Kapuskom Publik Kemenhub Bambang S Ervan | IST

Kapuskom Publik Kemenhub Bambang S Ervan | IST

NIASONLINE, JAKARTA – Meski merenggut delapan nyawa, kecelakaan kapal atau lebih tepatnya perahu mesin tempel di perairan Pulau Sipika, Kepulauan Batu, Nias Selatan tidak akan diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“KNKT tidak mengirimkan tim investigasi karena bobot kapal di bawah 100 GT (gross ton). Investigasi diserahkan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) setempat,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada Nias Online, Senin (9/9/2013).

Dia menjelaskan, berdasarkan laporan Posko Pengendalian (Poskodal), pada Jum’at (6/9/2013) perahu mesin tempel 15 PK berangkat pada pukul 13.20 wib. Perahu tempel milik Afriman Laso tersebut menuju Pulau Sibaranun.

Sekitar pukul 15.10 Wib, perahu mesin tersebut berangkat kembali dari Sibaranun menuju Pulau Sipika. Setelah sekitar 30 menit berlayar, perahu mengalami cuaca buruk berupa hantaman ombak sehingga perahu dan penumpang tenggelam. Akibatnya, saat itu lima penumpang meninggal, empat selamat dan tiga orang dinyatakan hilang.

Namun, tiga korban yang hilang tersebut telah ditemukan pada Minggu (8/9/2013) sore dalam kondisi meninggal. Dengan demikian, total korban meninggal sebanyak delapan orang.
Lima jenazah yang lebih awal ditemukan sudah dievakuasi ke Medan dan ke Telukdalam, Nias Selatan. Sementara tiga lainnya, yang baru ditemukan kemarin, hari ini direncanakan dievakuasi ke Medan dan ke Nias Selatan.

Namun, sore ini evakuasi ke Telukdalam terganggu karena kapal balik ke Pelabuhan Pulau Tello karena dihadang ombak besar. Sedangkan evakuasi jenazah ke Medan belum bisa dilakukan karena helikopter yang mengevakuasi belum juga tiba karena faktor cuaca. (EN)

Facebook Comments