Logo LIPI (Foto: IST)

NIASONLINE, JAKARTA – Setelah sekian lama, Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) menanggapi secara resmi ‘pencurian’ atau pelanggaran hak cipta atas tawon Garuda (Megalara garuda).

“Ini pelanggaran MoU. Secara pribadi peneliti sudah meminta maaf. Tapi ini belum selesai,” ujar Kepala LIPI Lukman Hakim pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (25/4/2012).

Dia menjelaskan, dalam memorandum of understanding (MoU), telah tertulis bahwa publikasi harus menyertakan nama peneliti LIPI. Kemudian, sebelumnya dimasukkan ke jurnal, harus dikonsultasikan dengan peneliti LIPI.

“Kedua hal itu tidak dilakukan,” tegas dia.

Pelanggaran lainnya yang dilakukan peneliti University of California Davis, Lynn S Kimsey adalah menyerahkan specimen yang dipinjamkan oleh LIPI kepada pihak ketiga. Itu melanggar material trade agreement (MTA).

Sementara itu, Kepala BKPI LIPI, Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono mengatakan, empat tuntutan telah diajukan kepada Kimsey dan University of California, Davis.

Pertama, Kimsey dikeluarkan dari tim, mengembalikan specimen yang telah dipinjamkan kepada pihak ketiga, Kimesy meminta maaf kepada LIPI dan meminta Kimsey memberikan penjelasan kepada jurnal ilmiah terkait authorship yang sebenarnya.

Kisruh itu bermula dari tidak dicantumkannya nama peneliti LIPI Prof Dr Rosichon Ubaidillah sebagai co-author pada publikasi riset tersebut dalam sebuah jurnal ilmiah internasional, Zookeys Maret 2012. Dalam jurnal itu, hanya tercantum nama Lynn S Kimsey dan peneliti Jerman, Michael Ohl.

Sementara nama Rosichin yang telah menemukan dan menyematkan nama Garuda pada jenis tawon baru tersebut tidak dicantumkan sama sekali.

Lukman Hakin sendiri mengakui kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi lembaga yang dipimpinnya. Ke depan akan lebih berhati-hati dalam menjalin kerjasama penelitian dengan institusi lain. Apalagi saat ini, sebanyak 6000 spesimen masih dipinjamkan kepada berbagai pihak di Amerika Serikat untuk keperluan penelitian. (EN)

Facebook Comments