Bandara Kualanamu | Etis Nehe

Bandara Kualanamu | Etis Nehe

NIASONLINE, JAKARTA – Wajah Wakil Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi sumringah. Rona puas dan lega menyelimuti wajahnya menyaksikan kemegahan Bandara Kualanamu menghadiri peresmian operasionalnya pada 25 Juli 2013.

Pasangan Gubernur Gatot Pujo Nugroho periode 2013-2018 itu bahkan rela bergadang bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (AP II) Tri S Sunoko di fasilitas baru pengganti Bandara Polonia itu.

Sebelumnya, di Bandara Polonia, Tengku Erry juga hadir pada seremoni penutupan Bandara Polonia untuk penerbangan sipil dengan menyambut para awak pesawat dan penumpang penerbangan terakhir di bandara itu. Selanjutnya, Bandara Polonia bersalin nama menjadi Bandara Soewondo dan dikelola TNI-AU.

Usai melepas penerbangan perdana dari bandara itu, dalam jumpa pers bersama di ruang tunggu keberangkatan domestik, Tengku Erry menyatakan keharuannya.

“19 tahun kami menanti bandara ini,” ujar dia yang saat jumpa pers itu duduk bersebelahan dengan Dahlan. Dia pun mengakui, kehadiran bandara baru itu akan menjadi magnet baru investasi di Sumut.

Tengku Erry menjelaskan, pihak Pemprov Sumut telah mulai melakukan pembebasan lahan sejak 1994. Bukan pekerjaan mudah. Selain karena urusan pertanahan yang memang ribet, juga butuh biaya yang sangat besar.

Adapun pembangunan fisik bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta itu menggunakan dana APBN dan juga dana internal AP II dengan total investasi sekitar Rp 5,8 triliun.

Tengku Erry pantas sumringah dan berbangga. Sejatinya, tidak hanya dia. Juga rakyat Sumut patut berbangga dengan kehadiran salah satu infrastruktur vital transportasi tersebut. Tentu saja, rakyat Kabupaten Deliserdang yang akan paling banyak mendapatkan manfaat dari kehadiran bandara itu.

Strategis di Asia

“Bandara Kualanamu itu akan menjadi yang terbesar, bahkan di Asia. Kita siapkan untuk jadi hub internasional agar bisa bersaing dengan Bandara Changi, Singapura dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA),” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Budhi Muliawan Suyitno saat masih menjabat beberapa tahun lalu.

Di masa jabatan pejabat yang terkenal tegas itu juga, pembangunan bandara yang sempat terkatung-katung itu digenjot. Saat itu, Jusuf Kalla (JK) juga masih menjabat sebagai Wakil Presiden.

JK, dengan gaya khasnya, ‘menggebrak’ agar pembangunan bandara itu segera dimulai, menindaklanjuti ground breaking yang dilakukannya pada 2006. JK juga beberapa kali melakukan ‘sidak’ saat pembangunan berlangsung untuk memastikan proyek itu berjalan sesuai harapan.

Konferensi Pers di Bandara Kuala Namu | Etis Nehe

Konferensi Pers di Bandara Kuala Namu | Etis Nehe

Budhi menjelaskan, pemilihan wilayah Kualanamu di Deliserdang itu, bukan hanya karena ketersediaan lahan yang luas. Tapi juga karena kestrategisannya dalam ‘perang’ industri penerbangan di regional Asia Tenggara dan internasional.

Sumut, sebagai daerah paling maju di luar Jawa di Pulau Sumatera memang menjadi lumbung utama industri penerbangan di wilayah barat. Baik untuk penerbangan domestik maupun regional dan internasional.

Sumut dengan Bandara Kualanamunya, kini berhadap-hadapan dengan Changi dan KLIA. Berpadu dengan spesifikasinya yang jauh lebih besar, maka Bandara Kualanamu otomatis menjadi lawan setara dengan dua bandara negara jiran tersebut yang sampai saat ini masih menjadi favorit bandara transit penerbangan internasional.

Ya, dengan kapasitas bandara yang besar, kini Bandara Kualanamu hadir sebagai alternatif. Ke depan, sesuai rencana, akan diarahkan merebut posisi bandara transit internasional dari Changi dan KLIA. Makanya, dalam pengoperasiannya, AP II tidak tanggung-tanggung mencari partner. Yakni, menggandeng Incheon International Airport Corporation, pengelola Bandara Incheon, Korea Selatan yang selama bertahun-tahun ini jadi bandara terbaik di dunia.

Itu berarti, akses turis dan perdagangan internasional melalui Sumut ke depan akan sangat besar. Sumut, dengan infrastruktur baru tersebut kini setidaknya maju selangkah menempatkan diri sebagai daerah tujuan investasi. Itu juga berarti, para turis mancanegara kini bisa dengan mudah mengakses Sumut dan kekayaan destinasi wisatanya tanpa harus transit di kedua negara itu.

Peluang Kepulauan Nias

Lalu, apakah ada manfaat kehadiran Bandara Kualanamu tersebut bagi Kepulauan Nias? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak.

Sebagai bagian dari Provinsi Sumut, sejatinya Kepulauan Nias akan turut menikmati kue kemajuan karena kemudahan akses tersebut. Lokasinya juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu jam penerbangan lanjutan saja.

Itu berarti, kekayaan destinasi wisata di Kepulauan Nias juga kini dan ke depan akan lebih mudah dijangkau dengan kehadiran bandara itu. Idealnya, jumlah turis pun akan lebih banyak dari sebelumnya yang memang sudah sangat sedikit.

Tanda-tanda ke arah itu sudah mulai kelihatan. Saat bertemu dengan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Bandara Kualanamu pada hari peresmian perdana itu, dia mengungkapkan keinginan untuk terbang ke Kepulauan Nias.

Jelang akhir tahun ini, pihaknya akan mulai menerima dan mengoperasikan 18 pesawat turboprop ATR 72. Pesawat itu sejenis dengan yang dioperasikan oleh Wings Air saat ini. Bahkan, ada informasi kalau Wings Air berencana menambah frekuensi penerbangan ke Bandara Binaka.

Binaka - kualanamuTapi, itu semua bisa juga tidak akan jadi apa-apa. Cuma mimpi di siang bolong. Terutama bila para pemerintah daerah (Pemda) di Kepulauan Nias masih tidak bisa mengantisipasinya dan tetap bekerja dalam paradigma business as usual. Bila masih sibuk dalam urusan pribadi dan mungkin saja kasus hukum sehingga tidak mampu mengakselerasi pembangunan infrastruktur penunjang di daerahnya.

Bisa saja Bandara Kualanamu memudahkan akses turis ke Sumut. Tapi apakah turis akan cepat dan banyak melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Nias sangat ditentukan oleh kesiapan di daerah itu.

Hingga saat ini, pengembangan Bandara Binaka agar bisa menampung pesawat yang lebih besar belum jelas. Demikian juga pembangunan Bandara Silambo di Nias Selatan, tidak jelas kapan akan selesai.

Dimana-mana, bahkan di pusat kota sekalipun, akses jalan juga mengalami kerusakan. Tampaknya pemda-pemda di Kepulauan Nias tak mampu merawat dan memanfaatkan berbagai infrastruktur yang dulu dibangun oleh BRR-Nias. Jangankan bikin yang baru, yang sudah dibangun pun kini tidak sedikit yang terbengkalai dan tidak terawat.

Dana lebih besar yang mengalir ke Kepulauan Nias paska pemekaran juga tidak serta merta membuat para pemda bisa berbuat banyak. Bahkan, saban tahun, tidak sedikit dana dari pusat harus dikembalikan karena tidak terserap.

Harapan tersedianya jalan lingkar Nias yang diharapkan terbangun dengan mengalir lebih besarnya dari pusat ke Kepulauan Nias paska pemekaran, juga tampaknya tinggal mimpi.

Akses jalan ke daerah-daerah wisata juga kini tampak tak terurus. Bahkan, potensi daerah yang sudah mendunia pun kini tak terurus, apalagi dipromosikan. Boro-boro menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi wisata lainnya yang selama ini masih tersembunyi.

Sejatinya, penyiapan Kepulauan Nias sudah dilakukan jauh-jauh hari mengantisipasi kehadiran Bandara Kualanamu tersebut. Tapi, tampaknya tidak seperti harapan.

Tapi sepertinya belum terlalu terlambat untuk memulainya. Bandara Kualanamu yang baru beroperasi ini juga butuh waktu untuk sampai pada puncak capaiannya seperti telah direncanakan.

Tidak hanya itu, ke depan, Bandara Kualanamu itu juga akan terus dikembangkan hingga dua tahapan lagi. Itu akan semakin memperbesar peluang bagi Kepulauan Nias untuk mengeruk manfaatnya.

Sekarang, peluang kemajuan sudah tersaji di depan mata. Salah sendiri bila masih terlena atau berleha-leha tanpa melakukan antisipasi, tidak kreatif dan tidak proaktif memanfaatkannya.

Semoga mereka tidak sedang asyik dengan mimpi dan kepentingan sendiri dan kemudian berpikir bahwa itu mimpi dan kepentingan semua rakyat Kepulauan Nias, yang sebagian besar tiap hari harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah berbagai kesulitan saat ini. Sementara berbagai peluang di depan mata, lewat begitu saja. (Etis Nehe)