Bomberdier CRJ 1000 Pesanan Garuda (www.bombardier.com)

JAKARTA, NIASONLINE – Maskapai Garuda Indonesia tengah mengincar jalur penerbangan ke Nias Selatan. Hal itu beriringan dengan target pemerintah daerah Nias Selatan (Nisel) agar bandara tersebut mulai beroperasi pada Oktober tahun ini.

“Kami sudah membentuk tim untuk percepatan penyelesaian dan pengoperasian bandara ini. Termasuk tim yang akan melakukan pendekatan ke maskapai penerbangan. Bahkan, beberapa waktu lalu, pihak Garuda sudah menghubungi saya untuk menjajaki rencana penerbangan ke sini,” ujar Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi saat menghubungi Nias Online, Selasa (17/1/2012).

Dia menjelaskan, sebelumnya pihaknya menargetkan bandara itu beroperasi pada 2013. Kemudian, pihaknya memutuskan mempercepat penyelesaiannya dengan target pada 2012. Namun, tambah dia, pada tahun inipun, dipercepat lagi dengan target bulan Oktober dan tidak perlu sampai tahun ini berakhir.

November lalu, Bupati Idealisman mengungkapkan, untuk penyelesaian bandara itu, pihaknya mengalokasikan anggaran sebesar Rp 30 miliar dari APBN dan APBD Nisel 2012.

Garuda Indonesia sendiri telah mengumumkan rencana pembelian 18 unit pesawat jenis Bombardier CRJ 1000 produksi Kanada. Pesawat dengan jumlah kursi di bawah 100 kursi (sub 100) tersebut, seperti diungkapkan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar akhir tahun lalu, akan ditempatkan di tiga bandara utama, yakni Bandan Polonia, Medan, Bandara Ngurah Rai, Bali, dan Bandara Hasanuddin, Makassar.

Pesawat-pesawat itu akan melayani penerbangan jarak pendek di sekitar wilayah itu. Khusus untuk penerbangan dari Medan, pesawat-pesawat itu akan melayani rute Medan-Penang, Medan-Batam, Medan-Palembang, Medan-Surabaya dan Medan-Batam-Pekanbaru.

Saat ini, penerbangan ke Pulau Nias melalui Bandara Binaka, Gunungsitoli, dilayani di antaranya, maskapai Wings Air dengan ATR 72-500 berkapasitas 72 penumpang, Merpati Nusantara Airline dengan jenis MA-60 berkapasitas 60 penumpang, dan baru-baru ini diterbangi maskapai Survay Udara Penas dengan pesawat jenis Jet BAe 146-100 berkapasitas 70 penumpang.

Bandara Silambo itu berada di Desa Botohilitanö, Kecamatan Fanayama. Hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Pantai Sorake dan Lagundri, tempat selancar terkenal di dunia. Bandara itu juga berjarak sekitar 12 kilometer dari Desa Bawömataluo, desa calon warisan dunia yang terkenal dengan perkampungan tradisional dan lompat batunya.

Dengan selesainya pembangunan bandara itu dan dioperasikan, diharapkan akan menggerakkan perekonomian daerah itu. Dengan demikian, wilayah itu akan bisa diakses langsung tanpa harus melalui Kota Gunungsitoli seperti selama ini terjadi. Sebelumnya, Oktober 2011, Pemkab Nisel juga berhasil mengaktifkan kembali rute pelayaran kapal ferry dengan rute Sibolga-Teluk Dalam, Nisel.

Selama ini, warga Nisel yang hendak ke Sibolga, Medan atau kota lainnya di Indonesia, harus melalui pelabuhan Gunungsitoli bila menggunakan kapal laut. Dan bila menggunakan pesawat terbang, maka harus melalui Bandara Binaka, Kota Gunungsitoli yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Nisel. Demikian sebaliknya bagi warga atau pengunjung yang hendak ke Nias Selatan. (EN)

Facebook Comments