Salah Satu Atraksi Tari Perang (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

JAKARTA, NIAS ONLINE – Inisiatif swadaya masyarakat Desa Bawömataluo menggelar Pageralan dan Atraksi Budaya “Bawömataluo 2011” pada 13-15 Mei 2011 lalu mulai menampakkan hasil. Jumlah pengunjung ke desa itu, kini, mengalami peningkatan drastis.

Kepala Desa Bawömataluo Ariston Manaö mengungkapkan, pada 2010, pengunjung pada hari minggu biasa (di luar hari libur/hari raya) sangat sepi. Kalaupun ada, paling 50 orang saja. Hanya pada hari Minggu yang bertepatan dengan hari libur/hari besar, pengunjung paling banyak per bulan sekitar 300 orang. Sedangkan pada hari di luar hari Minggu, seringkali tanpa pengunjung sama sekali.

“Namun, paska pagelaran “Bawömataluo 2011”, pada hari Minggu biasa saja pengunjung bisa mencapai 200-300 orang per hari. Itu baru pengunjung domestik. Pada hari Senin-Sabtu pengunjung juga banyak, terutama dari luar pulau Nias dan mancanegara. Sekarang, paska Mei 2011, rata-rata pengunjung per bulan sekitar 1000-1500 orang,” ujar Ariston kepada Nias Online ketika mengunjungi desa itu bulan lalu.

Dia menambahkan, saat ini, jumlah pengunjung non-lokal (dari luar Pulau Nias) selama Senin-Sabtu bahkan melebihi jumlah total pengunjung lokal yang biasanya ramai sekali pada hari Minggu.

Pengamatan Nias Online secara langsung pada bulan lalu, menunjukkan hal itu. Ada indikasi jelas peningkatan minat desa itu. Dalam perbincangan dengan beberapa pengunjung mancanegara, ada indikasi bahwa kini Bawömataluo kembali masuk daftar objek wisata yang wajib dikunjungi di wilayah Sumatera bahkan di Indonesia.

Pantas Dicontoh

Atraksi Famadaya Harimao (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

Sebagai pengingat, “Bawömataluo 2011” yang tanpa dukungan pemerintah daerah tersebut sanggup menarik pengunjung lebih dari 30 ribu orang dalam tiga hari dua malam. Perputaran uang pada saat itu diperkirakan lebih dari Rp 500 juta.

Saat itu, panitia mengemas sedemikian rupa berbagai penampilan kekayaan budaya di desa itu. Selain atraksi budaya, Panitia juga menggelar sejumlah permainan tradisional yang selama ini mulai terlupakan.

Untuk atraksi kebudayaan, selain lompat batu, yang paling menarik perhatian adalah atraksi kolosal tari perang. Atraksi yang melibatkan ratusan orang dengan senjata lengkap dan pakaian khas tersebut dipimpin oleh seniman terkenal, Hikayat Manaö.

Atraksi tari perang sendiri merupakan peragaan simbolik dari perang yang secara historis sering terjadi pada masa lalu. Atraksi itu menggambarkan secara lengkap peperangan jaman dulu. Mulai dari persiapan, sistem komando, perang massal, perang individual (tarung satu lawan satu) hingga prosesi perayaan kemenangan.

Varian lain atraksi itu adalah peragaan Famadaya Harimao sebagai bagian dari sesi tari perang. Acara kemudian ditutup dengan atraksi lompat batu yang secara simbolik juga menggambarkan kemampuan para ‘pasukan elit’ dalam melompati benteng lawan.

Sanggar seni juga diberi tempat untuk menunjukkan kekayaan seni desa itu. Sementara untuk memamerkan hasil kerajinan tangan serta makanan tradisional, panitia menyediakan tempat khusus untuk itu.

Kesuksesan pagelaran “Bawömataluo 2011” adalah kisah sukses (success story) bahwa asal ada inisiatif dan komitmen kebersamaan, berbagai potensi di setiap desa dapat diangkat ke permukaan (bernilai jual, selain nilai edukasinya) tanpa harus menunggu inisiatif atau dukungan pemerintah daerah, apalagi pusat.

Permainan Tradisional "Fagendro Batu" (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

Tidak hanya di Nias selatan, di berbagai wilayah di Pulau Nias banyak desa yang memiliki kekayaan dan keunikan. Mungkin tidak semua harus melakukannya sendiri-sendiri seperti yang dilakukan Desa Bawömataluo. Bisa dilakukan secara bersama. Bisa juga dengan melibatkan pihak swasta.

Namun sekali lagi, saatnya untuk belajar mandiri, dan mengurangi ketergantungan pada Pemda yang dalam banyak hal, memang sulit untuk diharapkan. Apalagi bila pemda sendiri mengalami keterbatasan, baik dana, maupun komitmen selain masalah birokrasi yang berbelit. Dan sejatinya, pengalaman Desa Bawömataluo itu, juga menjadi pelajaran/koreksi bagi Pemda Nias Selatan.

Bravo Desa Bawömataluo. Semoga sukses untuk persiapan pagelaran “Bawömataluo 2012”. (Etis Nehe)

Catatan: Artikel di atas baru ditayangkan karena masalah teknis pada situs beberapa waktu lalu. Artikel tertunda lainnya, akan ditayangkan bertahap.

Facebook Comments