Namun kenyataannya, Diran lebih tertarik dengan dunia penerbangan, bahkan sejak masih kecil.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA 1 Budi Utomo, beliau mengikuti ikatan dinas dari pemerintah untuk belajar teknik penerbangan di Technische Hogeschool Delf, Belanda.

Lima tahun kemudian, pulang ke Indonesia dengan gelar Insinyur penerbangan. Langsung mengabdi di Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan.

Lalu, pada 1960-1961, mengambil gelar Master of Science in Aerospace Engineering di Purdue University, Amerika Serikat. Pulang dari Amerika Serikat, langsung bergabung dengan ITB.

Di sana, pada 1961, beliau langsung mendirikan jurusan teknik penerbangan. Kemudian, peraih penghargaan spesial Life Cycle Award dari Persatuan Insinyur Indonesia tahun 1993 itu pernah mengepalai Theoretical Aerodynamics Group, Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) pada 1968.

Pesawat CN-235 milik Merpati Nusantara Airlines | Wikipedia.org

Pesawat CN-235 milik Merpati Nusantara Airlines | Wikipedia.org

Bermula dari ajakan Prof BJ Habibie, beliau kemudian bergabung dengan Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini PT Dirgantara Indonesia).

Di situ beliau menjabat sebagai Chief Design Engineer. Tugasnya, membuat pesawat terbang komuter bermesin turboprop dengan 35 penumpang, CN-235. Itu dilakoninya selama 1978 hingga 1984.

Hasilnya, pesawat-pesawat itu sempat digunakan maskapai Merpati Nusantara Airlines untuk menerbangi daerah-daerah terpencil, termasuk Pulau Nias beberapa tahun lalu. Pesawat-pesawat sejenis juga digunakan oleh TNI.

Nama beliau mulai dikenal publik ketika menjadi Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selama 1994-2004. Dalam masa jabatannya, penyandang Bintang Jasa Utama RI tahun 1994 itu menangani kecelakaan pesawat Airbus 330 Garuda di Sibolangit, Sumatera Utara pada 1997. Juga kasus jatuhnya Boeing 737 Silk Air di Sungai Sungsang, Palembang pada tahun yang sama.

Selain di ITB dan KNKT, beliau juga pernah terlibat aktif dalam tuas-tugas di TNI AU, pengembangan roket LAPAN/BPPT, ICAS (International Council for Aeronautical Sciences), dan terakhir DSKU (Dinas Sertifikasi dan Kelaikan Udara).

Kritis, Tegas, Rendah Hati

Bagi yang tidak mengenalnya, pasti akan kecele bila baru bertemu. Posturnya yang kecil dan ‘merakyat’ membuat tidak mudah mengidentifikasinya sebagai orang penting. Namun, bisa juga ‘jantungan’ bila mendengar penjelasan kritisnya.

Beliau sangat Kritis dan tegas. Di ITB dia dikenal sebagai ‘dosen killer.’ Seorang mantan muridnya juga menyebutnya sebagai ‘provocative educator.’ Tidak akan membiarkan lawan bicara melenggang dengan kesalahan berpikirnya kalau sedang berdiskusi soal dunia penerbangan. Tak peduli, meski di tengah wawancara serius, dia akan memotong untuk memberikan ‘kuliah singkat’ guna meluruskan pertanyaan wartawan.

Penulis pernah berdebat kecil dengan beliau. Saat itu, ketika masih menjadi wartawan di harian ekonomi nasional di Jakarta, mewawancarainya melalui saluran telpon.

Entah karena beliau sudah lelah atau kesal dengan berbagai pemberitaan, ketika saya memulai pertanyaan, beliau langsung menyergah. ‘Kuliah singkat’ pun berlangsung. Tidak hanya itu, kritikan tajam yang disasarkan ke media secara bertubi-tubi ditumpahkan semuanya kepada saya.

Wajar bila beliau mencak-mencak dan ‘sensitif’. Saat itu, selama 2006-2008 terjadi banyak kecelakaan transportasi. Saat itu, berita kecelakaan berbagai moda transportasi, khususnya pesawat sangat ‘seksi’. Sayang sekali, menurut beliau, banyak wartawan terjebak pada pemahaman yang tidak sesuai konteks dunia penerbangan sehingga pertanyaan dan berita yang muncul banyak salah. Beliau sangat marah dengan keadaan itu.

Bagi beliau, hal itu tidak boleh terjadi. Sebab, menurut beliau, kesalahpahaman para wartawan akan menyebabkan terjadinya ‘sesat pikir’ di masyarakat mengenai dunia penerbangan. Risikonya, industri penerbangan bisa hancur karena kehilangan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional. Dan menurut beliau, wartawan dan media harus bertanggungjawab untuk itu.

Meski kaget dan sempat kesal karena sedang dikejar deadline, saya berusaha memaklumi beliau. Saya sendiri bukanlah orang baru meliput di sektor transportasi saat itu. Saya sengaja memilih beliau sebagai narasumber untuk mendapatkan jawaban yang benar sekaligus meluruskan penjelasan-penjelasan menyimpang yang beredar di media massa.

Setelah dengan sedikit ngotot menjelaskan tujuan saya, beliau malah langsung tertawa terbahak-bahak. Dari seberang sana, sepertinya beliau merasa lucu telah terlanjur ‘marah-marah’ kepada saya. Setelah itu, wawancara mengalir begitu rupa. Banyak ilmu saya dapatkan. Tidak sekedar berita.

Seminggu kemudian, kami bertemu di sebuah seminar tentang keselamatan penerbangan di sebuah hotel di Jakarta. Saya menyambanginya dan kasitahu lagi kalau saya yang menelpon beberapa hari lalu dimana beliau ‘marah-marah.’ Lagi-lagi beliau tertawa terbahak sambil menepuk-nepuk pundak saya. Kami pun duduk semeja, berbincang akrab. Sangat wajar. Tanpa rasa sungkan dan canggung.

Saya mengenal beberapa orang yang menjadi muridnya. Mereka bahkan memanggilnya seolah ayah kandung mereka. Beliau bukan cuma pakar. Juga seorang dengan sisi humanis yang kuat. Bertemu beliau, tidak ada perbedaan. Seolah-olah sedang bicara dengan anak atau cucunya.

Satu hal penting. Dia sangat peduli dengan masa depan industri penerbangan Indonesia. Karena itu, dia selalu bersuara keras agar semua pihak, dan terutama pemerintah bersikap tegas soal itu.

Indonesia pernah jaya. Itu pertanda Indonesia mampu. Dan beliau adalah saksi hidupnya. Melihat beliau, seperti melihat masa depan Indonesia yang kini dibiarkan terkatung-katung.

Kini, Indonesia kehilangannya. Menambah kehilangan sebelumnya dimana banyak anak-anak bangsa ini terpaksa mengadu nasib dan dimanfaatkan negara-negara lain.

Selamat jalan Pak Diran. Kekritisan dan ketegasan Bapak untuk Indonesia yang lebih maju, di bidang dirgantara, akan selalu kami kenang. Bahwa Indonesia tidak hanya memiliki BJ Habibie, tapi Pak Oetarjo Diran juga. (Etis Nehe)

Facebook Comments