KMP Pulau Tello (Foto: Antara)

JAKARTA, NIASONLINE – Pemerintah diminta mengalokasikan anggaran subsidi dalam pembahasan APBN-P 2012 yang sedang berlangsung agar kapal ferry bisa kembali melayari wilayah Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan.

Perwakilan Masyarakat Kepulauan Batu Pdt Foluaha Bidaya, M. Div, mengatakan, dari hasil pertemuan dengan pihak Kementerian Perhubungan (Kemhub) kemarin dan PT ASDP Indonesia Ferry hari ini, diketahui bahwa salah satu penyebab berhentinya pelayaran ferry ke Kepulauan Batu tersebut adalah ketiadaan anggaran subsidi.

“Tadi kami bertemu dengan Taslim, Manager Senior Usaha Penyeberangan Perintis PT ASDP Indonesia Ferry. Dia mengatakan, tahun ini tidak ada subsidi makanya tidak bisa berlayar ke sana,” ujar Pdt Foluaha usai menyerahkan permohonan warga Kepulauan Batu kepada PT
ASDP Indonesia Ferry di kantor BUMN tersebut di Jakarta, Kamis (15/3/2012).

Pdt. Foluaha mengatakan, pihaknya berharap pemerintah memanfaatkan momen pembahasan APBN-P 2012 yang saat ini sedang berlangsung agar juga mengalokasikan anggaran subsidi sehingga kapal bisa berlayar lagi ke Kepulauan Batu.

“Pihak PT ASDP Indonesia Ferry juga berharap begitu. Kalau dialokasikan, maka kapal bisa diperintahkan untuk berlayar ke sana,” jelas dia.

Dia mengatakan, pihak PT ASDP Indonesia Ferry juga mengatakan, bila tidak ada subsidi dari pemerintah pusat, kapal tetap bisa berlayar bila pemerintah Kabupaten Nias Selatan mengalokasikan subsidi untuk itu.

“Jadi, pada prinsipnya PT ASDP Indonesia Ferry bisa. Tinggal sekarang sejauh mana pemda bisa membantu masyarakat dengan menyubsidi pelayaran ke sana,” tandas dia.

Pdt. Foluaha menjelaskan, kepada pihak PT ASDP Indonesia Ferry, pihaknya minta agar pelayaran ke Kepulauan Batu kembali diaktifkan, setidak-tidaknya sekali dalam dua minggu. KMP Raja Enggano yang saat ini melayari rute Sibolga-Telukdalam, dapat menambah pelayarannya ke Kepulauan Batu.

”Tadi kami minta minimal sekali dua minggu.

Sebelumnya, Pdt. Foluaha Bidaya juga sudah bertemu dengan pejabat Kemhub di Direktorat Lalu Lintas Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kemhub untuk menyampaikan permohonan yang sama. Namun, alasan yang sama diberikan, yakni ketidaktersediaan anggaran untuk pelayaran ke kepulauan yang berjarak sekitar 42 mil dari Kota Teluk Dalam, ibukota Kabupaten Nias Selatan tersebut.

Pdt Foluaha juga mengakui, pemerintah kabupaten Nias Selatan sebelumnya juga telah menyurati Menteri Perhubungan untuk pengadaan kapal tersebut. Permohonan tersebut disampaikan dalam Surat Bupati Nias Selatan Nomor : 550/3019/Dishub/2011 tanggal 26 Agustus 2011 dengan perihal permohonan pengoperasian KMP Pulo Tello lintas penyeberangan Sibolga-Telukdalam-Pulau Tello.

Namun, karena hasilnya tidak kunjung ada, warga berinisiatif menyampaikan langsung permohonannya kepada Kemhub dan PT ASDP Indonesia Ferry.

Kepulauan Batu merupakan gugusan pulau yang terdiri dari 101 pulau, di bagian selatan kepulauan Nias yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Salah satu dari gugusan pulau itu bahkan menjadi salah satu pulau terluar.

Selama ini, karena ketiadaan kapal yang layak, warga terpaksa memanfaatkan kapal-kapal kayu berukuran kecil yang digunakan untuk mengangkut barang bila ingin berurusan ke kabupaten atau keluar Pulau Nias. Berdesakan dengan ikan asing, hewan ternak menjadi pemandangan biasa sambil menikmati terjangan ombak dalam pelayaran sekitar 6 jam menuju ibukota Kabupaten Nias Selatan.

Meski pemerintah pernah membuat kapal dengan menggunakan nama salah satu dari gugusan pulau tersebut, yakni KMP Pulau Tello, namun, masyarakatnya hanya sempat menikmati pelayarannya beberapa saat pada 2010 sebelum kemudian dihentikan.

KMP Pulau Tello sendiri kini beroperasi di Bengkulu. Oktober 2011 lalu, KMP Raja Enggano kembali berlayar menggantikan KMP Pulau Tello. Namun, kapal itu hanya berlayar dengan rute Sibolga-Telukdalam. Setelah itu, balik lagi dan tidak meneruskan pelayaran ke Pulau Tello (Kepulauan Batu) seperti rute sebelumnya. (EN)

Facebook Comments