Kiri-Kanan: Yori Antar, Prof. Yasufumi Uekita, Ph. D, Waspada Wau, Surya Helmi, Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto, Etis Nehe dan Bpk Yusuf dan Ibu Yuni. (Foto: TYWS)

NIASONLINE, Jakarta – Ada perkembangan positif terkait perjuangan menjadikan Desa Bawömataluo menjadi warisan dunia (world heritage) di Unesco.

Hari ini, dalam pertemuan dengan Tim Riset Jepang-UGM, perwakilan warga desa Bawömataluo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan dukungan untuk upaya itu.

“Pada intinya kita dukung. Ini malah sangat baik sebagai bagian untuk melestarikan desa-desa tradisional di Indonesia,” ujar Direktur Pelestarian Cagar Budaya & Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Surya Helmi dalam pertemuan dengan Tim Riset Jepang-UGM bersama wakil masyarakat Desa Bawömataluo di Kantornya di Jakarta, Senin (16/7/2012).

Awalnya, pertemuan telah dijadwalkan dengan Wamen bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti. Namun, karena ada rapat mendadak dengan jajaran kementerian lain, Wamen Wiendu mewakilkannya kepada Helmi dan stafnya.

Hadir dalam pertemuan itu, Ketua Tim Riset Jepang-UGM Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto, Prof. Yasufumi Uekita, Ph. D (Tim Jepang), Andis Razaka (Pendamping) serta perwakilan warga Desa Bawömataluo, Waspada Wau dan Etis Nehe.

Juga hadir staf khusus Wakil Mendikbud Wiendu Nuryanti untuk pendataan desa-desa adat yang akan diselamatkan, Yori Antar. Yori telah beberapa kali ke Pulau Nias dan bekerjasama dengan Yayasan Museum Pusaka Nias, termasuk membangun rumah adat di Tögindrawa.

Dalam pertemuan itu, Yoyok menjelaskan secara lengkap tujuan dari riset itu, terutama tujuan jangka panjangnya. Dia juga mengatakan, pemilihan desa itu sebagai objek riset, karena berbagai kekayaan budaya yang masih terpelihara di desa itu dan harus diselamatkan.

Bahkan, riset itu, tidak hanya untuk menjadikan desa itu warisan dunia, tapi juga akan menjadi role model (percontohan) bagi penyelamatan desa adat-desa adat lainnya di wilayah itu.

“Kami tidak semata-mata riset untuk Desa Bawömataluo. Cuma, Desa Bawömataluo sebagai model. Nanti itu disampaikan dalam masterplan,” jelas dia.

Sementara itu, perwakilan tim Jepang dari Universitas Tsukuba, Uekita, mengakui tidak mudah melestarikan bangunan-bangunan kayu di desa itu. Karena itu, dukungan masyarakat sangat menentukan manfaat akhir dari riset itu.

“Kami memikirkan bagaimana melestarikannya melalui komunitas yang ada di sana. Ini berbasis apa yang ada di sana, yang bisa dimanfatkan dan membuat masterplan bersama mereka. Pada dasarnya kami ingin membantu bagaimana melestarikan desa tersebut dan menentukan perkembangan desa itu ke depan secara bersama-sama,” kata dia.

Suasana pertemuan antara tim riset, perwakilan warga Bawomataluo dan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Foto: EN)

Sampai Kapan Jadi Kebanggaan?

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Bawömataluo Waspada Wau mengatakan, sangat surprised dengan kehadiran tim riset tersebut beserta dukungan Kemdikbud. Sebab, selama ini, kata dia, ada kekuatiran bahwa berbagai keunikan desa itu yang selama menjadi kebanggaan dalam waktu tidak terlalu lama akan tinggal kenangan.

“Kalau sekarang kami punya kebanggaan, desa itu dengan segala yang ada di dalamnya. Tapi sebenarnya, kami juga bertanya-tanya sampai kapan itu tetap jadi kebanggaan. Jangan-jangan sebentar lagi tinggal kenangan. Karena itu, sebagai bagian dari masyarakat, kami sangat berterima kasih dengan dukungan ini,” kata dia.

Riset itu sendiri melibatkan delapan profesor dari lima universitas terkenal di Jepang dan para ahli dari UGM. Mereka telah memulai riset pendahuluan pada Agustus 2011. Selanjutnya, awal bulan ini, selama 14 hari, tim tersebut melakukan riset lanjutan.

Desa Bawömataluo sendiri telah masuk dalam tentative list untuk warisan dunia di Unesco sejak 2009. Namun, setelah itu, tidak ada upaya serius untuk memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk mendukung upaya menjadikannya warisan dunia sampai tim Jepang-UGM itu datang melakukan riset komprehensif untuk tujuan itu. (EN)

Facebook Comments