Suasana Usai Kebaktian di Gereja Banua Keriso Protestan Nias (BKPN) Bawömataluo (foto: Etis Nehe)

Oleh: Etis Nehe

“Hewa’ae löna öda-öda. Ba nafaoma na ta’ila mbawa navöda, omuso dödöda. Hö’ö töra moroi ba gö”

Ungkapan di atas berasal dari bahasa Nias Selatan. Artinya, “Walau kita tidak punya sesuatu yang bisa dimakan, tapi kalau kita masih bisa saling bertatap muka/bertemu, hati ini senang (bahagia) rasanya. Itu lebih dari makanan.”

Ungkapan di atas biasanya diungkapkan oleh para orangtua atau keluarga di kampung, yang rindu bertemu semua anggota keluarganya. Apalagi pada momen-momen khusus seperti perayaan Hari Natal dan Tahun Baru.

Hari Natal dan Tahun Baru adalah dua hari yang sangat penting bagi masyarakat Nias. Tidak semata-mata karena latar spiritual yang menjadi konteks kedua hari itu, tapi juga faktor sosial budaya yang telah meneguhkannya.

Sebagai daerah yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, setiap memasuki bulan Desember, keadaan di Pulau Nias, hingga di kampung-kampung akan langsung terasa berbeda dibanding bulan-bulan sebelumnya. Seolah 11 bulan sebelumnya merupakan masa-masa penantian.

Pada umumnya, di desa-desa, perayaan Natal itu jauh lebih sering dan meriah. Hampir setiap hari minggu, sejak adven pertama, selain ibadah minggu rutin pada pagi hari hingga siang, juga akan diikuti ibadah natal pada malamnya. Demikian terus berlangsung hingga memasuki hari pertama di tahun yang baru.

Berbagai persiapan dilakukan. Bila terkait kegiatan gerejawi, maka persiapan meliputi, di antaranya, pembenahan, perbaikan atau penataan fisik gereja sehingga tampak rapi, bersih dan nyaman. Tentu saja, juga pemasangan berbagai perhiasan hingga pintu gapura khusus dari bahan-bahan seperti bambu, janur kuning, dan berbagai hiasan lainnya. Juga berbagai latihan kegiatan terkait perayaan di gereja, seperti koor, vocal group, dan drama natal.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di rumah-rumah. Penataan ulang tampilan rumah, termasuk memasang hiasan, juga menjadi agenda rutin. Berbagai kebutuhan juga disiapkan. Bagi orang yang berduit, rumah akan terlihat mentereng dengan berbagai hiasan kerlap-kerlip asesoris Natal.

Bagi orang yang ekonominya pas-pasan, setidaknya, asal rumahnya terlihat nyaman saja untuk dilihat dan tidak ‘malu-maluin’ bila ada yang bertamu, itu sudah cukup. Yang penting bisa menikmati kebahagiaan di hari penting itu.

Namun, persiapan yang paling penting lagi – umumnya sangat diperhatikan oleh para orangtua – adalah, menyambut kedatangan anggota-anggota keluarga. Baik yang masih dalam satu desa tapi berbeda rumah maupun dari desa, kecamatan, atau kabupaten berbeda di Pulau Nias. Apalagi anggota keluarga yang berada di perantauan, di luar pulau Nias dan di luar negeri.

Persiapan untuk pertemuan keluarga, diantisipasi sedemikian rupa. Sebab, sudah menjadi semacam keyakinan bersama, bahwa tidak ada yang bisa menandangi nikmatnya pertemuan keluarga pada saat Natal dan Tahun Baru seperti itu. Tidak heran bila saat Desember tiba, secara otomatis membuat semua keluarga bersiap sebaik mungkin.

Nikmatnya pertemuan keluarga itu tidak hanya sekedar karena terobatinya kerinduan satu dengan yang lain. Tapi, juga karena momen pertemuan keluarga pada Hari Natal dan Tahun Baru itu, menjadi momen untuk mempersatukan kembali keluarga.

Tidak hanya fisik, tetapi, juga secara emosional/psikologis. Sebab, spirit pembaruan yang merupakan salah satu pesan dari Hari Natal dan Tahun Baru itu menjadikan pertemuan dengan keluarga biasanya juga momen untuk memperbaiki hubungan-hubungan yang rusak. Bisa karena pertengkaran kecil ataupun karena masalah-masalah yang sangat serius. Tidak heran bila Hari Natal dan Tahun Baru menjadi hari-hari yang sangat dinantikan.

Rindu Para Perantau

Meski jauh dari Pulau Nias, orang-orang Nias di perantauan juga tidak bisa melepaskan diri dari ikatan ‘kebiasaan’ itu. Tidak sedikit yang jauh-jauh hari telah menyiapkan agenda untuk pulang. Baik sendiri, bersama teman, ataupun bersama seluruh keluarga. Bagi yang mungkin belum bisa pulang karena alasan seperti pekerjaan, kuliah dan biaya, juga tidak luput mengatur agenda untuk pulang. Mungkin pada tahun berikutnya.

Merencanakan untuk pulang kampung, bagi para perantau, juga bukan hal sederhana. Selain persoalan terkait pekerjaan atau perkuliahan dan biaya transportasi, juga biasanya harus memikirkan persiapan yang bisa dibawa saat bertemu keluarga. Setidak-tidaknya, semacam buah tangan, bila tidak bisa membawa sesuatu yang lebih besar. Bagi beberapa orang, kadang-kadang ini menjadi sesuatu yang sulit dan mengurungkan niat untuk pulang kampung.

Darwin Terisman Zega (foto: akun FB)

Untung saat ini, ketersediaan alat komunikasi telah menjembatani cukup banyak masalah itu. Meski begitu, pengalaman kebersamaan itu dengan bertemu langsung itu tidak bisa tergantikan oleh alat komunikasi itu. Rasa rindu itu tidak akan tuntas hingga terjadi pertemuan.

Pengalaman Darwin Terisman Zega adalah salah satunya. Pria lajang yang saat ini berdomisili di desa Seriti, Palopo, Sulawesi Selatan ini telah tujuh tahun tidak bertemu keluarganya. Tujuh tahun lalu, dia meninggalkan keluarga di desa Nazalöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.

Usai menamatkan pendidikan Sarjananya di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (STT SETIA), Darwin ditugaskan di desa Seriti. Hingga kini telah berada di sana selama 2,6 tahun untuk melayani sebuah jemaat.

“Selama ini bisa berkomunikasi dengan keluarga di sana melalui telpon. Tapi, tetap ada perbedaan apabila bertemu langsung,” ungkap dia saat chatting dengan redaksi Nias Online, Senin (26/12/2011).

Anton Zagötö (foto: akun FB)

Sementara itu, Anton Zagötö, seorang warga Desa Bawömataluo yang berdomisili di Batam, juga mengungkapkan kerinduannya bertemu keluarga pada saat Natal dan tahun baru ini. Namun, karena tidak mendapat izin dari tempat kerja serta kegiatan Natal di kampusnya, terpaksa menahan rindunya.

“Pernah pulang pada 2005. Rencana, 2012 nanti pulang sekalian ikut acara pagelaran budaya Bawömataluo,” ucap dia.

Hal serupa juga dirasakan oleh Jasman Antonius Zebua. Pria lajang berpangkat Briptu dari satuan Brimob Polda Sumatera Barat itu mengaku rindu keluarganya. Apalagi karena saat ini, Jasman berada jauh dari Indonesia, di Afrika sana.

November lalu, Jasman yang bergabung dalam Forced Police Unit (FPU) IV Garuda Bhayangkara, di berangkatkan bersama rekan-rekannya ke Darfur, Sudan Utara di bawah bendera PBB, UN Mission in Darfur (UNAMID). Akan berada di sana hingga November tahun depan.

Meski lahir di luar Pulau Nias, yakni, di Pasaman Barat, Sumatera Barat, namun nuansa kerinduan khas masyarakat Nias itu tetap melekat erat. Apalagi karena saat ini, kedua orangtuanya juga sedang berlibur dan mengunjungi keluarga besar mereka di Pulau Nias.

“Ya, rindu merayakan Natal bersama. Saat ini, orangtua saya sedang di Nias. Tapi, kami berbicara melalui telpon saja,” ujar dia.

Briptu Jasman Antonius Zebua (foto: akun FB)

Namun, kerinduannya, cukup terobati dengan adanya perayaan Natal khusus kontingen Indonesia di tempat tugas mereka pada Sabtu (24/12/2011) malam. Selanjutnya, pada Minggu, 25 Desember 2011, mereka merayakan Natal Gabungan seluruh staf dan pasukan PBB.

“Walau kami hanya 19 orang, tapi lumayan asyik. Sangat berkesan. Kami buat semacam ibadah kecil. Kemudian bernostalgia dengan lagu-lagu daerah,” kata dia.

Kabar Baik di Rantau

Tiga pengalaman di atas tentu saja hanya mewakili sedikit nuansa kerinduan yang dirasakan puluhan hingga ratusan ribu orang Nias yang berada di perantauan saat ini. Pertemuan di saat Natal dan Tahun baru telah ‘terlanjur’ menjadi momen yang berbeda bobotnya dengan pertemuan-pertemuan di hari dan waktu yang lain.

Mungkin Anda tidak bisa menunaikan kerinduan itu kali ini. Sama seperti saya yang telah 16 tahun tidak pernah merayakan Natal dan tahun baru bersama keluarga. Tapi setidaknya, kerinduan itu jangan sampai padam. Dan bila Tuhan menghendaki, mulailah merancang agenda untuk pulang. Walau tidak setiap tahun.

Lebih dari itu, kerinduan para orangtua dan saudara kita di kampung halaman, biasanya disertai harapan-harapan. Setidaknya, dan yang paling sederhana, adalah bila tidak bisa bertemu, mereka berharap mendengar kabar baik. Bahwa anak-anak mereka nun jauh di sana dalam keadaan sehat, baik-baik, tetap kuat meski di tengah kesulitan dan setia kepada Tuhan.

Sekali lagi, meski tidak bisa bertatap muka, andai saja mereka tidak mendengar kabar yang merenggut kebahagiaan mereka di Hari Natal dan Tahun Baru ini, maka mereka pun akan berkata, “Hö’ö töra moroi ba gö”. Itu lebih daripada makanan.

Selamat Hari Natal, 25 Desember 2011
Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2012

Facebook Comments