Dr Yoyok W Subroto berteduh di Balai Desa Bawömataluo sembari memperhatikan keunikan konstruksi/arsitektur desa, pada saat riset perdana pada Agustus 2011 (Foto: Etis Nehe)

NIASONLINE, Jakarta – Melanjutkan riset yang telah digelar sejak Agustus 2011 lalu, tim ahli/riset gabungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah universitas di Jepang akan menggelar workshop di Bawömataluo pada 27-29 Desember 2012.

Ketua Tim Riset Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto menjelaskan, kedatangan mereka kali ini berbeda dengan beberapa kali kedatangan sebelumnya. Kali ini, tim akan memresentasikan hasil penelitian mereka sejak setahun lalu tersebut kepada masyarakat Bawömataluo.

“Dalam workshop itu, khusus dari Jepang, akan datang 11 profesor dari beberapa universitas dan memberikan presentasi. Beberapa dari mereka sudah bolak-balik ke Bawömataluo. Tapi juga ada yang baru bergabung dan datang ke Bawömataluo,” ujar Yoyok, Sabtu (22/12/2012).

Dalam workshop itu, Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo, Nias Selatan pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM itu mengatakan, 18 materi presentasi akan dibawakan. Tiga di antaranya dibawakan oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan dua warga Desa Bawömataluo, yakni Teruna Wau dan Ariston Manaö (Kepala Desa) untuk menjelaskan hasil kunjungan mereka ke Jepang bersama tim riset pada Oktober lalu.

“Mereka akan mempresentasikan hasil kunjungan mereka ke Jepang pada Oktober lalu supaya diketahui masyarkaat. Sisanya dibawakan oleh tim riset. Tidak hanya presentasi, juga akan ada diskusi,” jelas dia.

Selain presentasi, kata dia, tim juga akan mengadakan semacam simulasi yang melibatkan warga desa. Yakni, beberapa orang akan diberikan kamera dan diminta memotret bagian mana saja di desa itu yang dianggap menarik.

“Dari situ nanti kita akan analisis kira-kira sebenarnya tempat-tempat atau objek-objek mana saja yang menurut masyarakat sendiri menarik. Itu diperlukan untuk menyusun branding Bawömataluo sekaligus masterplan desa menjadi desa wisata ke depan,” papar dia.

Ditanya mengenai respons para peneliti asal Jepang terkait perkembangan riset sejauh ini, Yoyok mengatakan, para peneliti Jepang itu sangat antusias. Dari sisi keahlian, mereka sangat bersemangat dengan Desa Bawömataluo sebagai objek riset itu.

Seperti diketahui, salah satu professor yang menjadi ketua tim riset dari Jepang, Prof. Yasufumi Uekita, Ph. D telah berhasil menggolkan dua peninggalan budaya bersejarah menjadi warisan dunia di Unesco. Satu di Vietnam, dan satunya di Jepang.

Sebelum menggelar workshop, tim juga akan mengikuti acara Seminar Pemuda yang digelar di desa itu yang menghadirkan pembicara, salah satunya, putra desa itu, mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia, Hekinus Manaö.

Tim gabungan itu sendiri melakukan riset pendahuluan pada Agustus 2011. Selanjutnya disusul dengan riset lanjutan pada Juli 2012. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Wamendikbud Wiendu Nuryanti juga telah memberikan dukungannya atas riset ini.

Desa yang terkenal dengan perkampungan tradisional dan atraksi lompat batunya itu, telah masuk tentative list di Unesco sejak 2009. Namun, sejak itu, tidak pernah ada tindaklanjut hingga tim UGM-Jepang ini datang dan melakukan riset pada 2011 hingga saat ini.

Konsep Budaya

Yoyok menjelaskan, fokus riset mereka tidak hanya pada aspek fisik dari arsitektur Desa Bawömataluo yang unik dan menyimpan berbagai kekayaan. Melainkan juga mencakup aspek konsep budaya dalam masyarakat.

Yoyok mengatakan, dia sendiri akan membawakan materi tentang salah satu kekuatan budaya yang ada di Bawömataluo melalui analisis kekerabatan masyarakat di desa itu sendiri. Itu akan menjelaskan kekuatan kekerabatan yang merefleksikan kebudayaannya.

“Jadi, kita bukan cuma tertarik dengan fisiknya desa Bawömataluo, tapi juga kebudayaan yang menyertainya untuk mengetahui bagaimana sampai adanya sebuah keyakinan, kenapa kebudayaan ini bisa dikembangkan bisa sustained (berkelanjutan, red),” jelas dia.

Dia menjelaskan, aspek fisik dalam kebudayaan itu hanyalah akibat dari konsep budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Dan konsep budaya itu, kata dia, harus ditemukan kembali dan dilestarikan. Itu juga yang sebenarnya menjadi dasar pemikiran bagi upaya untuk melakukan pelestarian peninggalan budaya, termasuk di Desa Bawömataluo.

“Jadi kalau budaya konsep hilang, fisiknya hilang. Itu misalnya bahasa. Kalau Bahasa Nias hilang, ya, refleksi fisiknya juga akan hilang. Misal, kalau kata mbele-mbele (teras rumah) hilang, maka orienteasi fisik tentang mbele-mbele itu juga akan hilang dan fisiknya akan menyusul hilang,” tutur dia.

Dengan hilangnya konsep budaya tersebut, maka akan membawa pada pemikiran dimana warga merasa tidak perlu menjaga fisiknya. Sebaliknya, bila konsepnya dilestarikan, wujud fisik dari kebudayaan itu, kalaupun hilang, bisa diproduksi lagi.

Ekonomi Bukan Tujuan

Direktur Magister Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata (MPAR) UGM tersebut menambahkan, dalam kaitan dengan pelestarian Desa Bawömataluo, sebagaimana menjadi tujuan dari riset tersebut, aspek ekonomi bukanlah tujuan utama. Menurut dia, aspek ekonomi berupa dampak finansial yang mungkin mengalir ke desa itu, hanyalah dampak dari pelestarian itu. itu juga yang harus jadi cara berpikir warga Desa Bawömataluo.

“Jadi, dalam hal ini, aspek ekonomi bukan jadi tujuan. Tetapi hanya menjadi dampak. Ketika ekonomi menjadi panglima, ya nanti lambat atau cepat budaya itu akan hilang. Karena semua bisa dijual. Tapi, kalau budaya yang jadi panglima, tidak akan dikuatirkan. Setiap manusia Bawömataluo yang lahir, akan disertai dengan identitas dan karakternya yang dijaga. Dan dengan demikian tidak lagi terjadi kemiskinan budaya di situ,” tandas dia.

Sebagai contoh, mengenai cara membangun rumah. Itu harus ditularkan ke generasi berikutnya. Namun, ketika membangun pun, termasuk merestorasi yang sudah ada, tidak boleh sampai melenceng dan menghilangkan aspek-aspek keasliannya.

Menurut dia, mungkin dengan merehab bisa saja terlihat menarik. Tapi, bila tidak hati-hati, nilai keasliannya akan hilang.

“Kalau pembangunan yang dilakukan merusak keasliannya, lama-lama, anak-anak Bawömataluo pun tidak tahu yang mana sebenarnya budaya asli mereka. Jangan sampai terjadi seperti ilustrasi, anak Jepang yang bertanya dimana pabrik telur karena tidak pernah lihat ayam,” kata dia. (EN)

Facebook Comments