Ilustrasi/googller.files.wordpress.com

JAKARTA, NIAS ONLINE – Pemerintah mengungkapkan, program untuk menurunkan angka kemiskinan menghadapi kendala di lapangan. Di antaranya, kebiasaan kalangan orang miskin itu sendiri dalam hal pengeluaran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengeluaran terbesar orang miskin setelah pembelian beras, ternyata adalah untuk membeli rokok.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengungkapkan, kenyataan itu merupakan fenomena kontraproduktif dalam menurunkan angka kemiskinan di negeri ini. Catatan BPS menyebutkan, pengeluaran nomor dua masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan adalah rokok setelah nomor satunya beras.

“Yang paling mendasar itu, rokok yang dihubungkan dengan garis kemiskinan. Sebagian besar orang miskin itu membeli rokok setelah beras. Lalu, bagaimana menurunkan kemiskinan? Ya suruh saja semua orang miskin berhenti merokok, penurunan kemiskinan nanti signifikan,” ujar Rusman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu malam (14/9/2011).

Dia mengatakan, saat ini bagi sebagian orang, merokok itu seolah ‘wajib hukum’nya. Kenaikan harga rokok karena kenaikan cukai juga tidak berdampak pada berkurangnya jumlah perokok di kalangan orang miskin. Kalaupun ada yang berhenti merokok, itu karena kesadaran sendiri.

Menurut dia, bila orang miskin berhenti merokok, bisa membantu mengurangi kemiskinan mereka. Sebab, uang yang dipakai untuk membeli rokok, dapat digunakan untuk membeli beras, menabung atau biaya transportasi anak ke sekolah.

“Ada pengeluaran bagi orang miskin tapi tidak ada sumbangan dan kontribusi untuk meningkatkan garis kemiskinan, jadi benar-benar kontra produktif,” tegasnya. (EN)

Facebook Comments