Ombak bertingkat di Pantai Sorake | Mark Flint

Ombak bertingkat di Pantai Sorake | Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Kehebatan ombak di Pantai Lagundri dan Sorake, Nias Selatan (Nisel), sudah mendunia. Bahkan, jauh sebelum adanya berbagai teknologi informasi yang memudahkan promosi saat ini.

Namun, sayang beribu sayang, pantai itu kini tampak tak lebih seperti pantai lainnya. Sepi, dan nyaris tanpa sentuhan pembangunan dan promosi. Kecuali yang terus dilakukan oleh para pengusaha wisata di pantai itu, dengan segala keterbatasan mereka demi bertahan hidup.

Popularitasnya bertahun-tahun lalu tampaknya bakal jadi sekedar kenangan saja. Sampai saat ini, turis yang datang ke sana, terutama turis asing sangat sedikit. Acara-acara pendukung berupa agenda kompetisi baik lokal, nasional hingga internasional tidak pernah lagi terdengar. Bahkan terakhir, kompetisi internasional yang telah diagendakan digelar pada Juni 2011 justru dibatalkan oleh Pemda Nisel.

Pernah pada akhir 2011, sekelompok pemuda di pantai itu menggelar kompetisi lokal. Selain untuk menunjukkan eksistensi mereka, juga sekaligus menyindir Pemda Nisel yang membatalkan acara itu.

Tidak hanya itu, Pantai Lagundri/Sorake juga kini berada dalam ancaman. Penambangan pasir di sepanjang terus terjadi secara masif. Pemda Nisel pun tampak tidak berdaya mengatasinya.

Kontras dengan apa yang terjadi di Pantai Sorake/Pantai Lagundri, kini daerah-daerah di sekitar Pulau Nias yang semula tidak dikenal sebagai lokasi surfing, justru gencar memromosikan diri menjadi lokasi surfing terbaik, bahkan dengan klaim, kelas dunia.

Dulu, Kepulauan Mentawai dulunya tidak ada apa-apanya. Tapi, kini, telah jauh meninggalkan Pantai Sorake/Pantai Lagundri sebagai lokasi pilihan untuk berselancar. Pada 21-29 April 2013 lalu, di daerah yang pernah disapu tsunami itu, digelar event internasional, Mentawai International Pro Surfing Competition.

Kompetisi yang diikuti 16 peselancar luar negeri itu ternyata merupakan agenda tahunan sejak 2011 dengan tujuan utama menggaet para wisatawan ke wilayah itu.

Tak lama berselang, bulan ini, tepatnya pada 22-24 Agustus 2013, giliran pemerintah Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh menggelar acara serupa.

Mengusung nama Aceh International Surfing Championship 2013, acara itu digelar dengan target, memperkenalkan wilayah itu sebagai gerbang wisata dunia, terutama di sektor bahari. Simeulue ditargetkan jadi ikon wisata bahari di Indonesia.

“Aceh International Surfing Championship 2013 adalah sebuah program untuk mendukung Visit Aceh 2013. Dengan 23 kabupaten, Aceh memiliki banyak lokasi wisata yang potensial. Salah satunya adalah wisata pantai dari barat ke selatan Aceh, dengan ombak dan pasirnya yang sangat indah,” ujar panitia seperti dikutip dari situs resmi acara itu, www.aeschampionship.com, Rabu (21/8/2013).

Dijelaskan juga, acara itu sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk memulihkan citra pariwisata Aceh pasca konflik dan tsunami. Juga disebutkan, acara itu merupakan program dari para pemuda Aceh yang memberikan perhatian pada pariwisata Aceh di bawah naungan pemerintah Aceh dan kantor Dinas Pariwisata Aceh.

Acara Aceh International Surfing Championship 2013 itu juga disponsori oleh Bank Rakyat Indonesia. Tentu saja, keseriusan pemerintah dan potensi yang ada menjadi daya tarik juga bagi para pelaku usaha untuk memberikan dukungannya.

Mentawai sudah, Simeulue segera melaksanakannya. Kapan Nisel dan kabupaten lainnya yang memiliki potensi serupa akan melakukannya? Kapan para kepala daerah lainnya di Pulau Nias memberi perhatian serius untuk ‘menjual’ potensi wisata baharinya yang sebenarnya lebih dulu mendunia dibanding kedua daerah itu?

Kalau kedua daerah itu bisa mengklaim potensi mereka berkelas dunia, mengapa potensi wisata di Pulau Nias yang sudah lebih dulu berkelas dunia dan mendunia itu kini dibiarkan seperti barang rongsokan?

Semoga saja situs-situs wisata di Pulau Nias tidak segera menjadi sekedar kenangan. Lalu, hilang dari peredaran. (EN)

Facebook Comments