Frans Julfian Buluáro (FB)

Frans Julfian Buluáro (FB)

NIASONLINE, JAKARTA – Kabar mengejutkan, datang pagi tadi. Masyarakat Nias kembali kehilangan putra terbaiknya, penyanyi Frans Julfian Bulu’aro (31 tahun).

Dari informasi yang diperolah Nias Online dari abang kandungnya, Frans Harmonis Bulu’aro, Frans Julfian meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Gunungsitoli, pada pukul 04.30 Wib subuh hari ini, Jumát (1/3/2013).

Frans Harmonis menjelaskan, Frans Julfian mulai mengeluh sakit pada Sabtu (23 Februari 2013). Saat itu mengalami batuk, sesak nafas dan gula darahnya naik. Kemudian, kemarin, Kamis (28/2/2013) dibawa untuk diobati di RSU Gusit.

“Tiba di RSU Gusit sekitar pukul 11.00 Wib dan langsung menjalani perawatan. Dan subuh tadi kemudian menghembuskan nafas terakhir,” jelas dia.

Frans Julfian meninggalkan seorang istri, Kristalia Laia, yang baru dinikahinya sekitar dua tahun lalu. Mereka belum memiliki anak.

Selama ini, Frans Julfian tinggal di Teluk Dalam, karena istrinya mengajar di perguruan swasta Bintang Laut, ibukota Nisel tersebut.

Saat ini, jenazah disemayamkan di rumah duka, di rumah salah satu keluarga di Tandrawana, Gunungsitoli. Rencananya, akan dimakamkan di pemakaman di Tandrawana.

Cuma, soal waktu pemakaman, kata Frans Harmonis, masih belum diputuskan karena menunggu kedatangan keluarga dari Pulau Tello.

Pernah Jatuh

Meski tidak bisa memastikan keterkaitannya, Frans Harmonis mengatakan sebelumnya pada Oktober 2012, Frans Julfian pernah jatuh dari sepeda motor saat berupaya menghindarkan tabrakan dengan sepeda.

Akibat kecelakaan itu cukup fatal karena kepalanya terbentur aspal dan sempat mengeluarkan darah dari hidungnya.

Setelah seminggu dirawat di RSU Gusit dan sudah sadar, Frans Julfian balik ke Teluk Dalam bersama istrinya karena sudah merasa sehat.

Namun, tidak lama kemudian, Frans Julfian mulai mengeluh lagi karena merasa sakit dalam. Saat itu Frans Julfian sering kejang dan kadang sadarkan diri. Setelah menunggu kondisinya stabil, dengan dibantu pemkab Nisel, Frans Julfian dibawa berobat ke RS Adam Malik, Medan.

“Saat dirawat, dinyatakan tidak ada masalah di otak dan di kepalanya. Juga tidak ada masalah di bagian rusuk. Dan dinyatakan sehat dan bisa pulang. Sampai di sini seperti biasa. Cuma dia agak susah bicara. Untuk mengatasinya dia mengikuti pengobatan alternatif dengan cara pijit. Dan selama ini sudah sehat dan bolak-balik Teluk Dalam-Gusit,” jelas dia.

Kehilangan

Beredarnya informasi meninggalnya Frans Julfian mengagetkan banyak pihak, terutama warga Nias di perantauan yang mendapatkan informasi itu jejaring sosial seperti Facebook dan juga Blackberry Message (BBM).

Beberapa mengakui kalau lagu-lagu Frans Julfian salah satu yang terbaik di antara sedikit penyanyi asal Nias yang berkualitas saat ini.

“Turut berdukacita dan terima kasih atas segala karyanya selama ini yang membuat setiap orang terhibur, orang Nias khususnya. Selamat jalan,” ujar seorang pengemarnya, Darma Manaö.

Pernyataan senada juga diungkapkan tokoh masyarakat Pulau-pulau Batu, Pdt Foluaha Bidaya.

“Nias telah kehilangan artis kaliber nasional yang tidak pernah menasional. Suara Frans itu tidak beda dengan suara Pance (Pance Pondaag, red). Hanya saja dia belum pernah dapat peluang untuk ‘go public’,” ujar dia melalui pesan BBM.

Noniawati Telaumbanua juga mengaku merasa sangat kehilangan Frans Julfian. Dia masih ingat ketika dua tahun lalu Frans Julfian diundang menyanyi pada acara Pasar Natal di Nisel.

“Sangat kehilangan dan berduka mendalam karena tidak menduga sedemikian cepat. Saya sedih. Yang tua-tua sudah banyak yang meninggalkan kita, dan Frans Julfian baru mulai berkarya, sudah meninggalkan kita juga,” ujar Noniawati via pesan BBM mengungkapkan kesedihannya.

Cuplikan video klip lagu berjudul "Faómasi Silö Aetu"(Foto: EN/Album Pop Nias Fondraradödö Group)

Cuplikan video klip lagu berjudul “Faómasi Silö Aetu”(Foto: EN/Album Pop Nias Fondraradödö Group)

‘…Ndröfi Sitölu Ribu…’

Sebenarnya banyak lagu sudah dinyanyikan oleh Frans Julfian. Bahkan, kata abangnya Frans Harmonis, dia sudah mulai senang menyanyi sejak SD. Sewaktu sekolah di SMP Pemda Nias, juga bergabung dalam vocal group sekolah itu bersama sejumlah temannya.

Frans Harmonis mengatakan, adiknya tersebut baru saja mengeluarkan album baru dengan judul “He Ha Turia” dengan salah satu lokasi syutingnya di atas kapal KM Belanak.

“Selama ini dia fokus menyanyi dibanding kerjaan lainnya. Saya senang sekali setiap kali dia punya lagu baru yang keluar. Dia ceria, suka bergaul, bahkan suka menghibur meski dalam keadaan sakit,” ujar Frans Harmonis sembari terisak mengenang adik tercintanya.

Dari sekian lagunya, redaksi sendiri terkesan dengan tiga lagunya dalam Album Pop Nias bersama Havino S Duha dalam Fondrara Dödö Group.

Dari semua lagu yang diciptakan oleh Havino tersebut, Frans Julfian kebagian jatah tiga lagu dengan judul “Fa’omasi Silö Aetu”, “No öhaogö Wo Fönu” dan “Yawasa Dödömö”.

Kata-kata puitis yang dilantunkan dengan suara khasnya yang melankolis, membuat lagu itu gampang diingat dan juga memberi warna dan daya tarik pada album itu. Album itu disebut-sebut salah satu yang paling laris.

…He döfi sitölu ribu, ba lö sa fa’aföligu. Fa’omasigu lö aetu, he sa mate dania mbotogu…” adalah salah satu kalimat dalam lagu dengan jusul “Fa’omasi Silö Aetu.” Bila diterjemahkan secara bebas, lirik itu berarti “Meski hingga/Pada tahun 3.000 sekalipun, saya tak akan bosan. Cintaku tak akan sirna, meski raga ini mati.”

Saking berkesannya kata-kata itu, tidak sedikit pendengar lagu itu menjadikannya kutipan pada status FB-nya. Markus Wau, seorang warga Pulau Tello yang berdomisili di Padang mengatakan, cuplikan lirik itu menjadi favorit bagi para penganten baru.

“Itu lirik lagu favorit para penganten laki-laki di Pulau Tello nich. Selamat jalan bang Frans,” ujar Markus yang masih berkerabat dengan almarhum Frans melalui keluarga istrinya.

Ada juga yang menggunakan cuplikan lirik lagu itu untuk istrinya sebagai pernyataan cinta.

“Saya sangat senang syair lagu ini. Kadang saya sering nyanyikan untuk istri supaya lebih mesra dan meyakinkan. Kalimat itu sangat dalam artinya,” ujar Rudi Manaö, warga Nias yang berdomisili di Bandung.

Rudi mengaku, lagu-lagu yang dinyanyikan Frans Julfian sangat bagus walau bukan dia yang menciptakannya.

“Kayaknya dia tidak sembarangan menyanyikan lagu. Dia penyanyi pop yang sangat baik”,” tambah dia.

Frans Julfian telah meninggalkan catatan yang berkesan dan telah menjadi warna hidup banyak orang melalui apa yang dimilikinya, meski dalam usia yang masih muda. Semoga generasi seniman berkualitas Nias makin bermunculan memberi warna.

Semoga keluarga tabah dan Tuhan yang kepada-Nya Frans Julfian menghadap, memberikan penghiburan dan kekuatan kepada keluarga melewati masa kedukaan ini.

Kami semua, pencinta dan penggemarnya, turut berdukacita. (EN)