Telaga ke-10 (Foto: Etis Nehe)

Apakah pernah ke Pulau Nias? Lalu, apakah setelah di sana, pernah ke Desa Bawömataluo? Beberapa orang mengatakan, “Anda belum sampai ke Pulau Nias, kalau belum sampai di Desa Bawömataluo.”

Desa calon warisan dunia (world heritage) itu selama ini cuma dikenal dengan keindahan arsitektural perkampungan, rumah-rumah tradisional, karya seni ukir dan, tentu saja, bangunan serta atraksi lompat batunya yang menjadi ikon iklan pemerintah dan swasta di tingkat nasional.

Tapi, banyak yang tidak tahu, kalau Desa Bawömataluo memiliki banyak hal unik lainnya. Salah satunya, bahwa sebagian desa di atas perbukitan itu, sebenarnya ‘dikelilingi’ sungai.

Sungai yang mengelilingi desa itu berhulu di beberapa desa tetangganya. Di antaranya, dari Desa Siwalawa dan Desa Lahusa, dua dari beberapa desa terdekat dengan Desa Bawömataluo.
Pada bagian arah Ndrölö (lorong) Raya desa itu, lintasan sungai itu disebut Lumono.

Sementara pada bagian lainnya, tepatnya searah dengan Ndrölö Halamba’a, bagian sungai itu di sebut Yogi. Dari Yogi, selanjutnya, melintasi desa Lahömi, terus ke Desa Hiligeho, mengalir di bawah jembatan yang berada tidak jauh dari Kantor DPRD Kabupaten Nias Selatan, sebelum akhirnya bermuara ke laut.

Sepanjang sungai itu, pada umumnya dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai kepentingan. Di antaranya untuk mandi, mencuci, memancing dan keperluan pertanian. Air di sungai itu juga pernah dimanfaatkan untuk penyulingan minyak nilam beberapa tahun lalu.

Tapi, kali ini, kita akan fokus menikmati bagian Yoginya saja. Sungai Yogi umumnya banyak dimanfaatkan warga Ndrölö Halamba’a dan Ndrölö Tou (bagian kampung sebelum tangga menuju desa). Karena pada umumnya, mereka banyak memiliki lahan pertanian di sekitar sungai itu.

Terjun dari Tebing Telaga ke-10 (Foto: Etis Nehe)

Lalu, apa yang unik dari Sungai Yogi?

Pertama, Sungai Yogi memiliki 12 “Namö” atau sejenis telaga. Namö tersebut dihitung dari urut-urutan telaga yang besar saja sehingga dikenal dengan Namö Sifelendrua (felendrua = dua belas). Rata-rata berdiameter 8-10 meter dengan kedalaman bervariasi. Mulai dari 2 hingga di atas 10 meter. Beberapa namö bahkan meluas hingga di bawah batu yang sekaligus menjadi dindingnya.

Jarak antara namö bervariasi. Paling dekat sekitar 10 meter. Setiap namö, karena kedalamannya bisa dipakai untuk berenang, bahkan untuk menyelam.

Airnya juga, sangat jernih dan terlihat biru/hijau tergantung lingkungan namönya. Bahkan, beberapa namö, karena memiliki kedalaman di atas 5 meter dan memiliki dinding batu dengan ketinggian sekitar 8 meter, sering menjadi tempat favorit untuk melakukan atraksi terjun.

Kedua, airnya mengalir di atas bebatuan cadas dan juga batu kapur. Kontur sungainya, selain berkelok, juga semakin ke bawah semakin menurun, menurun bahkan pada beberapa bagian, sangat terjal. Karenanya, beberapa namö memiliki air terjunnya sendiri dengan ukuran berbeda-beda. Dinding kiri kanan sungai juga adalah bebatuan besar dipenuhi pepohonan lebat yang melilitkan akar-akarnya pada bebatuan itu.

Uniknya, batu-batu di kiri-kanan sungai tersebut tak ubahnya seperti lembaran-lembaran batu yang disusun secara vertikal secara memanjang di sepanjang dinding sungai. Permukaan batunya, pada semua sisinya, rata-rata kasar dan beberapa, tajam.

Ketiga, salah satu bagian dari dinding sungai itu disebut Batu Faöndru. Secara literal, berarti batu yang memanggil atau tepatnya batu gema. Di sebut demikian, karena dinding batu di bagian tersebut akan menggemakan kembali suara di sekitarnya.

Lokasi batu yang menggemakan suara tersebut berada pada dinding sebelah timur. Bentuknya seperti dinding batu dengan ketinggian sekitar sekitar 40 meter dari permukaan sungai, yang memanjang sekitar 150 meter di sisi timur sungai. Kontur dinding batu seperti itu, sangat cocok untuk kegiatan panjat tebing dan kegiatan uji nyali lainnya.

Marco, Turis Jerman Berenang Bersama Anak-anak Desa (Foto: Etis Nehe)

Sedangkan sisi lain pada salah satu bagian sungai, merupakan batu dengan permukaan rata yang memiliki ketinggian sekitar 20 meter lebih dan dengan panjang sekitar 40-50 meter. Namun, posisinya tidak tegak lurus, melainkan miring.

Keempat, khusus di sisi barat, atau tepatnya di wilayah Hösi, terdapat beberapa rongga batu. Beberapa warga bahkan menyebutkan adanya goa atau sebentuk terowongan memanjang. Namun, khusus mengenai keberadaan terowongan yang diduga menghubungkan beberapa celah besar di antara bebatuan itu, sampai saat ini belum terverifikasi, meski ada beberapa cerita yang mengukuhkan soal itu.

Ramai Dikunjungi Turis Asing

Hendrik Bu’ulölö, seorang pemuda yang pernah menelusuri kedua belas namö itu mengatakan, selama sekitar tiga tahun sebelumnya, sungai yang selama ini jarang jadi perhatian tersebut, menjadi terkenal. Bermula dari ide seseorang yang bernama Apri, warga Desa Bawömataluo membersihkan kawasan 3 namö yang berdekatan, yakni, namö si 10, 11 dan 12 (lihat foto). (Namun, beberapa orang menyebut, justru namö ke-10 itu sebagai namö yang pertama).

Namö ke-10 itu dikurung oleh bebatuan dengan ketinggian sekitar 8 meter pada kedua sisinya. Kemudian, kedua sisi batu itu dihubungkan dengan tali, semacam tali sauh. Sehingga para perenang bisa beratraksi dengan bergantungan di tali dan kemudian terjun ke sungai.

Dalam waktu singkat, lokasi itu menjadi terkenal dan hampir tiap hari dipenuhi warga yang ingin berekreasi. Tidak hanya dari warga Desa Bawömataluo, tapi juga dari desa-desa sekitarnya. Bahkan, juga para wisatawan lokal dari berbagai kecamatan dan kabupaten di Pulau Nias menjadikan lokasi itu sebagai tujuan wisatanya, melengkapi kunjungannya di Desa Bawömataluo.

Atraksi Renang di Telaga ke-11 (Foto: Etis Nehe)

Sementara Kepala Desa Bawömataluo Ariston Manaö mengungkapkan, tereksposnya namö-namö itu terutama paska gempa besar pada 2005. Saat itu, kata dia, beberapa orang Jepang melakukan survey kekayaan aset daerah di wilayah itu.

Kemudian, karena musim kemarau panjang pada waktu berdekatan dengan kegiatan itu, warga dan sejumlah tim NGO yang terlibat dalam RR-Nias saat itu memanfaatkan sungai itu untuk keperluan mandi. “Dari mereka kemudian, keunikan sungai itu terekspos keluar,” kata dia.

Lokasi yang berjarak sekitar 1 kilometer sebelum Desa Bawömataluo tersebut terus diminati. Meski harus melewati jalanan berbatu tajam dan terjal, juga melintasi ladang warga dan beberapa bagiannya bahkan menyemak, tidak mengurungkan minat para pengunjung. Turis asingpun, yang saban hari selalu ada yang berkunjung ke desa Bawömataluo, selalu menyempatkan diri dan berenang di sana.

Bahkan beberapa warga, membuka lapak berupa pondok-pondok untuk menjual berbagai jenis makanan dan minuman untuk para pengunjung. Juga menyediakan ban dalam mobil untuk keperluan alat bantu berenang bagi pengunjung.

Namun, setahun terakhir, lokasi itu tampak sepi. Jalanan menuju lokasi sudah tampak menyemak. Tidak ada lagi para penjual makanan dan minuman. Meski begitu, tetap saja ada yang tidak mau melewatkan pengalaman menikmatinya.

Ketika mengunjungi lokasi itu beberapa waktu lalu, penulis menemukan puluhan anak-anak dan pemuda sedang berenang, bahkan ada dari desa tetangga. Mereka dengan asyiknya beratraksi, melompat dari puncak tebing setinggi sekitar 8 meter itu.

Telaga ke-12 (foto: Etis Nehe)

Sekitar 20 menit kemudian, turis asal Jerman bernama Marco dan David, dari Australia, tiba di lokasi itu. Mereka diantar pemandu dari sebuah penginapan di Pantai Sorake. Sehari sebelumnya, puluhan turis asing, yang datang dengan tiga angkutan desa berbeda, menghabiskan waktu di telaga-telaga itu.

Tak ingin membuang waktu, keduanya langsung bergegas melepas baju dan terjun ke telaga. Bentuk sungai dan telaga yang unik, suasana teduh karena dikelilingi pepohonan lebat, gemercik air yang terus mengalir di atas bebatuan dan kesejukan air di tengah panas terik menjadikan pengalaman berenang di telaga-telaga itu sangat berkesan.

“Ini pertama sekali saya ke sini. Wow… tempat yang sangat indah. Luarbiasa!” ujar Marco. Marco bahkan tidak melewatkan kesempatan berenang bersama anak-anak dari desa itu serta mengabadikannya dengan foto bersama.

Dulu Angker

Bagi masyarakat Desa Bawömataluo, Sungai Yogi ini memang bukan sungai biasa. Sungai ini memiliki citra yang negatif. Akibatnya, bagi beberapa orang, berkunjung ke sana tidak menjadi pilihan.

Konon, menurut cerita beberapa orangtua di Desa Bawömataluo, lebih 100 tahun lalu, bagian tertentu sungai itu, yang disebut Fahandroma, merupakan tempat eksekusi bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran berat. Di antaranya, pembunuh, pemerkosa, pengkhianat, dan kejahatan berat lainnya. Biasanya, para pelanggar sudah menjalani pengadilan oleh para tetua kampung.

Kontur Dinding Telaga (Foto: Etis Nehe)

Eksekusi di salah satu telaga di sungai itu, berarti sama dengan hukuman mati. Para pelanggar akan diikat tangan dan kakinya. Kemudian diikatkan di batu untuk selanjutnya ditenggelamkan. Alhasil saat itu, orang tidak akan sembarangan hidup atau bertindak. Namun, tradisi penenggelaman itu telah dihentikan seiring masuknya Agama Kristen.

Sisi angker lainnya adalah, adanya legenda makhluk yang disebut Handrauli. Tidak terlalu jelas wujud makhluk tersebut.

“Zaman dulu, katanya, di situ ada makhluk berbentuk ular besar tapi bersayap. Bermukim di sungai itu atau di sejumlah gua/terowongan yang diduga ada di kawasan sekitar sungai tersebut. Manusia atau hewan yang jatuh di namö itu, dipastikan pasti mati dan dimakan oleh mahkluk itu. Ceritanya begitu, sehingga orang takut ke sana. Entah benar atau tidak, kita tidak tahu,” ujar Ama Atiba, salah satu warga desa. Ariston membenarkan soal legenda Handrauli itu dan mengakui kalau hal itu juga menjadi penyebab jarangnya telaga-telaga itu dimanfaatkan warga.

Namun, menurut Waspada Wau, seorang tokoh masyarakat Desa Bawömataluo, legenda itu kemungkinan ditujukan untuk ‘menakuti’ agar tidak sembarangan orang bermain di sekitar sungai itu. Sebab, sungai itu dan kawasan sekitarnya, karena konturnya, sangat berbahaya. dikuatirkan, bila tidak hati-hati, bisa menimbulkan korban jiwa.

Perlu Pembenahan

Dibukanya Sungai Yogi itu untuk tempat rekreasi memang mengagetkan bagi beberapa orang yang masih melihat sungai itu dengan citra angkernya. Namun, yang pasti, kesan angker itu kini tinggal kisah lama.

Kini, tempat itu telah melengkapi dan memperkaya wahana wisata di Desa Bawömataluo. Meski begitu, perlu upaya kreatif untuk menata dan menyulap kawasan itu agar lebih nyaman dikunjungi.

Kondisi Salah Satu Akses ke Telaga (Foto: Etis Nehe)

Yang paling penting adalah, membenahi akses jalan ke lokasi itu. Baik dari arah Hösi, maupun dari arah Halamba’a. Perlu penyiapan parkir di mulut jalan menuju lokasi. Sedangkan jalan yang harus ditempuh dengan jalan kaki, bisa diatasi dengan pembersihan sisi kiri dan kanan jalan.

Beberapa bagian jalan yang relatif terjal, akses jalan berbentuk tangga perlu dibangun dan dilengkapi dengan pegangan tangan. Sedangkan di sisi lokasi namö, fasilitas pendukung untuk keselamatan, terutama bagi mereka yang berenang, juga perlu dipersiapkan.

Tidak kalah penting adalah, memperhatikan kebersihan sungai. Mulai dari hulu, agar pembuangan sampah secara sembarangan di sungai dicegah sedini mungkin. Intinya, bagaimana agar para pengunjung merasa nyaman, baik saat melakukan perjalanan kaki menuju lokasi, maupun saat menikmati sejuknya air namö.

Ariston mengakui bahwa masalah akses jalan menyebabkan tempat wisata rekrerasi itu makin berkurang peminatnya. Dia mengatakan, saat ini ada dua sasaran untuk memanfaatkan sungai itu. Yakni, untuk kepentingan wisata dan pembangkit listrik mikro-hydro atau kombinasi keduanya.

Dia mengatakan, pembenahan itu butuh dukungan pemerintah dan masyarakat. Dia juga mengungkapkan, untuk tahun ini, akses ke telaga-telaga itu, akan diupayakan untuk dibenahi. (Etis Nehe)

Facebook Comments