Turunan Gulö (Foto: Dokumen Pribadi)

Turunan Gulö (Foto: Dokumen Pribadi)

NIAS ONLINE, JAKARTA – Hiruk pikuk politik mulai memanas lagi. Tak terkecuali bagi masyarakat Nias, baik di perantauan, khususnya di daratan Sumatera Utara (Sumut) maupun di lima daerah di Pulau Nias.

Penyerahan daftar calon legislatif (caleg) sementara (DCS) sudah selesai dan kini masuk tahap melengkapi atau memperbaiki data yang masih kurang lengkap.

Di level DPR RI dan DPD, tercatat hampir 10 putra Nias mencalonkan diri. Demikian juga di DPRD Sumut. Dan lebih banyak lagi untuk tingkat DPRD tingkat kabupaten/Kota.

Seperti pada masa pemilu-pemilu yang lalu, banyak harapan putra-putri Nias akan lebih banyak duduk di DPR RI dan juga DPD RI. Tapi kenyataannya, pada pemilu-pemilu sebelumnya, putra Nias di DPR RI paling banyak dua orang. Dan belum pernah ada wakil di DPD RI.

Pada periode 2004-2009, Pulau Nias sempat diwakili oleh tiga orang. Itu pun, salah satu di antaranya baru menjabat di pertengahan periode melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW).

Namun, pada periode 2009-2014, jumlah itu merosot drastis. Tinggal satu Putra Nias di Senayan, yakni Yasonna H Laoly. Sebuah kenyataan yang memrihatinkan karena dari total potensi pemilih dari masyarakat Nias, baik di Pulau Nias maupun di daratan Sumut, bisa menempatkan minimal tiga nama di sana. Tapi ya, itulah politik.

Namun, belajar dari pengalaman yang lalu itu, ada baiknya kali ini bila masyarakat Nias sepakat, maka kondisi tersebut bisa diubah dan menghasilkan maksimal.

Redaksi Nias Online mengawali wacana persiapan bagi masyarakat Nias mengantisipasi Pemilu 2014 tersebut. Catatan ini sepenuhnya berdasarkan catatan analisis dari Turunan Gulö, mantan anggota KPUD Sumut selama dua periode dan kini sedang mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI.

tabel 1_DPD

Mantan anggota KPUD Sumut Turunan Gulo membuat hitung-hitungan berdasarkan data dan potensi pemilih masyarakat Nias pada pemilu 2014. Hasilnya, masyarakat Nias bisa menempatkan 4 wakilnya di DPR RI dan 1 orang di DPD.

Berikut ini, analisis Turunan terkait potensi keterwakilan masyarakat Nias seperti disebutkan di atas, yang telah diolah oleh redaksi.

Turunan menjelaskan, pada pemilu 2004, dari empat perwakilan Sumut di DPD, tidak ada satupun Putra Nias. Padahal, dari potensi suara, seharusnya bisa menempatkan satu wakilnya di DPD.

“Pada pemilu 2004, potensi pemilih dari Kepulauan Nias pada saat itu mencapai 396.821 suara,” jelas dia.(Lihat Tabel 1)

tabel 2_DPD

Kemudian, pada Pemilu 2009, lagi-lagi, dari empat perwakilan Sumut di DPD, tidak ada satu pun Putra Nias. Padahal, dengan potensi pemilih dari kepulauan Nias saja sebanyak 481.168 pada pemilu itu, harusnya bisa menempatkan satu wakilnya di sana. (Lihat Tabel 2)

Wakil di DPR RI

Untuk perwakilan di DPR RI, pada pemilu 2009, dari Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Kepulauan Nias, 10 anggota DPR RI berhasil didudukkan di Senayan. Namun, dari semuanya, hanya satu putra Nias, yakni, Yasonna H Laoly dengan total peroleh suara 770.073 suara.

Dari Dapil II tersebut, perolehan suara tertinggi mencapai 91.867 suara dan terendah 23.358 suara. Sedangkan potensi pemilih dari Kepulauan Nias pada Pemilu 2009 sebanyak 481.168 suara. (Lihat Tabel 3)

Peluang Pada Pemilu 2014

Lalu, bagaimana dengan peluang pada Pemilu 2014, baik untuk DPR RI maupun DPD RI?

Turunan memberikan rincian perhitungan yang sangat baik. Mulai dari potensi pemilih hingga hitung-hitungan probabilitas penempatan wakil di DPR dan DPD. Termasuk, bisa menjadi pertimbangan bagi mereka yang saat ini sudah nyaleg tapi kemungkinan partainya sulit lolos ke parlemen, untuk segera bersikap dan mengambil keputusan strategis.

tabel 3_DPR RI

Turunan memulainya dengan potensi pemilih pada Dapil Sumut II pada pemilu legislatif 2014 pada seluruh kabupaten/kota yang totalnya mencapai 2.996.943. Data itu berdasarkan data rekap daftar pemilih tetap (DPT) pemilihan gubernur Sumut pada Januari 2013. (Lihat Tabel 4)

Turunan mengatakan, mengacu pada pengalaman Pileg 2009, tingkat partisipasi memilih (Voter Turn Out/VTO) sekitar 65%, di mana suara sahnya hanya 88% (bisa jadi cara baru bernama “contreng”).

Pada pemilu yang akan datang, kata dia, potensi suara sah kemungkinan lebih besar, karena kembali ke cara lama “mencoblos”, katakan sekitar 95% dari jumlah surat suara/pemilih.

Dengan demikian, untuk kebutuhan simulasi, bisa menghitung kira-kira berapa angka BPP (bilangan pembagi pemilih), yakni total suara sah dibagikan kursi yang dialokasikan di dapil tersebut.

Berikut adalah rumusnya:

VTO = 65% x 2.996.943 = 1.948.012 suara.
Suara sah = 95% x 1.948.012 = 1.850.612 suara.
Dapil Sumut II mendapat jatah 10 kursi DPR.

BPP = 1.850.612 dibagi 10 kursi = 185.061 suara.
Artinya, untuk mendapatkan satu kursi, maka Parpol harus mendapatkan sekitar 185.061 suara.

tabel 4_Pileg 2014Angka BPP itu bisa lebih kecil lagi kalau ada beberapa parpol yang tidak lolos ambang batas minimal (Parliamentary Threshold/PT). Sebagaimana diketahui, berdasarkan UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD, bahwa untuk diikutsertakan dalam pembagian kursi DPR, maka Parpol harus lolos PT, yakni mendapatkan suara sah paling 3,5% dari total suara sah DPR secara nasional.

Saat ini, potensi pemilih se-Kepulauan Nias adalah 545,370 suara (pada pemilu 2014, angka ini akan lebih tinggi). Bila tingkat partisipasi pemilih hanya 65%, maka suara yang tersedia sekitar 354.490.

Pasokan suara bisa didapatkan lagi di berapa kabupaten/kota, terutama di Tapteng, Sibolga, Labuhan Batu (+selatan + utara), Tapanuli Selatan/PSP. Yang perlu dicatat, Ono Niha di negeri rantau terhitung banyak, tapi banyak yang belum memiliki KTP, gampang dimobilisasi (khususnya buruh di perkebunan).

Penting Dipertimbangkan

Berdasarkan analisis di atas, Turunan memberikan beberapa catatan penting yang perlu dipertimbangkan untuk menghitung peluang Ono Niha di Senayan:

1. Pilihan kendaraan politik. Kuat atau tidak? Lolos PT atau tidak? Hasil riset polling yang akan dipublikasi dari waktu ke waktu akan membantu pemilih memastikan pilihannya untuk memilihi caleg Ono Niha yang kemungkinan besar parpolnya lolos PT.
Lewat riset tersebut, sang kandidat harus berani mengambil keputusan mundur bila kendaraan politiknya bakal ambruk karena tidak lolos PT; lalu mengambil sikap mendukung kandidat Ono Niha yang potensial lolos.

2. Jumlah partai dan caleg yang lebih sedikit dibandingkan dengan 2009, yang sangat mempengaruhi peta distribusi suara dan selisih suara untuk mendapatkan kursi. Kali ini, suara yang harus dicari oleh masing-masing kandidat harus lebih besar dibandingkan Pemilu 2009 (lihat Tabel 3). Ingat, pada Pemilu 2009, ada 38 Parpol yang bertanding, dan 29 parpol yang tumbang karena tidak lolos PT.

Suara dikeroyok oleh ratusan kandidat se-Sumut II atau puluhan kandidat Ono Niha. Partai yang lolos PT sangat diuntungkan, karena BPP menjadi lebih sedikit. Kandidat yang parpolnya lolos PT dan dapat kursi sangat diuntungkan, karena dengan selisih suara sedikit saja dengan caleg lainnya dalam satu parpol, maka bisa memperoleh kursi. Tapi, pada Pemilu 2014, angka pada Tabel 3 sangat sulit jadi rujukan. Bisa menjebak. Sang kandidat harus ekstra hati-hati, cermat, dan bekerja lebih keras lagi.

3. Sang kandidat juga harus mencermati kandidat separtai di dapil yang sama. Hitung berapa peluang kursi dapil tersebut. Bila peluang kursi hanya dapat satu, sementara ada kandidat yang sangat kuat, maka lebih bagus mikir ulang untuk serius bertanding.

Soalnya, bila terus bertanding, justru akan menghabiskan sumberdaya yang banyak dan peluang Ono Niha akan menyempit. Kecuali sang kandidat lebih loyal kepada partai, maka tentu yang bersangkutan dipersepsikan lebih mendahulukan kepentingan partainya ketimbang kepentingan Ono Niha. Itu tentu hak yang bersangkutan. Tidak dilarang, tapi tentu cukup disayangkan.

4. Strategi pendistribusian suara di Kepulauan Nias. Bila ada konsensus, maka sebenarnya kita bisa mengirimkan sebanyak 4 orang DPR dan 1 orang DPD ke Senayan. Dengan catatan, tingkat partisipasi pemilih di atas 80%. Sangat baik, kalau pimpinan gereja serta 5 pimpinan pemerintahan Kab/Kota memfasilitasi sebuah diskusi terarah untuk menghasilkan sebuah konsesus, agar pola distribusi suara bisa lebih terarah untuk menghasilkan suara 4 caleg unggulan yang lebih signifikan dibandingkan caleg di luar Ono Niha.

Para pemimpin gereja maupun pimpinan daerah juga diharapkan mendorong umat/warga masyarakat untuk meminimalkan angka golongan putih (golput) yang semakin mengancam kita. Semakin tinggi angka golput di Kep. Nias, maka akan semakin kecil peluang Ono Niha. Menurut Turunan, kebutuhan yang sangat mendesak pada Pemilu 2014 adalah minimalisasi potensi “golput”.

5. Kemampuan kandidat untuk menggalang dukungan di luar Kepulauan Nias, baik komunitas Ono Niha di perantauan maupun di luar Ono Niha. Kandidat akan semakin berpeluang menang bila memiliki jejaring yang cukup luas di luar Kepulauan Nias, baik komunitas Ono Niha di negeri rantau maupun di luar komunitas Ono Niha.

6. Hal lain yang akan menentukan adalah kepiawaian seorang kandidat untuk bermain di lapangan politik (kemampuan mengawal suara atau justru “mengkondisikan” suara). (EN)

Facebook Comments