Ilustrasi (Foto: http://www.emblibrary.com)

Saudara/i Seiman di manapun berada,

Salam Sejahtera Dalam Kasih Yesus Kristus,

Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh
sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paskah, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paskah selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pesan Paskah ini ditempatkan di bawah tema: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.

Peristiwa Paskah memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh.

Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki kebebasan sejati dari berbagai penderitaan berupa penindasan, diperlakukan tidak adil, didiskriminasikan, hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan, hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya keutuhan manusia baru memberikan perspektif hidup penuh pengharapan dan optimisme.

Peristiwa Paskah juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.

Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b).

Harus ada perubahan nyata di dalam kehidupan kita, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Ef. 4:17). Paskah mendorong kita menjadi manusia-manusia baru yang dipanggil untuk menyatakannya dalam kehidupan kita yang berintegritas dan konsisten melawan berbagai kejahatan.

Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Melanguane, Talaud, Januari 2012 menyoroti berbagai kejahatan manusia yang secara khusus mewujud melalui praktik-praktik korupsi. Itu tidak berarti bahwa kejahatan-kejahatan manusia hendak direduksikan hanya pada perbuatan ini. Tetapi korupsi di negeri kita memang telah memasuki fase yang sangat menguatirkan, karena hampir tidak ada lagi bidang kehidupan yang bebas dari virus ini.

Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Maka tidak ada lain yang harus dilakukan oleh umat beriman, apabila sungguh-sungguh mau merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah ini, selain dari menyatakan perang terhadap korupsi dalam berbagai bentuknya. Umat Allah tidak boleh lagi menaklukkan diri ke bawah perhambaan Mammon, yang dalam konteks masyarakat kita mewujud dalam praktek-praktek korupsi.

Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paskah 2012 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya melawan praktek-praktek korupsi melalui hal-hal berikut:

1. Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi;

2. Semangat Paskah hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam mengelola aset-aset gereja secara transparan dan akuntabel;

3. Semangat Paskah hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan anti-korupsi antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah ditanamkan sejak dini;

4. Melalui semangat Paskah diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Gereja harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang tidak jelas sumber dan asal-usulnya, dan/atau yang ditengarai sebagai hasil korupsi dan praktek pencucian uang (money laundry) berkedok bantuan sosial;

5. Semangat Paskah, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politics, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Pesan ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman ini:

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11).

Jakarta, 21 Februari 2012

Atas nama,
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA

Pdt. Dr. A. A. Yewangoe Pdt.Gomar Gultom M.Th.
Ketua Umum Sekretaris Umum

Sumber: www.pgi.or.id

Facebook Comments