Kerusakan Atap Omo Sebua di Bawomataluo (Foto: Etis Nehe)

NIAS SELATAN, NIASONLINE – Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman Dachi menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pariwisata Nias Selatan segera melakukan tindakan penangangan darurat atas kerusakan berat pada atap Omo Sebua (rumah adat) di Bawömataluo.

Respons cepat Bupati Idealisman itu diberikan empat hari setelah kejadian. Dalam pertemuan di rumah dinas Bupati Nisel pada Selasa (1/11/2011) tersebut, Nias Online menyampaikan berbagai keluhan warga Desa Bawömataluo dan mempertanyakan tindakan darurat apa yang dilakukan Pemda Nisel mengingat keparahan kerusakan pada Omo Sebua tersebut. Bupati Idealisman sendiri baru tiba di Nisel pada Selasa (1/11/2011) dari Medan.

Saat itu juga, Bupati Idealisman memerintahkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Kepala Dinas Pariwisata untuk segera terjun ke lokasi dan melihat apa yang dibutuhkan. Dia juga memerintahkan untuk segera membawa seng dan kebutuhan yang diperlukan untuk menutup sementara atap yang rusak tersebut.

Merespons perintah Bupati tersebut, Kadis PU langsung meninjau Omo Sebua dan membicarakan teknis penangangan darurat kerusakan tersebut. Sementara itu, Wakil Bupati Hukuasa Ndruru mengatakan, akan mengadakan rapat dengan Unesco pada 2 November 2011 untuk membahas penangangan Omo Sebua tersebut.

Sebelumnya, menyusul kejadian tersebut, warga Desa Bawömataluo mempertanyakan tidak adanya tindakan cepat yang dilakukan oleh Pemda Nisel sejak kejadian pada Sabtu (30/10/2011) dinihari tersebut. Akibatnya, hujan yang terus mengguyur selama beberapa hari ini, langsung masuk ke dalam rumah. Hal itu dikuatirkan melemahkan banyak bagian konstruksi rumah yang selama ini sudah rapuh dan beberapa di antaranya sudah rusak berat.

Tidak hanya itu, empat rumah lainnya yang mengalami sejumlah kerusakan akibat tertimpa seng dan kayu penopang atap yang diterbangkan angin puyuh itu juga belum mendapatkan penanganan.

Desakan adanya tindakan darurat untuk ‘menyelamatkan’ Omo Sebua tersebut juga disampaikan oleh berbagai pihak. Dr. T. Yoyok Subroto, Ketua Tim Peneliti UGM-Jepang di Omo Sebua pada Agustus lalu, mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Omo Sebua tersebut. Anggota tim Peneliti UGM Dr. Diananta mengharapkan Pemda segera memberikan bantuan secepatnya, setidaknya untuk menambal kebolongan pada atap tersebut dan mengantisipasi kejadian serupa.

Sementara itu, peneliti Omo Sebua yang juga guru besar art history dari Hawaii Pacific University, Prof. Jerome Feldman, Ph. D, mengaku sangat sedih dengan apa yang menimpa Omo Sebua tersebut. Peneliti yang pernah tinggal di rumah itu selama tiga bulan pada tahun 70-an berharap agar segera disiapkan tim khusus untuk restorasi peninggalan bersejarah tersebut.

Kerusakan Atap dilihat dari Dalam Rumah (Foto: Etis Nehe)

Sense of Crisis Rendah

Secara terpisah, tokoh masyarakat Desa Bawömataluo di Jakarta, Waspada Wau menilai, respons Bupati Idealisman itu, meski telat, tapi sudah tepat. Dia menilai, respons Pemda secara umum atas kejadian di Omo Sebua tersebut sangat lambat.

Sense of crisis atau sense of emergency aparat pemda rendah. Beda jauh dengan para orangtua dulu yang meski tidak berpendidikan, tapi mewariskan bangunan bersejarah itu kepada kita. Sekarang kita tinggal melihat dan menikmatinya. Tapi, respons atas kondisi yang menimpa warisan bersejarah itu sangat jauh dari harapan,” jelas dia.

Menurut dia, bertindak cepat itu merupakan bagian dari kearifan. Ketidakcepatan respons pemda itu karena sangat birokratis. Padahal, siapapun dan dalam posisi apapun, harusnya punya kearifan.

“Kita juga apresisasi kebijakan bupati ini yang memberi perintah cepat untuk menanganinya. Seharusnya, wakil bupati bisa bertindak atas nama bupati dan mengkoordinasikan tindakan darurat tanpa menunggu Bupati yang kebetulan tidak berada di tempat. Harapannya, jajaran aparat pemda mencontoh respons pimpinannya bahwa seharusnya seperti itu mereka bertindak,” tegas dia.

Pantauan Nias Online langsung ke dalam rumah menunjukkan kerusakan yang sangat parah. Bagian atap yang terbuka terlihat menganga. Tidak hanya seng yang terbang diterjang angin. Kayu-kayu penopangnya juga ikut terbawa. Hal itu menyebabkan kerusakan berupa sejumlah patahan pada kayu yang masih berada pada konstruksi rumah. Karena bolong atap tersebut tidak ditutup, guyuran air hujan yang terus menerus selama beberapa hari ini langsung menerjang ke dalam rumah. Menyebabkan bagian dalam rumah, termasuk tangga menunju rumah terus terbasahi dan terancam lapuk.

Penangangan rumah itu juga tidak cukup hanya dengan tindakan darurat mengingat konstruksi rumah yang sebelum rusak pun sebenarnya sudah rapuh. Pemasangan seng baru juga tidak memungkinkan dilakukan tanpa mengganti semua kayu konstruksi atap dan penopangnya dari bawah. Dengan demikian, dana darurat yang tidak terlalu besar, tidak akan cukup untuk menangani kerusakan rumah itu. Dibutuhkan dana yang sangat besar, termasuk dukungan dari pemerintah pusat untuk mencegah keparahan kerusakan rumah di desa kandidat warisan dunia (world heritage) tersebut. (EN)

Facebook Comments