Kemeriahan Kegiatan "Bawömataluo 2011" di Depan Omo Sebua (Foto. Etis Nehe/www.niasonline.net)

Bawömataluo, Nias Online – Survei Komprehensif lanjutan oleh Tim Ahli dari Jepang dan Universitas Gadjah Mada (UGM) atas kondisi Omo Sebua di Desa Bawömataluo, diakui sebagai bagian dari upaya mendukung agar situs bersejarah tersebut dapat diakomodir oleh Unesco (PBB) sebagai warisan dunia (world heritage).

Hal itu diungkapkan Direktur Graduate Programme pada Architecture and Tourism Planning UGM Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M. Eng, PhD kepada Nias Online di Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu (6/8/2011).

Yoyok menjelaskan, survei yang pada intinya merupakan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah tersebut, merupakan bentuk dukungan bagi masyarkaat setempat dan Pemda dengan mencari tahu potensi yang bisa diangkat ke permukaan sehingga bisa diakui dunia sebagai world heritage.

Untuk keperluan itu, pihaknya melibatkan berbagai pakar di bidang teknologi, konstruksi kayu, konservasi dan perilaku pemukim.

“Yang kita harapkan nanti, mata dunia melihatnya dan ikut memelihara,” ujar pria paruh baya yang juga menjadi Ketua Tim para ahli tersebut.

Dia menjelaskan, hasil survei yang diperkirakan berlangsung tiga tahun tersebut akan disampaikan kepada pihak-pihak terkait. Terutama kepada Unesco dan termasuk pemerintah Jepang yang memberi dukungan untuk tujuan survei ini.

Dia mengakui, survei ini baru merupakan tahap penjajakan untuk tujuan akhir, yakni menjadikan desa ini sebagai warisan dunia. Pihaknya juga berupaya menjembatani perbedaan pandangan antara Unesco dan masyarakat desa. Menurut dia, perbedaan itu karena Unesco memiliki target terukur dalam programnya, sementara masyarakat tidak memiliki target terukur.

Misalnya, kata dia, terkait model atap rumah dimana Unesco menginginkan semuanya tetap dari daun sagu atau apapun asal tetap terlihat alami. Sebaliknya, masyarakat lebih memilih sisi praktis penggunaan atap selain daun rumbia. Misalnya, seng atau atap dari bahan plastik. Masyarakat beralasan, penggunaan daun rumbia selain merepotkan, juga mahal dan sulit mendapatkannya saat ini. Di sisi lain, penggunaan bahan-bahan tersebut menyebabkan desa itu kehilangan keasliannya.

“Kami berusaha mencari solusi untuk mengantarai perbedaan itu,” kata dia.

Pihaknya juga akan mendorong agar masyarakat tidak hanya berpikir mencari penghidupan secara instan. Dalam kaitannya dengan kepariwisataan, kata dia, masuknya uang ke desa ini akan menjadi akibat dari apa yang dilakukan oleh masyarakat.

“Misalnya di Bali. Keseharian masyarakat itu menjadi semacam atraksi bagi turisme. Akhrinya, dengan sendirinya uang datang ke sana. Jadi, pola-pola pelestarian tetap bisa dilakukan tanpa harus menjadi beban,” jelas dia.

Dia mengakui sulit untuk mengharapkan dana dari pemerintah untuk memelihara peninggalan bersejarah itu. Tapi dengan kajian akademis yang baik, diharapkan bisa menarik perhatian masyarakat dunia untuk ikut bertanggungjawab merawatnya.

Yoyok menambahkan, dengan penelitian ini, tidak semata-mata untuk meraih status warisan dunia. Tapi juga untuk pelestarian dan ketersediaan pengetahuan yang memungkinkan untuk membangun ulang bangunan serupa bila bangunan asli tidak bisa dipertahankan.

“Jadi, kita pun harus tahu cara membangun ulang bangunan serupa, bila rumah asli ini tidak bisa dipertahankan,” jelas dia. (EN)

Facebook Comments