Noniawati Telaumbanua Saat Paparan (Foto: NTbanua)

JAKARTA, NIASONLINE – Perkembangan paska bencana tsunami 2004 dan gempa pada 2005 menunjukkan terjadinya lonjakan pemanfaatan energi listrik secara signifikan di Kabupaten Nias. Di sisi lain, ketersediaan sumber listrik tetap saja hanya mengandalkan suplai dari PT PLN, yang juga memiliki keterbatasan.

Pembangunan akan terus berlanjut dan tentu saja akan membutuhkan suplai listrik yang semakin meningkat. Setidaknya dalam 15 tahun mendatang, pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan juga pemerintahan akan terus dilakukan mengingat masih banyak fasilitas dimaksud belum tersedia saat ini.

“Pembangunan ini juga dipastikan membutuhkan pasokan energi listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Di saat yang sama, upaya memenuhi kebutuhan listrik dalam skala rumah tangga yang paling minimumpun terus dilakukan baik oleh PLN maupun perorangan. Dalam hal ini, kebutuhan akan ketersediaan sumber-sumber energi terbarukan dan tak terbarukan guna memenuhi kebutuhan pembangunan yang sangat tinggi dan mendesak pula,” ujar Noniawati Telaumbanua, ST. M.Sc., dalam Seminar Nasional & Workshop Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik Secara Berkelanjutan & Ramah Lingkungan di Graha William Soerjadjaja, Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Seminar itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pembicara ahli, baik dari kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), PLN, dan pelaku bisnis energi baru terbarukan.

Kabupaten Nias yang diwakili oleh Noniawati dari Bappeda Kabupaten Nias, merupakan satu-satunya perwakilan dari daerah dalam seminar tersebut. Noniawati menyampaikan presentasi dengan topik “Tranformasi Potensi Air dan Cahaya, Titik Terang Menuju kemandirian Energi Listrik: Studi Kasus Kabupaten Nias.”

Noniawati menjelaskan, bahkan sampai saat ini pun, masih ada tiga kecamatan di Kabupaten Nias yang paling kritis kondisi kelistrikannya. Yaitu, Kecamatan Ma’u, Kecamatan Ulugawo dan Kecamatan Somölö-mölö.

Dia memaparkan, dari kondisi yang ada saat ini, pasokan listrik yang ada sangat tidak memadai. PLN yang ada saat di berada di Kota Gunungsitoli masih berstatus cabang dan melayani seluruh Kepulauan Nias. Didukung oleh ranting Gunungsitoli yang melayani Kabupaten Nias, Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Utara serta ranting Teluk Dalam yang melayani Nias Barat dan Nias Selatan.

Kenyataannya, PLN tidak mampu memberikan layanan yang diharapkan. PLN sendiri masih mengandalkan PLTD sewaan untuk mendukung kinerjanya. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi tak terhindarkan.

Dia mengatakan, tidak hanya pemadaman pada jam-jam tertentu, bahkan pernah, selama seminggu listrik tidak menyala sama sekali. Di sisi lain, masih ada wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan listrik sama sekali.

“Untuk menjangkau wilayah seperti ini dibutuhkan infrastruktur yang mendukung. Di lihat dari sisi konsumsi dan ekonomi, daerah-daerah terisolir harus didorong lai ntuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan memiliki nilai ekonomi,” jelas dia (EN)

Facebook Comments