Aksi Kampanye Penggunaan Bahasa Daerah | Solopos.com

Aksi Kampanye Penggunaan Bahasa Daerah | Solopos.com

NIASONLINE, JAKARTA – Saat ini, penggunaan Bahasa Indonesia di tengah masyarakat Nias menjadi sebuah kelaziman, bahkan keharusan. Tidak sedikit keluarga mendidik anak mereka sejak sangat dini berbahasa Indonesia, dibanding menggunakan bahasa ibunya, Bahasa Nias.

Juga tidak mengherankan jika saat ini, makin banyak warga Nias yang justru tidak bisa berbahasa Nias meski mereka berada di Pulau Nias. Kalau pun bisa, tidak mahir bertutur, termasuk dalam penulisan maupun penggunaannya berdasarkan gramatika yang tepat.

Wajar saja bila muncul kekuatiran bahwa Bahasa Nias bakal menjadi salah satu bahasa yang terancam punah juga bersama bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.

Berbagai alasan dikemukakan. Di antaranya, untuk memudahkan anak-anak mengikuti pelajaran di sekolah yang umumnya menggunakan bahasa Indonesia. Alasan yang sedikit konyol, mengasosiasikan kemampuan berbahasa Indonesia dengan kemajuan.

Namun, berkebalikan dengan kenyataan itu, saat ini pemerintah, melalui Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) justru sedang menggalakkan penggunaan bahasa daerah dengan memanfaatkan kearifan lokal masyarakat setempat yang wajib dituturkan dalam bahasa daerahnya.

“Tradisi bahasa daerah dalam acara-acara adat kita hidupkan kembali, hal ini sebagai upaya perlindungan dan pelestarian bahasa daerah,” ujar Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Badan Bahasa, Kemendikbud Yeyen Maryani di Jawa Barat, Rabu (12/6/2013).

Sebagai contoh, kata dia, saat ini kesenian Lamun di wilayah Kalimantan Selatan sedang dihidupkan kembali. Lamun itu, jelas dia, merupakan seni bercerita dalam bahasa daerah setempat.

Dia menjelaskan, saat ini keberadaan bahasa daerah di Indonesia menghadapi ancaman kepunahan dengan berkurangnya jumlah penutur.

Selain itu, kata dia, Badan Bahasa Kemendikbud juga sedang melakukan pengkajian terhadap penggunaan bahasa daerah melalui pemetaan. Pemetaan itu untuk mengetahui keberadaan bahasa daerah, jumlah penutur dan kosakatanya.

Saat ini, papar dia, berdasarkan data summer institut linguistic jumlah bahasa daerah di Indonesia sebanyak 746 bahasa. Sedangkan berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Bahasa Kemendikbut, jumlahnya mencapai 552 bahasa. (EN)

Facebook Comments