Tim Penguji Micro Tremor di Dalam Omo Sebua Bawömataluo (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

Bawomataluo, Nias Online – Hasil survei menyeluruh yang dilakukan tim ahli dari Jepang dan Universitas Gadjah Mada (UGM) selama Jum’at- Sabtu (5-6 Agustus 2011) menunjukkan, meski terlihat kokoh dari luar, kondisi konstruksi Omo Sebua di Desa Bawömataluo dalam kondisi kritis. Bangunan bersejarah itu, perlu segera direstorasi untuk melestarikannya.

“Kondisinya parah. Kalau dianalogikan dengan penyakit kanker, maka sudah stadium empat,” ujar Ketua Tim Ahli kedua negara tersebut, T. Yoyok Subroto kepada Nias Online di Bawömataluo, Sabtu (7/8/2011).

Dia menjelaskan, dari hasil sementara pengujian atas konstruksi rumah tersebut menunjukkan rumah itu tidak akan bertahan lama bila tidak dilakukan restorasi segera. Rumah itu juga tidak akan tahan lagi bila terjadi gempa. Secara kasat mata, selain tua, beberapa bagian rumah kayu itu membusuk, rapuh dan dimakan rayap.

Hal serupa diungkapkan ketua tim peneliti Jepang, Dr Koji Sato yang sempat naik hingga ke puncak bangunan Omo Sebua untuk memotret kondisi kayu-kayu yang membentuk rumah itu. Di bagian atas ditemukan banyak kayu yang mengalami kerusakan berat.

“Kondisi rumah ini kritis. Tidak bisa bertahan lama. Perlu restorasi segera. 70% bagian bawah rumah kritis,” ungkap Sato.

Menurut dia, bila bagian atas rumah yang mengalami kekritisan, masih tidak terlalu menguatirkan. Tapi bila bagian bawah konstruksi rumah itu kritis, maka akan menyebabkan bangunan itu tidak akan bisa bertahan lama.

Sato mengatakan, pihaknya akan menggunakan hasil riset tim tersebut untuk menggugah berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Jepang dan Unesco agar membantu restorasi rumah bersejarah itu.

Dia berharap, dengan desa Bawömataluo diterima menjadi warisan dunia, maka mata dunia akan tertuju ke desa itu. Dengan itu, diyakini akan mendorong adanya dukungan untuk pelestarian desa itu dan bangunan rumah-rumah tradisional di dalamnya, termasuk Omo Sebua.

“Saya sudah mengunjungi berbagai rumah kayu tradisional di seluruh Indonesia. Rumah ini adalah rumah kayu terbesar yang masih utuh di Indonesia. Sayang sekali kalau dibiarkan rusak,” ujar Sato menjelaskan salah satu keunikan rumah itu dan yang sekaligus menjadi daya tarik timnya melakukan penelitian di desa itu.

Dr Koji Sato, Dr Yoyok, Dr Diananta bersama Bapak Mo'a Wau & warga Desa Bawömataluo Memperhatikan Foto-Foto Kondisi Konstruksi Omo Sebua. (Foto: Etis Nehe/www.niasonline.net)


Bongkar Total

Baik Yoyok maupun Sato sepakat bahwa rumah itu perlu direstorasi segera, bahkan dibongkar total.

“Solusinya, bangunan rumah itu dibongkar total dan kemudian dibangun ulang seperti aslinya,” ujar Yoyok.

Menurut Yoyok, selain akan menjadi cara untuk melestarikan bangunan bersejarah itu, pembongkaran dan pembangunan kembali rumah itu akan mewariskan pengetahuan bagi generasi berikutnya perihal pembangunan rumah serupa. Sehingga, ketika rumah tersebut hancur, tetap tersedia pengetahuan yang memungkinkan rumah serupa dapat dibangun kembali.

Dia mengatakan, hal serupa dilakukan pada bangunan tua dari kayu di Jepang. Misalnya, sebuah kuil milik Kekaisaran Jepang yang direstorasi setiap 20 tahun.

Sebelumnya, tim ahli dari berbagai universitas di Jepang itu melakukan berbagai pemeriksaan mendetail terhadap kondisi bangunan rumah itu. Termasuk uji daya tahan bangunan itu terhadap goncangan dengan melakukan uji micro tremor. Berbagai peralatan canggih dilibatkan untuk pengujian itu. (EN)

Catatan: Berita ini baru dimuat karena sebelumnya situs ini mengalami masalah teknis selama sekitar sebulan terakhir sehingga tidak bisa menayangkan berita.

Facebook Comments