Malala Yousafzai | artisttrust.blogspot.com

Malala Yousafzai | artisttrust.blogspot.com

NIASONLINE, JAKARTA – Usianya masih muda. Tepatnya masih remaja. Namun sudah berani mengambil risiko untuk masa depannya dan kaumnya.

Namanya Malala Yousafzai. Perempuan muda berusia 16 tahun dari suku Pastun di kota Mingora, Distrik Swat, bagian utara Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.

Sembilan bulan lalu, nasibnya sempat diujung tanduk. Dia di tembak di bus sekolah saat akan kembali ke rumah bersama teman-temannya, oleh sekelompok ekstrimis Taliban.

Dia dibenci kelompok yang juga terus diburu oleh pemerintah Amerika Serikat itu. Pasalnya, dia adalah aktivis yang memperjuangkan hak-hak anak-anak, terutama anak perempuan di negaranya untuk mendapatkan pendidikan. Taliban melarang anak-anak, terutama perempuan bersekolah.

Aktivitasnya bermula ketika dia masih berusia 12 tahun. Saat itu, dia menulis sebuah blog menggunakan nama samaran di sebuah tautan situs kantor berita BBC. Di blognya, Malala menuturkan bagaimana kehidupannya di bawah hukum garis keras Taliban. Juga menuturkan perjuangannya untuk mempromosikan pendidikan bagi perempuan.

Namun, naas baginya. 9 Oktober 2012, bus yang ditumpanginya di serbu sekelompok anggota Taliban. Dia di tembak di bagian pelipis dan kaki. Saat itu, putri dari Ziauddin itu langsung kritis dan tidak sadarkan diri. Kemudian dia diterbangkan ke Inggris dan dirawat di Queen Elisabeth Hospital.

Penembakannya memicu kemarahan di dalam dan luar negeri Pakistan. Di dalam negeri, 50 imam mengeluarkan fatwa melawan orang-orang yang telah mencoba membunuh Malala. Di dunia internasional, Malala mendapat sorotan dan juga dukungan dari berbagai kalangan, hingga kepala pemerintahan. Berbagai media internasional menampilkannya dalam halaman depan berita mereka.

Kini Malala sudah sembuh. Juga sudah melayani wawancara televisi dan media lainnya. Wanita muda yang juga menjabat sebagai Kepala District Child Assembly Swat itu telah dinominasikan oleh Uskup Desmond Tutu untuk meraih The International Children’s Peace Prize.

Dia juga dinominasikan meraih Hadiah Nobel sekaligus menjadi kandidat termuda dalam sejarah pemberian penghargaan itu. Di negaranya sendiri, Malala menjadi perempuan pertama yang menerima National Youth Peace Prize.

Jum’at (12 Juli 2013) lalu, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-16, Malala hadir dan berpidato di hadapan para petinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para perwakilan anak-anak dari seluruh dunia.

Dalam pidatonya yang sangat bernas, Malala mengungkapkan terima kasih atas dukungan kepadanya. Juga atas menjelaskan siktap tanpa dendamnya terhadap para teroris yang telah berupaya merenggut nyawanya. Dia juga menegaskan komitmennya untuk terus berjuang untuk anak-anak yang kehilangan hak dan kesempatan mengenyam pendidikan di seluruh dunia.

Dengan mengenakan syal milik mantan perdana menteri wanita Pakistan Benazir Bhutto yang juga tewas ditembak pada Desember 2007 lalu, Malala berpidato dengan suara lantang dan tegas.

Pidato yang menginspirasi dan penuh semangat yang menyala demi masa depan anak-anak. Pidato yang menyentuh, berisi pesan-pesan perdamaian sekaligus teguran dan tuntutan bagi dunia untuk tidak merampas hak-hak anak-anak untuk memiliki masa depan yang baik dan damai.

Pidato lengkapya juga bisa dilihat dalam bentuk video dapat dilihat di sini. Sedangkan naskah lengkap pidato tersebut seperti diterjemahkan oleh Tempo, adalah sebagai berikut:

Bismillah Arrahman Arrahim

Atas nama Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Yang terhormat Sekjen PBB Bapak Ban Ki Moon, Yang terhormat Presiden Majelis Umum PBB Bapak Vuk Jeremic, Yang terhormat Utusan Khusus PBB untuk Pendidikan Global, Bapak Gordon Brown

Para tetua dan saudara saudara: Assalammualaikum.

Hari ini adalah kehormatan bagi saya untuk bisa bicara lagi setelah sekian lama. Berada di sini, di antara hadirin yang mulia, adalah momen yang luar biasa dalam hidup saya.
Saya juga merasa amat terhormat hari ini karena saya mengenakan syal dari Benazir Butho yang telah sahid.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana pidato ini. Saya tidak tahu orang mengharapkan saya bicara apa. Pertama-tama, terimakasih Tuhan, karena kita semua diciptakan sama. Terimakasih juga pada semua orang yang telah berdoa untuk kesembuhan saya yang cepat, dan hidup saya yang baru.

Saya tidak bisa percaya betapa besar cinta yang diberikan pada saya. Saya menerima ribuan kartu ucapan semoga cepat sembuh dari seluruh penjuru dunia.

Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk anak-anak yang dengan dunianya yang polos
menguatkan saya. Terimakasih untuk para tetua yang doanya menguatkan saya.

Saya juga ingin berterimakasih pada para perawat, dokter dan staf rumah sakit di Pakistan dan di Inggris, yang telah merawat saya. Juga terimakasih pada pemerintahan Uni Eropa yang telah membantu saya sembuh dan menemukan kembali kekuatan saya.

Saya sepenuhnya mendukung inisiatif Sekjen PBB Ban Ki Moon yakni Global Education First Initiative. Juga kerja-kerja Utusan Khusus PBB Gordon Brown dan Presiden Majelis Umum PBB Vuk Jeremic. Saya berterimakasih pada kepemimpinan mereka dan pada upaya mereka untuk terus menerus membantu dan memberi. Mereka juga terus menerus memberikan inspirasi agar kita terus bekerja.

Saudara saudariku, ingatlah satu hal, Hari Malala bukanlah hari saya. Hari ini adalah hari ketika semua perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, yang telah bersuara untuk hak mereka. Ada ratusan aktivis HAM dan pejuang sosial yang tak hanya bicara untuk diri mereka tapi juga berjuang untuk mewujudkan perdamaian, pendidikan dan kesetaraan.

Ada ribuan orang yang dibunuh teroris, dan jutaan orang cedera. Saya hanya salahsatu dari mereka.

Jadi di sini hari ini saya berdiri: satu anak perempuan, di antara yang lain. Saya bicara bukan atas nama saya sendiri, tapi atas nama orang lain yang tidak punya suara yang bisa didengar, untuk mereka yang berjuang untuk haknya. Hak untuk hidup dalam damai, hak untuk hidup secara bermartabat, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama, hak untuk mendapat pendidikan.

Kawan-kawan,

Pada 9 Oktober 2012, saya ditembak Taliban di pelipis kiri saya. Mereka juga menembak teman-teman saya. Mereka berpikir peluru itu akan membungkam kami. Tapi mereka gagal.

Dari kesunyian itu, muncul ribuan suara lain. Teroris berpikir mereka bisa menghentikan ambisi saya dan mengubah tujuan hidup saya. Tapi hingga kini tak ada yang berubah dalam hidup saya. Kecuali ini: kelemahan, ketakutan dan ketakberdayaan mati. Kekuatan, tenaga, dan keberanian lahir.

Saya adalah Malala yang sama. Ambisi saya masih sama. Harapan saya masih sama. Mimpi saya masih sama.

Saudara saudariku,

Saya tidak bermusuhan dengan siapapun. Saya tidak di sini untuk menyerukan balas dendam pada Taliban atau semua kelompok teroris manapun. Saya di sini untuk bicara tentang hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan.

Saya juga mau pendidikan untuk anak-anak Taliban dan anak-anak ekstremis yang lain. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang menembak saya. Bahkan jika ada pistol di tangan saya, dan dia ada di depan saya, saya tidak akan menembaknya.

Ini adalah welas asih yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus dan Budha. Ini adalah warisan perubahan yang diturunkan pada saya oleh Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah. Ini adalah filosofi anti kekerasan yang diajarkan Gandhi, Bacha Khan, dan Bunda Teresa.

Ini adalah semangat memberi maaf yang diajarkan ayah dan ibu saya. Ini adalah apa yang dibisikkan jiwa saya pada saya, “Damailah dan cintailah semua orang.”

Saudara saudariku,

Kita menyadari pentingnya cahaya ketika melihat kegelapan. Kita sadar pentingnya bersuara ketika kita dibungkam. Begitu juga, di Swat, di utara Pakistan, kami sadar pentingnya pulpen dan buku, ketika kami melihat senjata api.

Ada yang mengatakan pulpen lebih perkasa dari pedang. Itu benar. Para ekstremis lebih takut pada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menakutkan mereka. Mereka takut pada perempuan, kekuatan suara perempuan menakutkan mereka.

Itulah kenapa mereka menembak 14 murid tak bersalah belum lama ini di Quetta. Itu kenapa mereka membunuh guru dan pekerja polio perempuan di Khyber Pakhtunkhwa. Itu kenapa mereka meledakkan sekolah setiap hari.

Karena mereka takut pada perubahan, takut pada kesetaraan, yang akan dibawa pendidikan ke dalam masyarakat kita.

Saya ingat ada seorang anak laki-laki di sekolah saya, yang ditanya jurnalis, “Kenapa Taliban sangat membenci pendidikan?”

Dia menjawab dengan sederhana. Sambil menunjuk bukunya, dia berkata, “Seorang Taliban tidak tahu apa isi buku ini. Mereka pikir Tuhan hanya mahluk kerdil konservatif yang akan mengirim perempuan ke neraka hanya karena mereka pergi ke sekolah.”

Para teroris telah menyalahgunakan nama Islam dan warga Pashtun untuk kepentingan mereka sendiri.

Pakistan adalah negara demokrasi yang cinta damai, orang Pashtun ingin pendidikan untuk anak-anak mereka, dan Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, kemanusiaan dan persaudaraan. Islam mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya hak anak, tapi juga tugas dan tanggungjawab seorang anak.

Bapak Sekjen PBB,

Perdamaian dibutuhkan untuk keberlangsungan pendidikan. Di banyak tempat, di Pakistan dan Afganistan, terorisme, perang dan konflik membuat anak tidak bisa pergi ke sekolah. Kami capek dengan semua perang ini.

Perempuan dan anak menderita dalam segala bentuk, di banyak tempat di dunia. Di India, anak-anak miskin dan tak berdosa jadi korban perburuhan anak, banyak sekolah dirusak di Nigeria, rakyat Afganistan menderita di bawah ekstremisme selama berpuluh tahun.

Gadis-gadis dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan dipaksa kawin di usia muda. Kemiskinan, ketakpedulian, ketidakadilan, rasisme, dan perampasan hak dasar, adalah persoalan-persoalan utama yang dihadapi lelaki dan perempuan di dunia ini.

Saudara saudariku,

Hari ini saya fokus pada hak perempuan dan pendidikan untuk anak perempuan, karena mereka yang paling menderita saat ini.

Ada saat ketika perempuan yang menjadi aktivis sosial meminta lelaki berjuang untuk hak-hak mereka. Tapi kali ini, kita akan berjuang sendiri.

Saya tidak mengusir para lelaki dari perjuangan untuk hak perempuan, tapi saya ingin fokus pada para perempuan, yang harus menjadi independen dan berjuang untuk hak mereka sendiri.

Saudara saudariku,

Kini tiba saatnya untuk meneriakkan tuntutan kita. Hari ini, kita menyerukan pada para pemimpin dunia, untuk mengubah kebijakan strategis mereka pada usaha mencapai perdamaian dan kesejahteraan.

Kami menyerukan pada para pemimpin dunia, agar semua perjanjian damai harus melindungi hak perempuan dan anak. Perjanjian yang mengabaikan hak perempuan, tidak bisa diterima.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk mengadakan pendidikan gratis dan wajib untuk semua anak tanpa kecuali.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk terus berperang melawan terorisme dan kekerasan, serta melindungi anak dari kekejaman dan mara bahaya.

Kami menyerukan pada negara-negara maju, untuk memperluas kesempatan pendidikan untuk anak perempuan di negara-negara berkembang.

Kami menyerukan pada semua masyarakat dan komunitas, untuk bersikap toleran. Untuk menolak prasangka berdasarkan kasta, keyakinan, sekte, agama, warna kulit atau gender. Untuk memastikan ada kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan, sehingga mereka bisa sukses.

Kita tidak akan bisa sukses bersama, kalau sebagian dari kita dibelenggu dan tak bisa maju.

Kami menyerukan pada perempuan di seluruh dunia, untuk berani. Untuk menyambut kekuatan di dalam diri mereka dan menyadari potensi mereka sepenuhnya.

Saudara saudariku,

Kami mau sekolah dan pendidikan untuk masa depan yang cerah bagi anak-anak.
Kita akan meneruskan perjalanan kita untuk mewujudkan perdamaian dan pendidikan. Tidak ada yang bisa menghentikan kita.

Kita akan terus bicara untuk hak-hak kita. Kita akan mengubah keadaan dengan suara kita. Kita percaya pada kekuatan kata-kata kita. Kata-kata kita bisa mengubah dunia kalau kita semua bersama, bersatu untuk pendidikan.

Kalau kita mau mencapai cita-cita kita, mari kita mempersenjatai diri dengan pengetahuan, dan mari membuat perisai dari persatuan dan kebersamaan kita.

Saudara-saudariku,

Kita tidak boleh lupa bahwa jutaan orang hari ini menderita akibat kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakpedulian.

Kita tidak boleh lupa, ada jutaan anak yang tak bisa bersekolah.

Kita tidak boleh lupa, saudara-saudara kita sedang menanti masa depan yang damai dan lebih baik.

Jadi, marilah kita kobarkan perang global memberantas buta huruf, kemiskinan dan terorisme. Mari kita teriakkan tuntutan, mari kita gunakan buku dan pulpen kita, senjata kita yang paling utama.

Satu murid, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia.
Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan harus diutamakan. Terimakasih.
(EN/Tempo/BBC/*)

Facebook Comments