Jadi Warga Nias Selatan, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini Digelari “Tuha Samaeri Nahönö”

Wednesday, June 29, 2011
By susuwongi

Menteri PDT Helmy Faishal Zaini Dachi Dalam Balutan Baju Adat Kebesaran Nias Selatan (Foto: DDW)

BAWöMATALUO, NIASONLINE – Setelah sempat tertunda akibat sehari sebelumnya pesawat yang membawanya ke Pulau Nias tidak bisa mendarat, akhirnya Menteri Pembangunan Desa Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini tiba di Nias Selatan (Nisel) dan menuju ke Desa Bawömataluo hari ini, Rabu (29/6/2011).

Di desa itu, dengan dihadiri oleh Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi, Ketua DPRD Nisel Effendi, semua SKPD, camat dan kepala desa seluruh Kabupaten Nisel dan tokoh adat, khususnya dari Desa Bawömataluo, Menteri Helmy menjalani upacara pengukuhan sebagai warga Nisel. Acara dimulai sekitar pukul 15.15 Wib.

Para tokoh adat yang hadir di antaranya, Tuha Somasi Niha (Ama Ame/Bajamaoso Wau, Maduwu Jiliwu (Ama Ana/Mo’arota Wau) dan Solare Tanö (Ama Elikasi/Khöudania Wau), Tuha Simae Ewali (Ama Defi/Tafaoso Wau), Bulusa Maenamölö (Ama Chermin Eforis/Waspada Wau), dan Tuha Sanofu Börö (Ama Gersom/Teruna Wau). Secara seremonial, mereka mengukuhkan Menteri Helmy sebagai warga Nisel dengan nama gelar “Tuha Samaeri Nahönö” dan diberi marga Dachi.

Sedangkan penyematan perangkat baju adat lengkap, dilakukan oleh Bupati Idealisman Dachi. Menteri Helmy diberikan baju adat, ikat pinggang, kalung (kalabubu), rai (mahkota), baluse, tombak dan pedang.

Sementara itu, dalam pidatonya, Bupati Idealisman menjelaskan, arti gelar yang diberikan kepada menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, yakni pemimpin besar yang mengayomi, yang menjadi teladan dan panutan bagi rakyat Nisel.

Bupati Idealisman menekankan, dengan ikatan kekerabatan adat itu, kiranya Menteri Helmy dapat memperhatikan dan menyumbangkan pemikirannya demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Nisel.

“Dengan ini, kiranya di masa mendatang, pembangunan di Nisel lebih maju dan dapat mengejar ketertinggalannya dan menjadi sejajar dengan kabupaten yang sudah maju di Indonesia,” tukas dia.

Pengukuhan tersebut juga dihadiri oleh para mahasiswa di perguruan tinggi di Nisel dan juga anak-anak sekolah. Melengkapi acara itu, digelar atraksi tari perang (faluaya), fogaele, lompat batu, dan Famadaya Harimao yang diliput oleh berbagai media massa, termasuk media nasional dari Jakarta.

Bangga

Kiri-Kanan: Si'ulu Solare Tanö, Si'ulu Maduwu Jiliwu, Ketua DPRD Nisel Effendi, Bupati Nisel Idealisman Dachi, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini dan Si'ulu Tuha Somasi Niha (Foto: DDW)

Sementara itu, dalam pidato sambutannya, Menteri Helmy mengaku sangat berterimakasih dan bangga menjadi warga Nias Selatan. Menurut dia, pesta adat di Nisel seperti ditampilkan melalui acara pengukuhannya hari ini, merupakan kekuatan budaya yang luar biasa, yang diminati, dicintai dan dikagumi di seluruh dunia.

“Kita harus bangga menjadi seorang Indonesia, kita harus bangga menjadi warga Nias Selatan yang budayanya begitu agung, dihormati dan dikagumi banyak orang di seluruh dunia,” ujar Menteri Helmy.

Sementara dalam kata sambutannya, Kepala Desa Bawömataluo, Ariston Manaö mengungkapkan kebanggaannya dengan kehadiran Menteri Helmy di desa budaya itu. Pada kesempatan itu, Ariston juga memamparkan data terkait Desa Bawömataluo. Termasuk berbagai keadaan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Di antaranya, masalah pertanian dan juga kepariwisataan di desa itu. (EN/DDW)

Tags:

4 Responses to “Jadi Warga Nias Selatan, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini Digelari “Tuha Samaeri Nahönö””

  1. 1
    Fusö Newali Says:

    Yang disayangkan, cara-cara penyambutan ala Orde Baru masih dilaksanakan pada kedatangan namada menteri ini. Siswa sekolah yang seharusnya libur, dimobilisasi agar berpakaian seragam, berdiri dipinggir jalan untuk menyambut namada menteri. Juga warga dihimbau melalui pengeras suara agar memasang umbul-umbul didepan rumah mereka.

    Kita seharusnya tidak bangga dengan kedatangan namada menteri Pembangunan Desa Tertinggal, karena seandainya daerah kita tidak masuk kategori tertinggal, menteri ini tidak perlu datang.

    Yang cukup menggelitik adalah pemberian marga Dachi pada pak menteri, tetapi pelaksanaan upacaranya di desa Bawömataluo — yang sebenarnya merupakan desa klan Wau 😉

  2. 2
    Rex Ankara Says:

    Benar sekali respon Sdr. Fuso Newali. Bpk menterinya digelari mado Dakhi tapi yg menabiskannya kok si’ila Bawomataluo bukannya si’ila Hilisimaetano yg notabene klannya ono Dakhi. Nampaknya Bupati Nisel telat mikir ttg adat di Nias Selatan.

  3. 3
    waruwu Says:

    Saran saya….hindarkan cara2 spt ini…, krn gk zamannya lagi….menurut ” Logika ” saya Gelar adat menurut sy gk boleh di berikan pada siapapun di luar msy Nias sendiri…, krn akan memperbudak diri daerah kita sendiri …Cukupkanlah beri gelar sbg ” Tamu Kehormatan” dari pada beri gelar terhormat dan Nama terhormat secara adat….ini hny saran saya jika kita ingin agar Budaya kita lepas dari penjajahan universal….trimakasih

  4. 4
    Marselino Fau Says:

    Masa jabatan Pak Menteri efektif kurang lebih 2 thn lagi,…… apa yang diharapkan dari pemberian nama dan marga kita tunggu…..

Kalender Berita

June 2011
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930