Kepulauan Batu dalam Peta Pulau Nias

JAKARTA, NIASONLINE – Tidak tahan dengan ketiadaan kapal yang layak dan aman untuk pelayaran ke Kepulauan Batu, warga wilayah dari Kabupaten Nias Selatan itu menemui pihak terkait di Kementerian Perhubungan (Kemhub) untuk meminta kapal yang layak melayari kepulauan itu.

Perwakilan masyarakat Kepulauan Batu (dulu dikenal dengan Pulau-Pulau Batu) Pdt Foluaha Bidaya, M. Div, menemui pejabat terkait untuk menyerahkan surat permohonan resmi warga dari gugusan pulau yang berjarak sekitar 42 mil dari Kota Teluk Dalam, Ibukota Kabupaten Nias Selatan itu.

“Kami tadi sudah bertemu dengan pejabat terkait di Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan, Direktort Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan. Kami diterima oleh Kasubdit Jaringan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Ir. Johnny Siagian,” ujar Pdt Foluaha Bidaya usai pertemuan di Kantor Kemhub, Jakarta, Rabu (14/3/2012).

Dia menjelaskan, selain itu, pihaknya juga akan menyampaikan permohonan itu langsung kepada Menteri Perhubungan melalui Sekretaris Pribadi Menteri Perhubungan besok.
Ditanya mengenai hasil pertemuan, Pdt Foluaha mengatakan, didapatkan informasi bahwa untuk tahun ini pengadaan kapal seperti yang diminta, belum ada dalam anggaran.
“Namun, akan diupayakan dimasukkan dalam penganggaran,” jelas dia.

Sebelumnya, warga kepulauan yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat di bagian selatan tersebut mengeluhkan ketiadaan perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam hal ketersediaan angkutan laut yang layak ke kepulauan tersebut. Masyarakat mendesak pemerintah bertindak cepat dan serius menyikapi kesulitan transportasi yang mereka alami. Perhatian itu, kata dia, tak kunjung diperoleh, bahkan meski wilayah itu kini menjadi wilayah kabupaten pemekaran Nias Selatan.

“Sekarang masyarakat sangat mengeluh setiap kali ke Telukdalam, baik dalam urusan bisnis (karena yang keluar daerah pun harus melalui Telukdalam) maupun dalam urusan pemerintahan selalu mengalami rasa “daripada tidak ada”. Mereka rela duduk berdesak-desakan bersama ikan asing dan ternak seperti anjing dan babi di kapal-kapal kayu berukuran kecil untuk mengangkut barang, sementara harus melayari laut ganas dengan pelayaran sekitar enam jam,” ungkap Pdt Foluaha.

Dia menjelaskan, sebelumnya, pemerintah pusat pernah menyerahkan satu unit kapal motor penyeberangan (KMP) Pulau Tello yang mengambil nama salah satu pulau di wilayah tersebut. Meski sempat beroperasi dengan rute Sibolga-Telukdalam-Pulau Tello, namun kemudian dihentikan hingga saat ini.

“Sejak Desember 2010 dengan alasan dermaga Telukdalam tidak layak sandar, KMP Pulau Tello yang melayani transportasi laut Telukdalam-Pulau Tello macet. Masyarakat menggantungkan nasibnya pada boat kecil milik swasta dengan pertaruhan nyawa karena tidak ada alternatif lain,” jelas dia.

Bahkan, meski kini sudah ada kapal pengganti, KMP Raja Enggano yang mulai dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry sejak Oktober 2011 dan melayani rute Sibolga-Telukdalam 3 kali dalam seminggu, namun, sampai saat ini kapal tersebut tidak pernah satu kalipun berlayar ke pulau yang terkenal dengan potensi wisata dan protensi produk ikannya itu.

“Hal ini sangat berdampak buruk bagi kemajuan perekonomian masyarakat, bagi peningkatan taraf hidup sehat, bagi peningkatan pendidikan, dan bagi kelancaran tugas pemerintahan. Hal ini sangat disesali oleh masyarakat dan berharap agar sebelum pelaksanaan UN 2012 kapal milik PT. ASDP Indonesia Ferry sudah dapat melayani rute Telukdalam-Pulau Tello,” tandas dia.

Kepulauan Batu sering dijuluki “Pulau 101”. Sebab, terdiri dari 101 pulau besar dan kecil dikelilingi laut yang sangat luas. Saat ini Kepulauan Batu terdiri dari tujuh kecamatan. Yakni, tiga kecamatan lama, yaitu Pulau-pulau Batu, Hibala dan Pulua-pulau Batu Timur. Empat kecamatan baru adalah Hamasa, Pulau-pulau Batu Barat, Pulau-pulau Batu Utara dan Simuk.

Wilayah ini, juga terkenal dengan keindahan laut yang menjadi objek wisata. Selain itu, juga menjadi salah satu wilayah penghasil ikan terbesar di Indonesia, selain potensi hutannya. (EN)

Facebook Comments