Ombak di Pantai Sorake | Mark Flint

Ombak di Pantai Sorake | Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Filemon Laia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika mendengar Kabupaten Simeulue akan menggelar kompetisi selancar (surfing) internasional.

Sedih bercampur kesal itu bukan karena tidak senang daerah di Provinsi Aceh itu akan menghelat acara internasional itu. Tapi karena hal serupa tidak bisa digelar di Pantai Sorake/Lagundri meski memiliki ombak yang sudah diakui dunia lebih dahulu.

Pria kelahiran Lagundri dan punya usaha wisata di pantai itu mengaku pernah berada di Simeulue usai bencana tsunami lalu. Menurut dia, di daerah itu hanya satu spot yang baik untuk selancar.

“Saya pernah di Simeulue itu. Saya tahu spot selancar di sana hanya satu yang bagus. Tapi, itu masih jauh di bawah ombak di Pantai Sorake. Tapi, mereka bisa menggelar kompetisi internasional di sana. Kenapa Pantai Sorake/Lagundri tidak bisa melakukannya. Seperti apa tanggungjawab pemda dalam hal ini?” ujar Filemon kepada Nias Online saat merespons pemberitaan kegiatan surfing di Simeulue itu, Rabu (21/8/2013).

Menurut dia, ketiadaan aktivitas kompetisi saat ini di Pantai Sorake/Lagundri saat erat dengan kebijakan Pemerintah Daerah Nias Selatan (Nisel).

“Pemda Nisel terkesan tidak mau peduli dengan daerah pariwisata. Termasuk Pantai Sorake/Lagundri. Ada kesan untuk mematikan kawasan wisata ini,” tegas dia yang saat itu sedang bersama dengan teman-temannya para peselancar lokal di Pantai Sorake/Lagundri.

Dia menjelaskan, ketidakpedulian Pemda Nisel itu bisa dilihat dari beberapa hal. Di antaranya, pembiaran penghancuran pantai dengan membiarkan pengambilan pasir secara massif dan sampai saat ini tidak teratasi.

Dia mengatakan, penambangan pasir secara massif selama bertahun-tahun di pantai itu kini mulai membawa akibat buruk. Selain memengaruhi kualitas ombak laut, juga menyebabkan pantai tidak lagi nyaman untuk dilewati dan pohon-pohon kelapa bertumbangan.

“Dulu pantai di arah Lagundri itu bisa untuk bermain bola atau kegiatan bersantai lainnya. Sekarang sudah tidak bisa,” kata dia.

Jualan Saat Perjuangan Pemekaran

Dia juga mengingatkan, saat memperjuangkan pemekaran Kabupaten Nisel lebih 10 tahun lalu, salah satu ikon yang diangkat sebagai tumpuan harapan adalah pariwisata, termasuk Pantai Sorake/Lagundri.

“Dulu pada saat pemekaran, salah satu ikon yang diangkat adalah pariwata. Tapi sampai saat ini pemda tidak punya masterplan memajukan pariwisata. Padahal, ketika pariwisata jalan, PAD juga akan jalan. Dulu ikon parisawata tapi sekarang dibiarkan. Jadi kita minta pemerintah kembali beri perhatian khusus pada pariwisata, dan terutama pantai sorake,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah Mentawai, giliran Kabupaten Simeulue akan menggelar kompetisi surfing internasional pada 22-24 Agustus 2013. Dua daerah yang bertetangga dengan Pulau Nias itu kita melaju pesat mempromosikan potensi wisata baharinya menjadi destinasi internasional.

Sebaliknya, Pantai Sorake/Lagundri yang telah lama mendunia kini ‘terlantar’ tanpa kegiatan, bahkan level lokal sekalipun. Bahkan, dua tahun lalu, Pemda Nisel justru membatalkan sebuah agenda kompetisi internasional yang sebelumnya sudah dijadwalkan dan telah dilakukan persiapannya.

Plt Kadis Budpar Nisel Faböwösa Laia yang diminta konfirmasi oleh redaksi, sampai berita ini ditayangkan, belum memberikan tanggapannya. (EN)

Facebook Comments