Salah satu aksi peselancar di Pantai Sorake, Nias Selatan (Foto: Mark Flint)

NIASONLINE, Jakarta – Hanya berselang sekitar dua tahun usai didera gempa dan tsunami, wisata selancar (surfing) di Kepulauan Mentawai sudah pulih kembali. Ditandai dengan mulai melonjaknya kembali wisatawan peselancar ke daerah itu.

“Kegiatan surfing di lokasi-lokasi andalan Mentawai telah kembali dan justru terus meningkat pascatsunami,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Mentawai, Desti Seminora di Padang, Selasa (28/8/2012) seperti dikutip dari Antara.

Usai bencana yang menewaskan 447 orang pada 25 Oktober 2010 itu, kunjungan wisatawan mancanegara memang merosot. Itu juga berimbas pada kedatangan peselancar dan aktivitas selancar.

Tidak hanya itu, gempa dan tsunami itu juga menghancurkan banyak sarana dan prasarana surfing rusak berat. Di antaranya, satu spot (lokasi) berselancar kelas dunia di pantai dan resort Macaroni di Pantai Sikabu, Mentawai.

Jumlah peselancar dunia ke Mentawai kini, kata dia, mencapai 4.000 orang per tahun. Hampir sama dengan jumlah kunjungan wisatawan asing sebelum gempa.

Tak hanya melonjaknya kedatangan wisatawan peselancar, di luar dugaan, ternyata juga terjadi lonjakan investor yang menanamkan modalnya di wilayah itu.

“Sebelum tsunami, tercatat lima investor asing yang menanamkan modalnya di bidang resort surfing di Mentawai. Namun, paska tsunami, jumlahnya meningkat drastis hingga 15 investor,” jelas dia.

Dia menambahkan, kepulauan Mentawai memiliki 40 lokasi pantai surfing kategori terbaik di dunia dan diakui para peselancar mancanegara yang telah menjajal keganasan ombak di kepulauan ini.

Apa Kabar Wisata Surfing Nias Selatan?

Pulihnya pariwisata surfing Mentawai patut diacungi jempol. Sekaligus menjadi pembelajaran bagi daerah lain yang kaya potensi untuk tahu membenahi diri.

Salah satunya, Kabupaten Nias Selatan. Wilayah itu memiliki salah satu pantai dengan ombak yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia selama ini.

Namun sayang, apa yang terjadi di Mentawai, tidak terjadi di sana. Kini pantai dan laut di wilayah Lagundri dan Sorake tersebut lebih sering sepi dibanding ramainya.

Paska gempa 2005, tidak ada perbaikan yang signifikan di sana. Baik dari segi kunjungan wisatawan, maupun infrastrukturnya.

Banyak yang berharap wisata selancar yang selama ini menjadi ikon Pulau Nias tersebut akan menjadi pundi-pundi uang kabupaten Nias Selatan. Tapi tampaknya tidak demikian.

Tampaknya, Pemda pun tidak menjadikannya sebagai potensi strategis yang bisa menjadi sumber pemasukan, baik bagi daerah maupun masyarakat setempat.

Bahkan, jangankan untuk merancang kompetisi yang akan menarik peselancar dan turis untuk memadati objek wisata itu. Agenda kompetisi selancar yang pernah dijadwalkan pun pada tahun lalu dibatalkan oleh pemerintah setempat.

Sejatinya, Pulau Nias, tidak hanya Nias Selatan, memiliki banyak potensi wisata laut yang luar biasa. Tapi, tampaknya semua mati suri, kalau tidak bisa dikatakan hampir benar-benar mati.

Yang jelas, Mentawai kini sudah menjelma menjadi ‘raksasa’ wisata laut, khususnya selancar. Tidak hanya menggeser posisi Nias Selatan. Bahkan, (mungkin telah) menendangnya keluar dari daftar daerah tujuan favorit peselancar dunia.
Semoga belum benar-benar demikian. (EN)

Facebook Comments