NIASONLINE, BANDA ACEH – Multi Donor Fund (MDF) akan mengakhiri programnya membantu pemulihan Aceh dan Nias paskatsunami pada akhir Desember 2012. Keberhasilan rehabilitasi dan rekontruksi wilayah itu diharap menjadi contoh bagi dunia dalam menata pembangunan usai bencana.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia yang juga salah satu Ketua Bersama dan Wali Amanah MDF, Stefan G Koeberle mengatakan, kesuksesan rekonstruksi Aceh dan Nias setelah bencana gempa dan tsunami, karena kita berhasil membangun sebuah pendekatan kemitraan.

“Kita patut berbangga atas keberhasilan ini, terlebih mengetahui bahwa masyarakat telah menjadi lebih tangguh dalam menghadapi bencana,” kata Koerberle di Banda Aceh, Selasa (12/6/2012).

MDF dibentuk pada 2005 untuk membantu rekonstruksi dan rehabilitasi Indonesia paskatsunami 26 Desember 2004. MDF yang terdiri dari Uni Eropa, Pemerintah Belanda, Inggris, Bank Dunia, pemerintah Swedia, Denmark, Norwegia, Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Selandia Baru, Irlandia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) menghimpun dana hibah dari senilai USD655 juta.

MDF berkontribusi terhadap 26 program yang terbagi atas enam bidang hasil yaitu pemulihan masyarakat, pembangunan infrastuktur besar dan transportasi, penguatan tata kelola pemerintahan, pelestarian lingkungan dan peningkatan proses pemulihan serta pembangunan ekonomi.

“Bersama, kita tidak hanya membangun kembali wilayah yang terkena tsunami dan gempa bumi. Namun, kita juga berhasil membangun sebuah pendekatan kemitraan untuk rekonstruksi pascabencana. Pendekatan ini telah diadaptasi di Jawa pascagempa 2006 dan juga mulai dipakai di daerah rawan bencana lainnya di dunia,” jelas Koerberle.

MDF merilis telah membangun dan merehabilitasi 20 ribu unit rumah, membangun 600 kilometer jalan nasional dan provinsi, 3 ribu Km jalan kabupaten dan desa, membangun lima pelabuhan, merekontruksi serta merehabilitasi 650 unit sekolah di Aceh maupun Nias. Selain ikut memberdayakan ekonomi rakyat.

“Contoh keberhasilan ini antara lain, telah terlatihnya 34 ribu petani dan nelayan dalam hal peningkatan kemampuan usaha dan teknis. Selain itu, MDF juga telah mengedepankan aspek kelestarian lingkungan agar keanekaragaman hayati yang dimiliki Aceh dapat terus terjaga,” ujarnya.

MDF dinilai mampu menunjukkan keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam mengelola program multi pihak untuk rekonstruksi pascabencana yang terbesar di dunia.

Menurutnya pendekatan yang dilakukan MDF dalam pembangunan Aceh dan Nias ini patut ditiru atau menjadi pelajaran bagi dunia.

“Pembelajaran yang dihasilkan oleh program ini tidak hanya mempersiapkan Aceh dan Nias dalam menghadapi bencana di masa yang akan datang, namun juga dapat membantu wilayah rawan bencana lain di berbagai belahan dunia,” sebut Koerberle.

Erik Habers, delegasi Uni Eropa mengatakan negara-negara Eropa berkontribusi 85 persen dari keseluruhan dana dikelola MDF. “Warga negara di mana donor MDF berasal sangat puas mengetahui bahwa kontribusi mereka telah membantu masyarakat Aceh dan Nias. Semoga manfaat yang dihasilkan dapat terus dirasakan hingga masa yang akan dating,” ujarnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Max Pohan mengatakan, Pemerintah Indonesia bangga dengan keberhasilan MDF.

“Pemerintah bertekad agar Aceh dan Nias dapat berkonsentrasi kepada upaya-upaya pembangunan yang berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat Aceh dan Nias pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” sebut dia. (ade)

Sumber: okezone.com

Facebook Comments