Ilustrasi Pendaratan Pesawat Wings Air (Foto: Etis Nehe)

Pesawat Wings Air Saat Mendarat di Bandara Binaka | EN

NIASONLINE, JAKARTA – Penerbangan ke Bandara Binaka (Gunungsitoli) ternyata masih mendapatkan subsidi penerbangan perintis dari pemerintah pusat.

Padahal, selama ini rute tersebut telah diterbangi secara regular oleh maskapai-maskapai komersil. Di antaranya, Wings Air, Sky Aviation, NBA hingga Merpati Nusantara Airlines yang saat ini berhenti sementara.

Tahun ini, pemerintah kembali memberikan subsidi untuk penerbangan perintis ke bandara utama di Pulau Nias tersebut.

Dalam tender penerbangan perintis tahun ini, pemerintah menggelontorkan subsidi dengan nilai total Rp 291,187 miliar untuk mengangkut penumpang dan Rp 20,919 miliar untuk mengangkut bahan bakar minyak (BBM).

Baik untuk penumpang, maupun angkutan bahan bakar, penerbangan perintis ke Bandara Binaka mendapatkan subsidi.

Khusus untuk penerbangan ke Bandara Binaka, berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan (Kemhub) mendapat subsidi total sekitar Rp 14 miliar. Rinciannya, Rp 12.470.362.000 untuk mengangkut penumpang dan Rp 1.430.000.000 untuk mengangkut 400 drum BBM.

Penerbangan perintis ke Bandara Binaka tersebut dimenangkan oleh maskapai Susi Air untuk enam rute penerbangan. Namun, nama-nama keenam rute tersebut tidak disebutkan dalam data itu.

Mayoritas penerbangan perintis itu dilakukan mulai bulan April hingga akhir tahun. Beberapa KPA juga ada yang telah memulainya sejak Februari, yakni KPA Selayar dan KPA Wamena.

Realisasi penerbangan perintis penumpang dilakukan oleh 20 Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Yakni, Nagan Raya, Takengon, Gunungsitoli, Bengkulu, Muara Teweh, Samarinda, Ketapang, Sabu, Mamuju, Toli-Toli, Masamba, Selayar, Ternate, Langgur, Manokwari, Jayapura, Merauke, Nabire, Timika dan Wamena.

Sedangkan untuk penyaluran BBM, KPA-nya ada di Gunung Sitoli, Ketapang, Toli-toli, Masamba, Selayar, Langgur, Merauke, Timika dan Wamena.

Mengejutkan

Adanya subsidi pemerintah pada penerbangan ke Bandara Binaka tersebut cukup mengejutkan. Terutama karena rute ke bandara terbesar di Pulau nias tersebut masih dikelompokkan sebagai penerbangan perintis.

Padahal, selama ini rute penerbangan dari dan ke Bandara Binaka, bisa dikatakan sudah komersil penuh. Ditandai dengan tarif tiket yang mengikuti mekanisme pasar.

Bahkan meski maskapai yang terbang ke sana sudah lebih dari satu, harga tiket bisa saja melambung hingga di atas Rp 700 ribu untuk penerbangan dengan rute Binaka-Polonia dan sebaliknya.

Saat ini, dua maskapai yang telah terbang reguler ke Bandara Binaka justru bukan maskapai pemenang tender subsidi penerbangan perintis.

Bahkan, penerbangan dengan rute Bandara Binaka-Bandara Lasondre (PP. Batu)-Padang yang masih patut disubsidi ternyata pelayanannya tidak lancar. Bahkan, seringkali terhenti sekian lama atau mengalami penundaan mendadak. Tarifnya pun tetap mahal.

Harusnya, bila jalur tersebut disubsidi pemerintah, maka harga tiket penerbangannya tidak mengikuti mekanisme pasar. Setidaknya, harganya relatif murah karena kelebihan harga tiket yang seharusnya ditutup dengan subsidi.

Bahkan, selama ini, Merpati yang biasanya menjadi kontraktor tender penerbangan subsidi tersebut ternyata juga memberlakukan tarif yang sama dengan maskapai komersil lainnya. Bahkan, tahun lalu, menghentikan sepihak penerbangannya dengan mengalihkan pesawatnya ke rute lain. (EN)

Facebook Comments