Ditingkatkan ke Penyidikan, Kejatisu Pastikan Indikasi Korupsi Dana Bencana di Nias Selatan

Kepala Kejaksaan Tinggu Sumatera Utara (Kejatisu) Noor Rahmad (Foto: waspada.co.id)

NIASONLINE, Jakarta – Babak baru pengusutan dugaan korupsi penyelewengan dana bantuan bencana alam di Desa Hilimbaruzö, Kecamatan Mazö, Kabupaten Nias Selatan mulai terbuka.

Hanya sekitar dua bulan sejak dilaporkan atau sekitar sebulan sejak pemeriksaan para pejabat dan kontraktor dari Kabupaten Nias Selatan, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) tiba pada kesimpulan adanya indikasi korupsi pada kasus itu.

Kepala Kejatisu Noor Rahmad mengungkapkan, setelah indikasi korupsi itu dipastikan, pihaknya langsung menaikkan status kasus itu ke tingkat penyidikan.

“Saya sudah menerima laporan mengenai kasus itu. Dari kesimpulan tim, ada indikasi korupsinya. Saya sudah mendisposisi ke Jaksa Pidana Khusus (Japidsus) untuk menindaklanjutinya,” ujar mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung itu di Medan, Jumat (27/7/2012).

Selanjutnya, pihaknya segera membentuk tim untuk menangani lebih jauh kasus itu. Noor mengatakan, surat perintah penyidikan (Sprindik) sudah dibuat dan akan dilanjutkan dengan pemanggilan para saksi dan pihak terkait lainnya setelah terbentuknya tim yang menangani kasus itu.

Namun, siapa saja tersangka pada kasus itu, belum ada informasi lebih lanjut.
Kasus dugaan penyelewengan dana bantuan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebesar Rp 5 miliar yang bersumber dari APBD 2011 tersebut dilaporkan ke Kejatisu pada dua bulan lalu

Sebelumnya, kepada Nias Online, Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi membenarkan pemanggilan sejumlah pejabatnya oleh Kejatisu terkait kasus itu.

Idealisman juga yakin tidak ada yang salah dengan pengelolaan dana itu. namun, dia menyerahkannya kepada proses yang berlaku.

Adapun para pejabat Kabupaten Nias Selatan yang telah dipanggil dan diperiksa Kejatisu di antaranya, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nisel Foluaha Lajira, Kadis Sosial Tandramböwö Lase, Bendahara BPBD Darma Winata Nehe, PPK Bencana Alam Dinas PU Adventinus Zendratö.

Sedangkan para kontraktor yang menangani proyek tersebut juga turut dipanggil, diantaranya Direktur CV Soakhe Faigiha Laia, Wakil Direktur CV Agung Setia Haogöziduhu Sadawa, dan Direktur CV Selatan Mandiri Antonius Dachi.

Surat panggilan mereka diterbitkan pada 29 Juni 2012 yang ditandatangani oleh An. Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Assisten Intelejen Raja Nafrizal SH. Para pejabat dan kontraktor tersebut diminta untuk menemui Kasi I pada Asisten Intelijen Kejatisu Julfikar Nasution SH pada tanggal 4 Juli 2012 hingga 6 Juli 2012. (EN)

Komentari

CRISTIAN NDRURU ST says:

NIAS SELATAN KACAU,,,DI SAAT PERGANTIAN KEPALA DAERA…, MEMANG NIAS SELATAN INI CUMA NAMA DOG PARA PEJABAT…, ???

cristian nduru says:

harapan kami kepada bapak kejatisu , secepatnya adaNya pemeriksaan pejabat -pejabat nias selatan tetang pelanyalagunaan dana kec.mazo,, kami masyarakat nias selatan merasa di bodo-badohi para pejabat nias selatan,, dan pejabat nias selatan memetikan diri sendiri,bukan masyarakat kecil yang di perhatikan ,apakah layak seorang pemimpi memetikan diri sendri, dan membuat korupsi kepada masyarakat kecil
nias selatan….. kami mohon kepada bapak kajatisu ,bukan hanya diperiksa langsu di tahan siapa KKN di nias selatan itu….NIAS SELATAN TETAP MAJU TRUS…???

Vivin Dachi says:

SAMAHATO BUULOLO adalah PEMBOHNONG dan DIA MUNAFIK….
SEMENTARA DANA BENCANA BANJIR MASIO Pada tahun 2001 lalu dia telan bulat2 bantuan2 yang masuk. Karena pada saat itu SAMAHATO BUULOLO masih menjabat Kepala Desa Golambanua I Kec. Lahusa.

Ini munafik, sebaiknya ia ditangkap!!!!

Hezisokhi Lase SE says:

penjabat yang mekorup uang negara di nisel hukum mati

april says says:

visi dan misi pejabat ini percuma dipaparkan di masyarakat,kalau cuman mulut doang…
gak pernah betul…
hummmm

duh.. baru brapa tahun pergantian kepala daerah, sdh rame calon tersangka korupsi lagi di Nias Selatan. Ada apa ya??????????

Pemberantasan Korupsi bukan hanya tekad dan misi Kejatisu atau penegak hukum di Negeri ini tetapi hal tersebut merupakan salah satu visi misi Bupati Nias Selatan Idealisman Dakhi pasca Pemilukada Nisel tahun 2010 yang lalu dan terbukti dengan tidak menghalangi para Pejabatnya selama mengikuti proses penyelidikan kasus dugaan korupsi dana bencana alam di Kecamatan Mazo Kabupaten Nias Selatan di Kejati Sumut sampai kasus tipikor dimaksud ditingkatkan ke penyidikan.

Dengan sejalannya visi misi Bupati Nisel dan Kajatisu didalam pemberantasan Tipikor, maka tidak ada lagi alasan pihak Tim Penyidik Kejatisu memperlambat penetapan dan penahanan para tersangka dalam kasus tipikor Dana Bencana Alam tersebut serta diharapkan agar Kejatisu menelusuri Dana bantuan Bencana Alam Kecamatan Mazo yang bersumber dari Instansi lain seperti dari BNPB Pusat karena yang diselidiki tersebut masih sebatas anggaran dari Dana Cadangan APBD Nisel TA. 2011 Rp. 5 milyar.

Selanjutnya masyarakat Nisel mengharapkan tindaklanjut proses kasus dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Nisel TA. 2011, baik mengenai Anggaran Pendidikan Gratis yang tertampung melalui P-APBD Nisel TA. 2011 sebesar Rp. 17,8 Milyar dan maupun Anggaran DAK sebesar Rp. 62 Milyar yang diduga merugikan keuangan negara dan/atau keuangan Daerah mencapai puluhan milyar rupiah.

Harapan kita supaya Bapak Kajatisu membentuk Tim yang turun langsung ke lapangan disekolah-sekolah di Nisel untuk meneliti Anggaran Pendidikan Gratis untuk SMA/SMK dan STKIP & STIE di Nisel serta pelaksanaan DAK di SDN/MI & SMP/MTs di Nisel sehingga dapat dengan jelas serta terang benderang kebenaran dari pada dugaan korupsi yang terjadi di Dinas Pendidikan Nisel.

Modus korupsi anggaran pendidikan Gratis yaitu untuk STIKP & STIE supaya ditelusuri jumlah Mahasiswa Tahun Pelajarn 2011/2012 serta sasaran penggunaan Anggarannya, sebab menurut informasi bahwa salah satu alokasi anggaran diperuntukan untuk pengadaan Jaket Almamater dengan nilai Rp. 1 Milyar lebih tetapi tidak dilakukan pelelangan, sedangkan modus operandi dugaan korupsi dana pendidikan gratis untuk SMA/SMK dilakukan dengan istilah “dana titipan” melalui rekening SMA/SMK Negeri se-Kabupaten Nisel, misalnya di SMAN 1 Lahusa sesuai SK Kepala Dinas Pendidikan Nisel Nomor 420/7075-DM/2011 tanggal 20 Juli 2011 menerima Dana Pembebasan Biaya Pendidikan selama 1 semester (Juli s/d Desember 2011) sebesar Rp.103.938.120,- tetapi yang ditransver ke rekening SMAN 1 Lahusa di Bank Sumut No. rek. 271.02.04.006624-0 sebanyak 2 kali berjumlah sebesar Rp. 178.938.120,- sehingga dugaan d\”dana titipan ” Rp. 75 juta, begitu pula di SMKN 1 Lahusa Rp.138.330.450,- tetapi yang ditransver ke rekening SMAN 1 Lahusa di Bank Sumut No. rek. 271.02.04.010460-6 sebesar Rp. 218.330.450,- sehingga dugaan d\”dana titipan ” Rp. 80 juta, maka jumlah “dana titipan” melalui rekening 60 unit SMA/SMK Negeri se-Kab. Nisel mencapai Rp. 3 miliar.

Sedangkan modus ala korupsi pada DAK untuk SD/SMP Negeri/Swasta di Nisel TA. 2011 dengan anggaran sebesar Rp. 62 milyar (termasuk Luncuran DAK TA. 2010), misalnya di SDN.No. 071211 Helezalulu Kec. Lahusa menerima DAK Rp. 300 juta sedangkan nilai barang yang diterima hanya berkisar Rp. 20 s/d 30 juta, SDN.No. 077302 Golambanua-I Kec. Lahusa menerima DAK Rp. 111 juta tetapi sampai sekarang belum menerima, SDN.No. 071209 Bawonauru Kec. Lahusa menerima DAK Rp. 400 juta tapi nilai barang yang diterima hanya berkisar Rp. 20 s/d juta, di SDN. Sukamaju Tasua Kec. Lahusa menerima DAK Rp. 700 juta tetapi nilai barang yang diterima hanya berkisar Rp. 25 s/d 30 juta, sehingga dugaan kerugian keuangan negera yang dikorupsikan mencapai Rp. 20 s/d 30 milyar.

Memang beberapa hari yang lalu oleh Kasi Intel Kejari Teluk Dalam bermarga Lubis telah turun kelapangan menanyakan pelaksanaan DAK di sekolah-sekolah seperti di SDN.No. 071211 Helezalulu Kec. Lahusa, SDN.No. 077302 Golambanua-I, SDN.No. 071209 Bawonauru Kec. Lahusa, SDN. Sukamaju Tasua Kec. Lahusa dan beberapa sekolah lainnya dan para Kepala Sekolah memberitahukan apa saja jenis barang yang mereka terima, maka apabila hasil penyelidikan lapangan tersebut tidak akan berubah pada laporan di Kejatisu nantinya maka kita pastikan kasus tipikor pada disdik nisel menjadi tambahan lembaran baru di Kejatisu.

Dengan ketegasan Bapak Kajatisu dan keterbukaan Bupati Nisel didalam mendukung proses penegakan hukum, kita yakin bahwa kasus dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Nisel TA. 2011 akan menjadi kenyataan dan menjadi efek jera terhadap oknum Pejabat yang hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa mau berkomitmen mendukung visi misi Bupati Nisel yang sedang giat melakukan perubahan dibumi Nisel.

Sebagai bahan kepada Bapak Kejatisu bahwa setelah dugaan kasus korupsi pada Dinas Pendidikan Nisel dilaporkan ke Penegak Hukum oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Badan Independen Peneliti Harta Kekayaan Pejabat & Pengusaha RI (DPD-BIP HKPP RI) Provinsi Sumatera Utara yang juga kebetulan selaku Ketua Badan Pembina / Pendiri Yayasan “Amal-Mas” Sumatera Utara sehingga adanya dugaan pencabutan / pembatalan Izin Operasional beberapa Sekolah (SD/SMP/SMA/SMK dilingkungan Yayasan “Amal-Mas” Sumatera Utara yang sudah beroperasi selama setahun (2011/2012) dari oknum Kepala Dinas Pendidikan Nisel tanpa alasan yang tepat dan jelas serta SMA/SMK yang belum ikut dicabut Izin Operasionalnya sejak bulan April sampai Agustus 2012 belum menerima Dana Pembebasan Biaya Pendidikan dari Dinas Pendidikan seperti sekolah lainnya, dan yang paling anehnya lagi adanya 5 orang Guru Bantu Daerah (GBD) yang baru diangkat pada bulan April 2012 di SMA/SMK Swasta “Amal-Mas” 1 tersebut tiba-tiba dipindahkan ke Sekolah lain yang jauh tanpa alasan sehingga adanya dugaan bahwa tindakan oknum Kadis Pendidikan Nisel tersebut ada kaitannya dengan terbongkarnya dugaan korupsi yang telah dilaporkan tersebut.

Kami sangat mengharapkan keseriusan dan ketegasan Bapak Kajatisu untuk mengungkap dan menuntaskan dugaan kasus tipikor di Disdik Nisel karena demi mendapatkan kepastian hukum.

Terima Kasih.

Samahato Buulolo / Ketua Baleg DPRD Nisel 2009 – 2014
HP. 0853 7390 6222

Putra Dinasti Dachi says:

Harus dengan karya nyata, bukan hanya karya kata, buktikan merahmu, buuuunnng….!!!

Ya’ahowu!!!, Jbu”

SUMANGELI MENDROFA says:

Mantap