Masih Banyak PNS Bermental “Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Dipermudah”

Monday, March 5, 2012
By susuwongi

Ilustrasi Harapan Publik (p4kundip.wordpress.com)

JAKARTA, NIASONLINE – “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” adalah ungkapan yang sering dipakai untuk menggambarkan modus penyimpangan dalam pelayanan publik oleh aparatur pemerintahan.

Ungkapan yang biasanya digunakan sekaligus sebagai sindiran tersebut menggambarkan keadaan pelayanan publik yang berbelit-belit, bertele-tele, lama dan juga sarat dengan permainan uang, bahkan untuk urusan-urusan yang seharusnya gratis.

Namun ternyata, meski berbagai kegiatan yang mengatasnamakan reformasi birokrasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik telah dilakukan, keadaan belum jauh berubah.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) Azwar Abubakar mengakui, mentalitas “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” itu masih menjadi budaya aparat pemerintahan.

“Masih banyak PNS yang tidak memiliki jiwa melayani. Kurang mempunyai rasa malu saat melayani masyarakat. Mereka tidak malu kalau ada orang yang sampai tiga kali mengurus sesuatu tetapi belum selesai-selesai. Masih ada istilah “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” ujar Azwar saat menyampaikan kulaih umum di STIA LAN, Bandung, akhir pekan lalu seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Senin (5/3/2012).

Dia menambahkan, PNS yang bermentalitas “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” tersebut, biasanya akan kurang senang kalau ada orang yang mendapatkan kemudahan dan pulang dengan puas dan tersenyum. Biasanya tidak senang karena PNS itu tidak mendapatkan sesuatu.

Azwar menegaskan, mentalitas pelayanan publik seperti itu harus dirubah. Dia juga mengharapkan agar setiap PNS di seluruh Indonesia harus siap berubah dan tidak berdiam diri karena sudah merasa mapan. (EN/*)

One Response to “Masih Banyak PNS Bermental “Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Dipermudah””

  1. 1
    Adi Iskandar Says:

    Kalau dibandingkan pelayanan publik singapura dengan indonesia, aduh, sangat mencolok perbedaanya, baik mulai dari persiapan, proses, sampai hasil pelayanannya. PNS (Pelayanan Publik) singapura, berorientasi kepada customer satisfacion (kepuasan masyarakat), pelanggan diidentikkan dengan masyarakat. Sementara di Indonesia, hehehe, PNS satisfaction : “KEPUASAN SI PNS-NYA”. Sudah Gaji dari pajak rakyat, minta dilayani pula. Ada anekdot PNS, datang telat, pulang paling cepat, berikut aktifitas PNS kita, kalo gak ada sabetan : Absen-Baca koran-(ngobrol2 / ngegosip)-Persiapan makan siang-Belanja2-Kembali kekantor-Liatin jam melulu-Absen-Pulang Kantor. Kapan kerjanya ya. Bagaimana gak primadona untuk lingkungan sosial dan calon mertua, hahaha. Jujur, saya gak iri dalam menanggapi ini, tapi ini realita. Hampir seluruh daerah di Indonesia, Jam 11 siang para PNS sudah berkeliaran, nyari makan siang. Akibatnya, ketika kita mau buru2 untuk urusan hal2 penting, petugasnya da gak ada diruangannya. Dan yang paling ironis, kerjaannya tak tergantikan. Ini siapa sesungguhnya yang dilayani?, jawabannya: si PNS tadi. Siapa sumber masalah negeri ini? hanya PNS yang bisa jawab.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

March 2012
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031