Sidarto Danusubroto | Inilah.com

Sidarto Danusubroto | Inilah.com

NIASONLINE, JAKARTA – Anggota DPR RI tertua yang juga mantan ajudan presiden Soekarno, Sidarto Danusubroto hari ini resmi menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Menggantikan almarhum Taufiq Kiemas yang meninggal dunia bulan lalu, Sidarto dilantik hari ini.

“Demi Allah, bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai ketua MPR dengan sebaik-baiknya. Bahwa saya akan memegang teguh Pancasila dan UUD 1945, berbakti kepada bangsa dan negara. Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat,” ujar dia saat membacakan sumpah jabatan di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (7/7/2013).

Pelantikan itu dihadiri ratusan anggota MPR, perwakilan pemerintah dan juga dari yudikatif.

Sidarto sendiri bukan wajah baru di parleman. Dia telah menjabat selama tiga periode. Selama ini menjadi anggota Komisi I DPR RI yang salah satunya membidangi pertahanan dan informasi.

Penunjukan Sidarto sendiri, disampaikan secara langsung oleh Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan dengan empat wakil Ketua MPR, seluruh ketua Fraksi MPR dan perwakilan DPD RI pada Kamis (4/7/2013) di kediamannya.

Saat itu, Megawati didampingi oleh Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo, Ketua Fraksi PDIP di DPR Puan Maharani, dan Ketua Fraksi PDIP di MPR Yasonna Laoly.

Ada tiga alasan Mega memilih dia. Pertama, senioritas. Dia telah menjabat tiga priode dan karenanya merupakan anggota paling senior di partainya.

Kedua, Sidarto menjabat sebagai Ketua Bidang Kehormatan Partai, sebuah posisi yang identik dengan penjaga moral partai. Posisi itu identik dengan orang-orang yang memiliki kebijaksanaan.

Ketiga, pernah menjadi ajudan Presiden Soekarno. Karena berhubungan langsung dengan Bung Karno, diyakini dia mampu menyerap dan memahami pemikiran-pemikiran Soekarno.

Karir

Lahir di Pandeglang pada 11 Juni 1936, Sidarto mengawali karirnya sebagai polisi. Berbagai pengalaman di masa sulit bersama Soekarno dialaminya.

Dia menjadi ajudan Soekarno pada masa peralihan kekuasaan ke Orde Baru, pada 1967-1968.

Saat itu, masa-masa sulit bagi Soekarno yang mulai disingkirkan, diawali dengan pengasingan ke Istana Bogor.

Usai menjadi ajudan Soekarno, Sidarto berkarir di kepolisian dan sempat menjabat Kapolda sebanyak dua kali.

Namun, karirnya tidak mulus. Jejak kedekatan dengan Soekarno menjadi bumerang bagi dia. Karir dan kenaikan pangkatnya antara 1970-1973 dihambat. Dia juga dibebaskan dari tugas-tugas operasional. Bahkan, pernah diinterogasi Tim Pemeriksa Pusat Komando Keamanan dan Ketertiban (Teperpu Komkamtib) ABRI.

Pada 1973, Kapolri saat itu menyatakan Sidarto bersih. Sejak itu, karirnya kembali melesat. Dia berkarir mulai dari sebagai Kapolres Tangerang 1974-1975, dan terakhir pada 1988-1991, menjabat Kapolda Jawa Barat.

Paskapensiun, dia terjun ke bidang swasta. Namun, sejak reformasi pada 1998, mulai aktif di politik melalui PDI-P dan menjadi anggota DPR RI selama hingga periode ketiga ini dari daerah pemilihan DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII.

Sidarto pernah di tempatkan di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara, reformasi birokrasi, pemilu, dan agrarian pada masa jabatan pada 1999. Pada 2002 ketika terpilih lagi, ditempatkan di Komisi I yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, dan komunikasi dan informatika.

Pada 2005-2006, pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI. Sejak 2006 sampai sekarang, menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen di DPR.

Sidarto juga pernah meluncurkan buku yang menjawab pernyataan mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang menyebut DPR sebagai Taman Kanak-Kanak. Sidarto menjuduli bukunya, “DPR Bukan Taman Kanak-kanak.” (EN/*)

Facebook Comments