Desa Bawömataluo | www.kompas.com

Desa Bawömataluo | www.kompas.com

NIASONLINE, JEPANG – Nihon Kenchikku Gakkai atau Forum Seminar Arsitektur se-Jepang menjadikan masa depan Desa Bawömataluo sebagai bagian dari materi yang didiskusikan dalam rangkaian kegiatannya sepanjang Jum’at (30/8) sampai Minggu (1/9/2013).

Bukan tanpa alasan Desa Bawömataluo jadi referensi dalam acara bergensi yang diikuti oleh sekitar 3.000 akademisi dan arsitek seluruh Jepang tersebut.

Sejak Agustus 2011 lalu, belasan pakar Jepang, bersama pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) telah melakukan serangkaian riset di Desa Bawömataluo. Riset mereka, salah satunya, sebagai bahan untuk memperjuangkan desa itu menjadi warisan dunia di Unesco, PBB.

Dr. Yoyok Wahyu Subroto, Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM sekaligus menjadi ketua Tim Jepang-UGM tersebut.

Dr. Yoyok juga yang memaparkan materi terkait Desa Bawömataluo pada acara yang digelar di University of Hokkaido, Sapporo, Jepang tersebut. Lalu, apa pertimbangan menjadikan Desa Bawömataluo sebagai fokus bahasan di seminar itu?

“Bawömataluo termasuk salah satu the living culture monument (monumen hidup kebudayaan) ‘tua’ di dunia yang masih tersisa dan dimiliki oleh Indonesia khususnya Nias Selatan. Selain itu, juga memiliki identitas budaya yang jelas, yang ditandai oleh budaya megalith yang masih ‘hidup’, dan rumah-rumah yang masih secara konsisten dihuni,” ujar Yoyok melalui pesan singkat kepada Nias Online, Jum’at (30/8/2013).

Namun, kata dia, meski memiliki keunikan yang termasuk langka, kini desa itu juga dalam ‘ancaman.’

“Di sisi lain, kondisinya cukup mengkhawatirkan, baik karena ancaman alam (bencana alam, umur bangunan) maupun oleh ancaman sosial ekonomi (kurangnya perhatian pemerintah, kurangnya dana perbaikan, keinginan masyarakat untuk mengganti menjadi rumah ‘modern’) sehingga keasliannya terancam,” jelas dia.

Dia menambahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, laju perubahan fisik bangunan atau laju ‘hilangnya’ bangunan rumah tradisional di Bawömataluo adalah 2 bangunan per tahun.

“Ini harus dihentikan atau pada saatnya nanti Bawömataluo hanya tinggal kenangan,” tegas dia.

Terkait Desa Bawömataluo, jelas dia, terdapat lima materi paparan. Yakni, materi I terkait kondisi struktur dan konstruksi bangunan tradisional. Materi II terkait manajemen ‘branded’ pariwisata Bawömataluo.

Kemudian, materi III terkait kebudayaan Nias Selatan khususnya Bawömataluo. Materi IV terkait kondisi lansekap alam Bawömataluo. Dan materi V terkait bangunan Omo Sebua. (EN)

Facebook Comments