Aksi Mark Flint di Pantai Bawa, Kepulauan Hinako, Nias Utara. Mark mengaku menemukan ombak di pulau itu pada 1981. | Koleksi Mark Flint

Aksi Mark Flint di Pantai Bawa, Kepulauan Hinako, Nias Utara. Mark mengaku menemukan ombak di pulau itu pada 1981. | Koleksi Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Nuansa muram dan suram terus membayangi wajah Pantai Sorake/Lagundri. Tidak ada sentuhan pembangunan maupun promosi.

Turis yang datang pun sangat sedikit. Ada kesan kalau saat ini destinasi wisata bahari yang sampai saat ini masih melambungkan nama Pulau Nias di level internasional itu kini tampak sekarat.

Tidak ada kompetisi lagi di sana selama beberapa tahun ini. Suasana pantainya pun tidak lagi menarik. Tergerus kerusakan akibat penambangan pasir ilegal secara massif selama beberapa tahun terakhir.

“Sayang sekali Simeulue sudah jadi (akan gelar kompetisi surfing internasional, red). Pantai Sorake/Lagundri tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Mark Flint, seorang pemerhati surfing di Pantai Sorake/Lagundri kepada Nias Online, Rabu (21/8/2013).

Warga Australia yang telah menghabiskan banyak waktunya selama puluhan tahun menjajal berbagai ombak di KepulauanPulau Nias itu mengatakan, Pantai Sorake/Lagundri telah berpengalaman menggelar kompetisi surfing internasional. Sampai pelaksanaan terakhir beberapa tahun lalu, di pantai itu, kata dia, telah digelar 7 kali kompetisi internasional.

“Jadi kalau mau gelar kontes internasional di Pantai Sorake/Lagundri, semua sudah siap melaksanakannya. Punya pengalaman. Cuma, sepertinya dukungan dari pemerintah minus,” jelas dia.

Belajar ke Simeulue

Menurut dia, kalau pemerintah daerah Nias Selatan (Nisel) ingin menggelarnya lagi dan mulai melakukan persiapan, dalam dua tahun mendatang, kompetisi internasional sudah bisa digelar lagi di Pantai Sorake/Lagundri.

Dia juga memberikan masukan penting untuk Pemda Nisel, khususnya Dinas Pariwisatanya. Di antaranya, dengan mengirimkan perwakilan ke kontes surfing di Simeulue untuk belajar langsung pelaksanaannya.

“Kalau mereka tidak tahu bagaimana melakukannya, mereka bisa memanfaatkan acara di Simeulue itu. Pergi ke sana dan tonton pertandingannya sambil belajar cara dan proses pelaksanaannya,” jelas dia.

Di acara itu, kata dia, perwakilan dari Pemda Nisel bisa berkenalan dengan bos promotr “Asian Surfing Circuit” Titi Jabrik yang kecewa dengan pembatalan Nias International Surfing Championship” 2011.

Pria yang telah menjajal hampir semua spot selancar di Kepulauan Nias, mulai dari Pulau-Pulau Batu hingga Toyo Lawa di Nias Utara tersebut mengatakan, akibat pembatalan kompetisi itu dan tidak adanya program yang jelas dalam kelanjutan pengembangan pertandingan selancar, para sponsor dan promotor di Asian Surfing Circuit telah memasukkan Nisel dalam kategori “not reseptive at the present time.”

“Dinas terkait di Pemda Nisel disarankan belajar mengenai “activity planning and development” untuk memajukan sumber daya alam dan pariwisata dengan berkonsultasi dengan orang-orang yang berkompeten. Termasuk menjalin hubungan kembali dengan pimpinan organisasi Asian Surfing Circuit supaya Nisel bisa masuk daftar dan membuat persiapan untuk memenuhi persyaratan mengikuti kejuaraan ASC terkait. Mudah-mudahan saja tidak hilang momentum,” harap dia. (EN)

Facebook Comments