Bupati Idealisman Janji Telusuri Kesalahan Informasi di Situs Resmi Disbudpar Nias Selatan

Rumah Tradisional di Desa Bawömataluo. Rumah serupa juga ditemukan di beberapa desa di Kabupaten Nias Selatan (Foto: Etis Nehe)

NIASONLINE, JAKARTA – Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman berjanji akan menelusuri masalah penyajian informasi yang salah tentang situs tujuan wisata yang disajikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nias Selatan.

“Ok, saya akan telusuri,” ujarnya kepada Nias Online melalui pesan singkat ketika dimintai tanggapan terkait pemuatan informasi yang salah dan yang telah dibiarkan berbulan-bulan tanpa perbaikan di situs www.southniastourism.com, Senin (04/6/2012).

Seperti diberitakan sebelumnya, situs tersebut sudah mulai tayang sejak tahun lalu.
Namun, sangat disesalkan, meski menyandang status “Situs Resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nias Selatan’ dan menggunakan logo dinas tersebut, ternyata situs itu sudah lama tidak diperbarui.

Di antaranya, pada menu ‘Tujuan Wisata’. Di sana hanya ada nama beberapa desa yang menjadi daerah tujuan wisata seperti, Bawömataluo, Orahili, Hilisimaetanö, Pantai Sorake, Pantai Lagundri, dan Botohili Tanö. Padahal, masih banyak obyek wisata lainnya di Nias Selatan.

Kemudian, ternyata nama-nama desa itu tidak semuanya semua berisi informasi yang dibutuhkan bila di’klik’. Hanya deskripsi tujuan wisata di desa Bawömataluo, Pantai Sorake dan Pantai Lagundri yang ada.

Nah, yang lebih fatal lagi, deskripsi yang diberikan, khususnya pada daerah tujuan wisata Desa Bawömataluo, salah total. Mulai dari foto desa hingga beberapa informasi yang diberikan.

Pada deskripsi tersebut, foto desa Bawömataluo justru menggunakan foto rumah tradisional dari salah satu daerah/suku di daratan Sumatera Utara. Tidak hanya itu, keterangan yang diberikan juga banyak yang tidak benar.

Foto rumah tradisional dari daerah lain yang ditampilkan pada profil Desa Bawömataluo di situs www.southniastourism.com yang berbeda dengan foto asli rumah tradisional di Desa Bawömataluo seperti ditampilkan di atas (foto pertama) (Foto: Etis Nehe)

Seperti usia rumah adat dan jarak antara Bandara Binaka menuju desa tersebut yang tertulis hanya 15 kilometer. Padahal sejatinya, sekitar 120 kilometer. Kelihatannya, deskripsi itu asal copy dari tulisan yang akurasinya tidak tepat.

Dari pantauan Nias Online, kesalahan ini sudah lama terjadi dan tampaknya tidak dipedulikan oleh pihak terkait.

Pihak terkait juga tidak memberikan keterangan apakah informasi tersebut tidak benar adanya, dalam perbaikan atau sebaliknya, menonaktifkan situs itu agar tidak terus menyajikan informasi yang salah.

Untuk diketahui, situs tersebut mengingat menjadi representasi pariwisata Nias Selatan, akan banyak yang melihatnya. Tentu saja, terlalu ceroboh bila harapannya menarik minat wisatawan, tapi menyajikan informasi yang tidak menari, tidak lengkap, dan apalagi salah fatal. (EN)

Komentari

Informasi yang keliru dapat menjadi preseden buruk bagi pengembangan pariwisata Nias Selatan. Bisnis pariwisata adalah modal kepercayaan bagi wisatawan. Seudah seyogiyanya pihak BudPar Nisel membentuk tim manajamen untuk pengelolaan portal. Kedepan ini sangat baik untuk dikelola, agar setiap content dapat dipantau setiap saat baik dari gangguan hacker, hoaks dll.

Salam,

Agus Paterson Sarumaha

Elisati Telaumbanua says:

Pengelolaan website instansi seperti ini butuh biaya dan perencanaan yang baik.
Kemungkinan biaya untuk itu tidak dianggarkan dalam program kerja atau sejenisnya oleh Dispar Nisel.
Biaya hunting berita, updated data dan informasi oleh operator ataupun pegawai terkait juga harus dipikirkan, kemungkinan hal ini tidak ter-manage oleh pimpinan DisPar Nisel.
Nisel sangat berpotensi besar untuk menggali pariwisatanya dan mempromosikannya ke dunia luar, sangat disayangkan jika web Dispar seperti ini tidak terkelola dengan baik.

anton zagoto says:

gambar2 yang dimuat disitus DINAS PARIWISATA NISEL,menurut saya sih bukan kesalahan meng upload foto/data,masa sih pegawai dinas di NISEL gak bisa membedakan,tapi lebih condong kearah pembobolan,karna sudah lama dibiarin,sehingga hacker bebas membobol y,jd perlu pengawasan yang dari pihak dinas yg bersangkutan.

I love Nisel says:

Big thanks buat Pak Bupati yang sudah mau respon dan concern terhadap pemberitaan ini.
Terlebih buat Pak Elias Nehe selaku anak daerah yang mau perduli dengan plus minus-nya kampung halaman.
Semoga ini dapat jadi pelajaran berharga bg dinas terkait dan jd motivasi untuk jauh lebih baik ke depan bila punya visi untuk membuat NISEL “terbuka” bagi orang luar.
Mari mengubah mind set kita yang sudah salah tentang NISEL yang lama.
Sukses buat Pemda dan seluruh jajarannya yg sudah dan akan terus bergandeng tangan dengan masyarakat demi kemajuan NISEL. TYM..