Atraksi Air Show di Pantai Sorake (foto: Mark Flint)

JAKARTA, NIASONLINE – Tidak banyak yang tahu, termasuk oleh media massa. Menyambut Natal dan pergantian tahun yang baru lalu, sekelompok peselancar muda di Pantai Sorake, Nias Selatan, menggelar kontes surfing (surfing contest). Acara berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 30 Desember 2011 sampai 1 Januari 2012.

“Acara itu kami yang gagas, anak-anak pantai yang tergabung dalam Beach Boiz dengan nama acara Nias Board Rider I,” ujar Ketua Panitia yang juga seorang peselancar, Rahel Wau saat dihubungi melalui telepon seluler, Jum’at (6/1/2012).

Rahel menjelaskan, kontes surfing tersebut dibagi dalam tiga tingkatan. Yakni, tingkat Grommet, Jounior dan Legends. Tingkat grommet diikuti peserta berusia 8 -15 tahun. Tingkat jounior dengan usia 16-23 tahun. Sedangkan tingkat legends, diikuti dengan peserta berusia 24 tahun ke atas. Selain pertandingan surfing seperti biasa tersebut, juga diadakan eksebisi air show. Yakni, atraksi melompat di atas ombak dengan menggunakan papan selancar.

Acara itu sendiri dibuka secara resmi oleh Mark Flint, yang merupakan penasihat dan konsultan bagi Beach Boiz. Mark Flint sendiri telah berpuluh tahun tinggal di Pantai Sorake.

Rahel mengakui, kecuali dari internal mereka sendiri di Beach Boiz dan Epmove, acara itu tidak dukung oleh sponsor manapun, termasuk dari Pemda. Dana itu dikumpulkan secara patungan. Beberapa orang yang bersimpati atas kegiatan itu, termasuk dari para turis yang sedang berwisata, memberikan sedikit sumbangan.

“Dananya tidak ada dari sponsor. Kami patungan. Untuk hadiahanya, ada trofi. Ada juga teman-teman yang memberikan papan selancar, sirip papan selancar hingga baju untuk hadiahnya,” jelas dia.

Adapun peserta kontes selancar tersebut, kata dia, mencapai lebih dari 130 orang yang hampir semuanya merupakan peselancar lokal. Kecuali tiga orang peselancar asal Swiss, Amerika Serikat dan Jepang yang ikut kontes pada tingkat legends.

Peserta Surfing Contest 2011 di Pantai Sorake (foto: Mark Flint)

Protes Pemda

Rahel menjelaskan, acara kontes tersebut sebenarnya sudah ada sejak 1993. Namun, sejak tahun 2000, kegiatan itu sudah mulai jarang dilakukan. Terakhir dilakukan lagi pada 2009 setelah itu pada akhir tahun lalu.

Rahel menjelaskan, dia dan rekan-rekannya bertekad agar kegiatan ini dilakukan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya, untuk melatih para peselancar muda (grommet) memiliki mental bertanding yang bagus. Dan harapan yang paling besar adalah, diadakannya kembali perlombaaan surfing internasional di pantai itu, seperti pada tahun-tahun yang lalu.

Rahel sendiri mengungkapkan, acara itu juga untuk menunjukkan kekecewaan mereka kepada Pemda Nias Selatan karena membatalkan perlombaan surfing yang sudah ditunggu-tunggu dan direncanakan diadakan pada Juni 2011 lalu.

“Kami tidak mau mengharapkan Pemda sekarang. Ya, itu sebenarnya kenapa kami nekad melakukan acara ini. Ingin tunjukkan kepada pemda bahwa kami sangat kecewa dengan pembatalan perlombaan bulan Juni tahun lalu itu. Bahwa kami bisa melakukannya. Kami sudah berpengalaman di sini. Sebenarnya tinggal sedikit pembenahan saja,” ungkap dia.

Tujuan lainnya, kata dia, ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa paska gempa dahsyat yang melanda Pulau Nias pada 2005 lalu, ombak yang selama ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia tidak mengalami ‘kerusakan.’

“Ombaknya tidak rusak. Bahkan, saat ini ombaknya lebih bagus dibanding sebelum gempa,” kata dia. (EN)

Facebook Comments