861208_10201771634280581_1856131656_oNIASONLINE, JAKARTA – Hasil riset tentang Bawömataluo yang digelar oleh Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Jepang sudah memasuki tahap final. Rencananya, hasil riset tersebut akan diserahkan langsung kepada Pemda Nias Selatan dan masyarakat Bawömataluo.

“Hasil risetnya akan diserahkan ke Pemda dan masyarakat. Rencananya besok, tapi kami masih menunggu kepastian jadwal Bupati karena kabarnya masih di luar kota,” ujar Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM sekaligus menjadi ketua Tim Jepang-UGM Yoyok Wahyu Subroto kepada Nias Online, Selasa (17/9/2013).

Saat dihubungi, Yoyok sedang berada di Desa Bawömataluo bersama tim yang dipimpinnya yang sebagiannya berasal dari Jepang. Beberapa anggota tim baru akan tiba besok. Mereka akan berada di Nias Selatan hingga Jum’at (20/9/2013).

Dia menjelaskan, hasil riset itu sekaligus menjadi embrio masterplan pengembangan pariwisata di Desa Bawömataluo.

Meski begitu, jadi tidaknya dan seperti apa masterplan itu nanti, sangat tergantung masyarakat Bawömataluo maunya seperti apa. Selain itu, dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan juga sangat menentukan.

“Yang jelas semuanya itu sangat tergantung kepada masyarakat Bawömataluo dan Pemkab Nias Selatan. Tanpa terlibat, susah. Toraja juga begitu, kalau diam saja, ya tidak bisa naik peringkat. Harus ada usaha dari masyarakat dan pemda. Karena nanti masterplan yang kita siapkan harus dikoreksi masyarakat. Kita tidak bisa menentukan, tapi masyarsakat,” jelas dia.

Dia menambahkan, pada November 2013, pihaknya akan datang kembali. Sekaligus membawa dan melatih para petugas dari Badan Perlindungan Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim ini sendiri telah mulai bekerja pada Agustus 2011. Tim tersebut fokus untuk menyiapkan dukungan kajian ilmiah dalam rangka memperjuangkan penetapan Desa Bawömataluo sebagai warisan dunia (world heritage) di Unesco, PBB. Mereka telah beberapa kali datang bersama para ahli dari UGM maupun dari Jepang. Riset itu sendiri berlangsung selama tiga tahun atau berakhir pada tahun ini. (EN)

Facebook Comments