Atraksi Famadaya Harimao pada Bawömataluo 2011 (Foto: Etis Nehe/www.niasonline.net)

Oleh: Heru Hendratmoko

KBR68H (24/6/2011) – Pernah menjadi destinasi wisata alternatif, selain Bali, Pulau Nias sempat terpuruk selama lebih dari sepuluh tahun. Hamparan pantai yang indah, beragam seni tradisi yang memukau tak mampu membuat pesona Nias bertahan lama.

Krisis ekonomi dan politik pada masa transisi sebelum dan sesudah reformasi, ikut memperburuk keadaan. Kemiskinan nyaris merata. Tapi warga Nias tak mau berlama-lama merutuk nasib. Mereka hendak bangkit dari tidur yang lama. Mereka menggeliat dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Nias tak pernah mati. Heru Hendratmoko terbang ke Nias dan berbagi cerita untuk Anda.

Menikmati Nias

Pesawat Wings Air jenis ATR72-500 dari Medan mendarat mulus di bandara Binaka, GunungSitoli, Pulau Nias.

Cuaca panas terasa menampar kulit begitu keluar dari bandara. Pulau Nias memang sedang ditimpa kemarau, meski hujan sesekali masih turun. Persis di depan pintu keluar, sebuah baliho besar berdiri. Memberi tahu setiap tamu kalau pada pertengahan Mei itu sedang berlangsung sebuah festival budaya.

Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari kota Gunungsitoli. Di antara desa-desa lain di seluruh Pulau Nias, desa inilah yang paling terkenal. Bawömataluo memang dikenal sebagai desa adat, dengan ikon Tari Perang dan Lompat Batu.

Bawömataluo, artinya Bukit Matahari. Desa seluas 5 hektar ini memang berdiri di atas sebuah bukit, pada ketinggian 364 meter di atas permukaan laut. Pada musim kemarau, di siang hari, matahari membakar kawasan ini. Untuk menuju ke sini, harus mendaki 85 anak tangga, mencapai lapangan yang seluruhnya dari batu. Di sekitar lapangan berdiri ratusan rumah adat.

Siang hari itu, ribuan orang sudah berkumpul di lapangan desa. Makin sore hingga malam hari, seluruh tanah lapang bahkan sudah dipenuhi ribuan orang. Sebagian dari mereka datang dari desa-desa sebelah. Juga terlihat beberapa wisatawan domestik dan mancanegara yang khusus datang ke acara yang baru pertama kali ini diselenggarakan. Semua bergembira.

Meski kelihatan lelah, Kepala Desa Bawömataluo, Ariston Manaö, tak bisa menyembunyikan kepuasannya berhasil menyelenggarakan sebuah fesitival budaya. “Itu memang kerinduan masyarakat yang selama sekian tahun, setelah berakhirnya pesta Ya’ahowu yang tidak berlanjut, maka pergelaran yang sedang berlangsung ini sebetulnya merupakan harapan masyarakat yang sudah terjawab.”

Selama tiga hari, desa Bawömataluo seolah tak pernah tidur. Desa yang sehari-hari sepi, hari-hari itu berubah menjadi pusat keramaian. Seperti kata Ariston Manaö, warga desa Bawömataluo memang sedang mencoba membangkitkan kembali budaya dan tradisi yang sudah terancam hilang.

“Kami selaku putra-putri daerah di Bawömataluo ini tentu punya beban moral yang sangat besar. Karena bagaimana pun segala kegiatan di desa ini akan berimbas ke desa-desa sekitarnya. Di sini baik, di luar pasti baik. Tapi kalau kita salah arah, salah asuh, salah melakukannya, semua pasti akan salah. Apalagi yang namanya asal-usul budaya, adat istiadat itu asalnya dari Bawömataluo ini sendiri.”

Bermacam seni tradisi ditampilkan dalam Festival Bawömataluo. Ada Tari Baluse. Ada adu ketangkasan atau yang lebih dikenal dengan tradisi Lompat Batu. Ada Tari Perang.
Atau sekadar permainan Fafiri, yakni permainan memukul bilah bambu yang bisa berputar-putar mirip bumerang. Bilah bambu yang berputar itu harus diarahkan menuju dua bilah kayu yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat memukul. Siapa yang paling cepat meruntuhkan dua kayu bersilang itu, dia yang menang. Juga arak-arakan patung harimau dan beberapa tarian adat lainnya

Bagi warga Bawömataluo, juga desa-desa tetangganya, seluruh atraksi yang digelar dalam festival selama tiga hari itu benar-benar menjadi pesta rakyat. Tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, tumpah di lapangan batu. Bagi sebagian warga, festival ini sekaligus menjadi ajang nostalgia ketika di masa lalu Nias masih ramai dikunjungi wisatawan, terutama turis mancanegara. Suatu masa ketika kapal-kapal pesiar masih sering singgah di pulau ini, sebagaimana kenangan yang masih melekat di ingatan Etis Nehe, pemuda asli kelahiran Bawömataluo.

“Saya masih ingat, dulu ketika saya masih kecil saja, kami sudah biasa melihat bule-bule itu lalu-lalang di sini. Tahun-tahun itu 1980-an, kita biasa menyaksikan misalnya, kami hapal dengan nama-nama kapal pesiar dari luar negeri…Rotterdam…MS Europe…Pearl Harbour….Itu, sekali bawa turis bisa sampai seribu orang. Dan mereka datang ke desa ini naik truk.”

Nias yang memiliki banyak pantai indah dan kekayaan tradisi yang unik bahkan sempat menarik minat Wakil Presiden di masa pemerintahan Soeharto, yakni Sultan Hamengku Buwono ke-9. Tak lupa Sri Sultan juga berkunjung ke Desa Bawömataluo, bahkan menetapkan desa itu sebagai Desa Budaya. Tetua adat setempat, Hikayat Manaö yang juga dikenal sebagai Panglima Kafalo Jaluaya, memutar kembali kenangan lama itu.

“Kalau setahu saya, pada waktu pak Hamengku Buwono pada 1973 datang ke Nias, ke Bawömataluo. Desa ini dicanangkan sebagai desa budaya. Berkembang dan berkembang, akhirnya banyak kapal pesiar masuk ke wilayah ini, dan ke desa Bawömataluo.”

Hal serupa dinyatakan Dony Iswandono dari situs Nias Bangkit dotcom yang banyak mempelajari sejarah Nias.

“Bawömataluo adalah sebuah desa warisan budaya yang semenjak Sri Sultan Hamengku Buwono IX memprakarsai wilayah itu sebagai destinasi wisata, sebenarnya terus berkembang dan sempat mencapai puncak kejayaan sebagai tujuan wisata sebelum krisis 1997…”

Tapi itu cerita masa lalu. Krisis ekonomi, yang kemudian berlanjut menjadi krisis politik di ujung pemerintahan Orde Baru di bawah rezim Soeharto, ikut menghantam Nias. Ditambah dengan situasi keamanan yang tak lagi terjamin, maraknya kasus-kasus terorisme, membuat dunia wisata di Nias ikut tenggelam. Tak ada lagi kapal pesiar yang singgah di Teluk Dalam. Bawömataluo, desa di mana Etis Nehe lahir dan dibesarkan, pun perlahan-lahan dilupakan. Sepi.

“Jadi sejak itu, kurang lebih sepuluh tahun lebih, kita tak pernah melihat lagi ada turis datang dalam jumlah yang banyak. Kita tak pernah lagi melihat kapal pesiar singgah di pelabuhan di sana…”

Sejak itu Nias seolah hilang dari peta bumi. Penduduk Nias yang mayoritas bekerja sebagai petani karet tradisional pun tenggelam dalam keseharian yang kering. Dan miskin.

Membangkitkan Nias

Tuhujaro Jagötö, bapak 3 anak dengan 7 cucu ini, menepi dari lapangan ketika atraksi Lompat Batu sedang berlangsung. Ia sedang beristirahat setelah lebih dari satu jam ikut dalam barisan Tari Perang. Tubuh kurusnya setengah telanjang, sebagian dililit pakaian tradisional yang terbuat dari kombinasi kain tenun dan ijuk. Panas matahari yang membakar membuat tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang meleleh.

Pekerjaan Tuhujaro sehari-hari adalah menjadi petani karet. Ia mengaku punya 500 batang karet di kebunnya. Milik sendiri. Tapi jangan membayangkan ia kaya raya dari hasil sadapan getah karet. Justru sebaliknya. Hasil sadapan karet yang hanya menghasilkan 15 kilogram seminggu dengan harga Rp 14 ribu per kilo, sama sekali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Itu sebab, meski mengaku berusia 55 tahun, tampilan fisik Tuhujaro Jagötö justru memberi kesan ia berumur jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

“Lima kilo satu hari. Tiga hari satu minggu kami gores. Lima belas kilo satu minggu. Cukup untuk keluarga? Kuranglah, tapi apa boleh buat. Sedangkan beras di sini Rp 20 ribu satu liter. Ada lagi (bayar) sekolah. Orang kesasar. Tapi kita bukan orang miskin. Kalau pengemis itu orang miskin. Pokoknya kita tidak mencuri. Apa yang dapat, dimakan. Seperti ayam…”

Tuhujaro tentu tak sendiri. Pulau seluas 5 ribuan km persegi dan berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini mayoritas masih terbelit kemiskinan serupa. Padahal pulau ini punya potensi untuk berkembang. Terutama wisata alam dan kekayaan budaya lokal, sebagaimana pernah tumbuh di masa lalu, layak digarap lagi.

Tapi upaya membangkitkan kembali Nias sebagai destinasi wisata tidak segampang membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus dibenahi, termasuk mendorong masyarakat dan pemerintah daerah untuk berubah. Soal inilah yang membuat Föna Marundrury, putra Nias yang menjadi pengusaha nasional, tergerak untuk turun tangan, terutama menggali kembali tradisi dan budaya lokal yang terancam hilang.

“Yang kurang dari kita adalah kurangnya kesadaran itu sendiri. Di masyarakatnya kurang. Tapi kalau masyarakat saya lebih bisa memaklumi karena mereka lebih sebagai obyek yang diatur. Kalau dibilang pemerintah itu menata ekonomi, yang ditata itu salah satunya ya masyarakat. Nah yang menata ini apa punya paradigma yang sama gak? Apakah mereka melihat bahwa budaya tidak diperhatikan sehingga kita tidak mendapat segala benefit. Seperti Bali yang mendapat benefit penuh dari mereka yang mendalami dan mencintai budaya mereka. Hingga turis jauh-jauh datang dari benua lain hanya untuk melihat tari Kecak umpamanya. Lha kalau sekarang di Nias bagaimana?”

Pragmatisme harus disingkirkan jauh-jauh.

“Treatment terhadap wisata itu tidak ada wahana kulturalnya. Itu yang saya bilang, mereka serta merta langsung berpikir, wah ada turis. Langsung buka warung. Nanti paling nggak, turisnya makan indomie. Ya berapa lah yang bisa didapat dari situ.”

Di mata Föna, kunci pengembangan Nias adalah aspek budaya.

“Lha kalau bicara budaya, itu sesuatu yang hasilnya tidak bisa dipegang tangan. Tunggu nanti sampai bisa menguasai. Seperti di Bali ada kampung pemahat, ada kampung pengrajin perak. Nah di kita kan belum ada. Lha sekarang yang bikin suvenir saja terbatas jumlahnya. Saya dengar itu tidak sampai 10 orang yang punya kemampuan pahat-memahat patung.”

Menurut Dony Iswandono, pengelola situs Nias Bangkit dotcom, kalau mau menata kembali budaya Nias, sekarang lah saat yang tepat. Atau terlambat sama sekali.

“Mumpung masih ada tetua yang bisa bercerita banyak tentang bagaimana tradisi itu pada konsep aslinya. Seharusnya hal ini segera ditatata. Begitu banyak. Tari Maena itu tari yang mengasyikkan. Tidak kalah dengan tari Poco-Poco dari saudara kita di Manado. Kita melihat tari Maena kemarin waktu pembukaan yang menari kan lebih dari dua ratus. Nah kalau ditata dengan baik, tari Maena bisa dimainkan oleh seribu orang dan itu adalah potensi. Wisatawan bisa ikut menari dan bernyanyi di situ.”

Memang butuh proses. Butuh waktu. Warga Bawömataluo sendiri bukannya tidak sadar tentang pentingnya membangkitkan kembali tradisi budaya. Berat, iya. Tapi sikap yang optimistik dan kerja keras sebagaimana yang dilakukan Hikayat Manaö, sang Panglima Kafalo Jaluaya, bisa menjadi modal awal untuk mulai berbenah.

“Asal sudah paham, apa yang kita cita-citakan pasti dapat. Contoh untuk membuat yang namanya sanggar-sanggar budaya yang sifatnya kelompok, dulu di wilayah selatan ini kan tidak ada sama sekali. Yang mulai kan kita-kita ini. Kita mulai tahun 1988. Baru lahir satu sanggar. Tahun 1989 lahir satu sanggar. Akhirnya berkembang, setelah 4-5 tahun, akhirnya membaur. Bukan hanya di desa ini, bahkan di desa-desa lain.”

Nias, juga Bawömataluo, mungkin bisa kita bandingkan dengan Bali dan Desa Ubud-nya — tentu dalam bentuk dan nuansa yang berbeda. Yang satu sudah begitu terkenal sebagai destinasi wisata budaya bahkan di tingkat dunia, yang lain masih dalam tahap menggeliat. Begini kesan yang melekat di benak Jodhi Yudono, seniman asal Jakarta tentang malam-malam yang ia lewati di Bawömataluo.

“Malam-malam di Bawömataluo adalah sebuah keindahan yang luar biasa. Saya bisa mendapatkan sinar bulan yang bagus, bintang-bintang yang bagus, tanpa polusi sinar lampu. Kemudian melihat keramahan dari warga setempat. Saya rasakan orang Bawömataluo, terutama yang laki-laki adalah penyanyi dan penari semuanya.”

Catatan: Siaran lengkap dalam bentuk audio berita di atas dapat di akses di http://kbr68h.com/saga/77/8189.

Sumber: www.kbr68h.com

Facebook Comments