Dr Yoyok W Subroto berteduh di Balai Desa Bawömataluo sembari memperhatikan keunikan konstruksi/arsitektur desa, pada saat riset perdana pada Agustus 2011 (Foto: Etis Nehe)

NIASONLINE, JAKARTA – Tim peneliti dari Jepang dan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali akan datang ke Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan awal bulan depan.

Kedatangan para ahli itu dalam rangka melanjutkan kegiatan penelitian untuk mendukung upaya pengusulan Desa Bawömataluo sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) yang telah mulai dilaksanakan tahun lalu.

“Melanjutkan riset tahun lalu, tim akan datang pada awal Juli depan. Selama dua minggu akan berada di sana untuk melakukan riset mendalam,” ujar Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo, Nias Selatan pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM yang juga Ketua Tim Bersama Jepang-UGM T. Yoyok Wahyu Subroto kepada Nias Online di Jakarta, Selasa (19/6/2012).

Tidak selesai sampai di situ, tim juga akan datang kembali pada Oktober untuk finalisasi riset. Selanjutnya, kembali akan datang pada Desember 2012 untuk memaparkan hasil riset tersebut kepada masyarakat dalam bentuk diskusi publik.

Tim yang terdiri dari 10 orang tersebut akan berada di Bawömataluo selama tanggal 1-15 Juli 2012.

Direktur Magister Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata (MPAR), UGM itu menjelaskan, dari UGM akan terdiri dari 10 orang, terdiri dari dosen ahli dan mahasiswa. Sedangkan tim dari Tsukuba University, Jepang, berjumlah 8 orang, juga terdiri dari dosen dan mahasiswa.

“Tim akan melakukan survei mendalam di Desa Bawömataluo berupa pengukuran ulang rumah adat dan Balai Desa serta melakukan wawancara terhadap masyarakat setempat yang terdiri dari 150 KK,” ujar Yoyok yang juga anggota Executive Committee International Society of Habitat Engineering and Design (ISHED), Kyushu University- UN-Habitat, Fukuoka, Jepang itu.

Stadium Empat

Tim ahli kegempaan dari Jepang melakukan uji Micro Tremor pada konstruksi Omo Sebua Bawömataluo (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

Hasil riset menyeluruh pada penelitian perdana pada 5-6 Agustus 2011 yang difokuskan pada pemeriksaan dan pengujian fisik Omo Sebua (Omo Nifolasara) di Desa Bawömataluo menunjukkan kondisi konstruksi rumah itu sudah sangat rapuh.

Tim pun menyimpulkan rumah bersejarah itu tak bisa dipertahankan dengan kondisinya saat ini. Harus dibongkar total dan dibangun ulang.

“Kondisinya parah. Kalau dianalogikan dengan penyakit kanker, maka sudah stadium empat,” ujar Yoyok saat itu kepada Nias Online yang ikut mendampingi kegiatan mereka selama dua hari.

Kesimpulan itu juga ditegaskan ketua tim peneliti Jepang, Prof. Dr Koji Sato yang bahkan sempat memanjat dari dalam hingga ke bubungan rumah untuk memotret kondisi kayu-kayu yang membentuk rumah itu. Di bagian atas ditemukan banyak kayu yang mengalami kerusakan berat.

“Kondisi rumah ini kritis. Tidak bisa bertahan lama. Perlu restorasi segera. 70% bagian bawah rumah kritis,” ungkap Sato.

Selama dua hari, tim juga melakukan uji micro tremor menggunakan berbagai peralatan canggih yang diboyong langsung dari Jepang untuk menguji daya tahan rumah itu terhadap getaran dan goncangan, terutama gempa.

Desa Bawömataluo sendiri telah diajukan ke Unesco pada 2009 sebagai kandidat warisan dunia. Pada tahun itu, Desa Bawömataluo sudah masuk dalam tentative list. Namun, kemudian tidak ada tindaklanjut berupa penyiapan aspek pendukung sampai tim Jepang dan UGM ini berinisiatif melakukan penelitian untuk mendukung pengajuan itu.
(EN)

Facebook Comments