JAKARTA, NIASONLINE – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak pemerintah menunjukkan keberpihakannya pada upaya penegakan hukum, termasuk dalam kasus pembunuhan wartawan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua AJI Indonesia Nezar Patria pada peringkatan Hari Impunitas pada 23 November 2011 di Jakarta. Bersama ribuan wartawan di seluruh dunia, AJI melakukan peringatan yang juga bertepatan dengan dua tahun kasus pembantaian terhadap 32 wartawan di kota Ampatuan, Provinsi Maguindanau, Filipina, pada 23 November 2009 lalu.

Nezar menjelaskan, impunitas adalah praktek pembiaran atau pembebasan pelaku kejahatan dari tanggung jawab hukum, merupakan praktek yang dewasa ini marak di berbagai negara. Mengutip Internatinal Freedom of Expression Exchange (IFEX) dimana AJI menjadi anggotanya, kata dia, lebih dari 500 wartawan tewas dalam 10 tahun terakhir dari berbagai negara.

Seperti dikutip dari situs AJI, Nezar mengatakan, di Indonesia sendiri, AJI mencatat selama periode 2005-2010 terjadi 321 kasus kekerasan termasuk pembunuhan terhadap wartawan di Indonesia.

Dan, sejak 1996 AJI mencatat 10 kasus pembunuhan wartawan, sebagian besar dari kasus itu belum terungkap atau dibiarkan menjadi misteri. Di antaranya, adalah wartawan Berita Sore asal Nias yang hilang dan diduga dibunuh di Nias Selatan pada 2005.

“AJI akan mengawal berbagai kasus pembunuhan tersebut, dan tidak ragu membawanya ke komunitas internasional apabila pemerintah menunjukkan itikad pembiaran dan melanggengkan impunitas,” tegas Nezar.

10 kasus pembunuhan wartawan tersebut adalah:

1. Alfrets Mirulewan (Tabloid Pelangi), tewas pada 18 Desember 2010, di Pulau Kisar, MalukuBarat Daya.
2. Ridwan Salamun (Sun TV), tewas pada 20 Agustus 2010, di Tual, Maluku Tenggara.
3. Ardiansyah Matra’is (Merauke TV), ditemukan tewas pada 29 Juli 2010, di Merauke, Papua.
4. Muhammad Syaifullah (Kompas), ditemukan tewas pada 26 Juli 2010, di Balikpapan.
5. Anak Agung Prabangsa (Radar Bali), ditemukan tewas pada 16 Februari 2009, di PadangBai, Bali.
6. Herliyanto (wartawan freelance), tewas pada 29 April 2006, Probolinggo, Jawa Timur.
7. Elyudin Telaumbanua (Berita Sore), hilang sejak 24 Agustus 2005, di Nias, Sumatera Utara.
8. Ersa Siregar (RCTI), tewas tertembak pada 29 Desember 2003, di propinsi Aceh.
9. Agus Mulyawan (Asia Press), tewas pada 25 September 1999, di Los Palos, Timor Timur.
10. Fuad Muhammad Syarifuddin (Bernas Yogya), dibunuh pada 16 Agustus 1996 di Bantul, Yogyakarta. (EN)

Facebook Comments