Yori Antar (Foto: IST)

NIASONLINE, Jakarta – Sampai saat ini banyak yang berpikir bahwa untuk memajukan pariwisata di berbagai wilayah, khususnya di daerah, harus ditandai dengan kehadiran hotel atau aneka model penginapan modern.

Tapi sebenarnya tidaklah demikian. Saat ini ada pergeseran kecenderungan wisatawan, khususnya yang menyasar daerah-daerah yang masih menyimpan berbagai keunikan. Tidak hanya alam tapi juga yang menyatu dengan kebudayaan setempat.

Kecenderungan itu adalah, para turis tidak menginginkan tinggal di hotel. Melainkan, berbaur dengan masyarakat dan tinggal bersama mereka.

“Kecenderungannya itu, para turis lebih suka dengan home stay, bukan hotel. Mereka bisa lebih menikmati daerah yang mereka kunjungi dengan hidup bersama warga setempat. Jadi, mereka tidak hanya menikmati objek wisata tapi juga menikmati kehidupan warga setempat,” ujar staf khusus Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Yori Antar kepada Nias Online di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, Senin (16/7/2012).

Karena itu, yang harus dilakukan saat ini adalah, melatih para warga untuk menyiapkan tempat tinggalnya untuk menjadi tempat menumpang bagi turis. Tidak perlu mewah seperti hotel karena yang ingin dirasakan adalah kesederhanaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Asal ada kamar yang standar saja. Kemudian, tuan rumah juga dilatih memasak makanan yang sesuai dengan kebutuhan turis. Kalau tidak suka makan nasi, maka dilatih bagaimana menyiapkan kentang dan sebagainya,” jelas dia.

Pergeseran ini, kata dia, kalau dimanfaatkan oleh masyarakat di desa-desa yang menjadi objek wisata, hasilnya akan terasa langsung kepada masyarakat. Tidak lagi hanya dinikmati oleh para pengusaha hotel atau penginapan.

“Jadi, pariwisatanya dikunjungi, masyarakatnya juga sustain dengan adanya pemasukan itu. Nah, tinggal bagaimana juga melatih masyarakatnya agar ramah untuk kegiatan turisme,” jelas arsitek yang memfokuskan diri pada pelestarian bangunan-bangunan tradisional bersejarah itu.

Selama ini, di berbagai daerah wisata, turis cuma datang melihat, tapi masyarakat tidak menikmati hasil kedatangan mereka di daerah mereka. Yang menikmati para pengusaha hotel di luar daerah itu.

“Tapi kalau misalnya, turisnya datang ke Bawömataluo dan desa-desa sekitarnya, dan di sana ada home stay, mereka bisa menginap di situ saja. Mereka dapat menikmati kehidupan di situ, dan tempat mereka menginap juga mendapatkan pemasukan langsung,” jelas pria yang pernah berkali-kali ke Pulau Nias dan ikut mengorganisir pembangunan rumah adat di Tögindrawa, Kota Gunungsitoli tersebut.

Yori sendiri saat ini ditugaskan khusus oleh Wamen bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti untuk mendata desa adat-desa adat di seluruh Indonesia untuk dimasukkan dalam program pelestarian. Daerah-daerah itu sekaligus akan menjadi daya tarik turisme di masing-masing wilayah. (EN)

Facebook Comments