Pengantar Redaksi:

Sebelumnya kami telah menayangkan bagian pertama dari wawancara eksklusif Nias Online dengan Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi. Bagian pertama itu terutama mengenai progres kinerjanya sejak dilantik pada 12 April 2011. Berikut ini kami sajikan wawancara bagian kedua, tentang profil pribadi Bupati Idealisman.

Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi (Foto. Doc. Etis Nehe)

Pertanyaan ini lebih personal. Kenapa mau mencalonkan diri jadi bupati? Apakah itu semacam cita-cita dari kecil?

Saya ini kan latarbelakang besar di dunia politik. Politik itu identik dengan kekuasaan. Kita hadir di politik untuk merebut kekuasaan. Kekuasaan itu, setelah direbut, maka itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Kalau saya ditanya kenapa menjadi bupati, apalagi dalam usia yang masih muda, saya pikir kapan lagi. Dengan pengalaman saya di DPR selama ini, sudah cukup memberi pelajaran banyak. Ilmu yang banyak, bagaimana melihat kondisi, baik negara maupun daerah-daerah.

Sebenarnya, kalau ada orang yang mampu dan punya hasrat yang sama untuk membangun, bagi saya, tidak perlu jadi bupati. Lima tahun yang lalu, kita tahu kondisi Nisel ini seperti apa. Sebagai putra daerah, saya tertantang untuk memberi yang terbaik. Karena itu saya mencoba memersiapkan diri dengan satu tekad bahwa apabila kekuasaan bisa direbut, maka akan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Dulu waktu kecil, kalau saya ditanya, saya ingin jadi pilot. Tapi tidak kesampaian. Akhirnya saya pernah di dunia politik yang berbicara mengenai masalah masyarakat, masalah kesejahteraan, sehingga saya mengabdikan diri untuk terjun ke politik di DPR.

Dan menjadi pertanyaan, setelah kita mewakili masyarakat, apa yang kita lakukan, apa yang kita dapatkan. Dan ini selalu pertanyaan yang mendasar dalam dunia politik. Saya juga mau katakan, bahwa tidak sia-sia kalau dulu saya di DPR. Saya sudah melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Misalnya, saat terjadi gempa, kami memperjuangkan lahirnya BRR Aceh-Nias. Ini sesuatu yang saya pikir luarbiasa bisa dirasakan. Dan mungkin ini satu-satunya di Indonesia ada UU khusus soal bencana di Aceh dan di Nias.

Kedua, soal kesejahteraan msayarakat. Dulu kan cuma dua kabupaten. Nias dan Nias selatan. Sekarang sudah ada lima. Dalam masa jabatan kami, ada tiga kabupaten kota kami bisa loloskan. Pembentukannya itu lewat inisiatif DPR. Saya pikir ini menjadi landasan bagi kami, bahwa jabatan itu harus digunakan untuk kepentingan rakyat.

Kembali, kenapa mau jadi bupati? Saya pikir ruang untuk melakukan sesuatu yang baik untuk kesejahteraan itu ada di ruang pemerintah. Di ruang kekuasaan eksekutif. Itulah yang membuat saya terpanggil untuk membuat suatu perubahan. Ingin sesuatu yang ada di benak saya, pemerintah itu bisa menyejahterakan masyarakat. Kemudian saya realisasikan. Itu memang sesuatu yang abstrak ya kesejahteraan itu, tapi terasa.

Jadi kalau nanti pendidikan gratis itu terlaksana, maka kita sudah sama dengan orang Eropa. Orang Eropa dulu gratis bahkan sampai sekarang. Mereka menggratiskan karena itu memang tugas pemerintah. Uang digunakan untuk kepentingan masyarakat. Kita sudah memulainya. Bahkan lebih ekstrim lagi, kita sudah melakukan lebih awal dari pemerintah pusat. Pusat saja sampai saat ini tidak bisa menggratiskan pendidikan. Supaya masyarakat tidak terbebani karena pendidikan itu hak warga negara.

Saya tidak mau kalau hanya orang kaya saja yang bisa menempuh pendidikan tinggi. Maka masyarakat kecilpun, kalau punya kemampuan, bisa menempuh pendidikan. Jadi, ada rasa keadilan karena sesuai UUD 45 itu hak semua warga negara. Jadi kita wujudnyatakan melalui kebijakan kita. Demikian juga mengenai kesehatan.

Bagaimana peranan orangtua pada kehidupan Bapak?

Kalau orang tua saya, memang didikan mereka sangat keras dan ketat. Terutama bahwa menjalani hidup ini harus baik dan benar. Artinya, kalau boleh, ya kalau ya, dan tidak kalau tidak. Dan bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain. Dan ajaran ini sudah terekam pada saya, bagaimana saya implementasikan dalam kehidupan kami. Didikan orang tua itu punya peranan besar membentuk karakter kami dan sangat berperan. Terutama nilai-nilai bagaimana berjuang itu, orang tua saya, terutama papa saya menekankan hal itu kepada kami.

Saya sendiri merasakan itu. Contohnya, saat saya mau merantau setelah tamat SMA, ke Jakarta. Saat itu orang tua tidak izinkan. Tapi saat itu saya ngotot untuk berangkat. Orangtua bertanya kepada saya, “Ngapain kamu ke sana? Kalau hanya cari makan, di sini bisa cari makan.” Ini pertanyaan yang sangat mendasar sehingga saya berpikir terus dengan makna pertanyaan itu. Dan pertanyaan itu terjawab sekarang. Memang kalau kita merantau, tidak hanya sekedar mencari makan. Kalau sekedar cari makan, di kampung saja bisa cari makan. Jadi ada nilai yang lebih yang harus dicapai, terutama bagaimana merubah hidup.

Dalam beberapa pernyataan, Bapak sering menggunakan istilah-istilah kerohanian. Misalnya, pernyataan “Saya berjanji di hadapan Tuhan.” Bagaimana peranan spiritualitas pada kehidupan Bapak dan mengapa itu penting?

Begini. Saya ini dididik sebagai anak gereja. Papa saya ketat sekali, setiap minggu harus ke gereja. Saya pikir nilai-nilai Kristiani dan gerejawi dan nilai-nilai alkitabiah yang saya dapatkan itu, saya bisa terapkan dalam kehidupan saya. Itu menjadi pegangan saya. Kita tidak sempurna, tapi saya hanya berusaha menjadi lebih baik dengan berpedoman pada nilai-nilai Kristiani yang saya dapatkan.

Itu sangat membantu sekali. Sebab, tidak ada buku yang bisa membuat kita bisa menjawab semua permasalahan, kecuali Alkitab itu. Tidak ada. Kalau saya baca Amsal tentang hubungan kita dengan manusia. Mazmur tentang hubungan kita dengan Tuhan. Ini kan sesuatu yang sangat fundamental. Karena itulah kita bertindak. Jadi, kalau ada nilai-nilai spiritual tadi, menjadi landasan saya bertindak. Tapi paling tidak setiap saat, saya bersyukur. Dan modal inilah saya menjadi kuat, dan kuat.

Bapak punya usaha, dan sekarang di eksekutif. Bagaimana membagi waktu untuk semua itu?

Sebenarnya, kalau saya, punya manajemen dan saya punya kemampuan manejerial. Artinya, membangun suatu perusahaan itu tidak berarti harus duduk di situ. Kita serahkan kepada professional. Saya juga sudah lima tahun jalankan seperti itu, dan semua berjalan dengan baik. Jadi ini masalah manejerial saja bagaimana mengelolanya.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Ini memang sebuah tantangan kepada kami karena anak-anak kami masih kecil. Mereka butuh perhatian dan sentuhan. Saya pikir ini sebuah tantangan kepada saya bagaimana membagi waktu dengan keluarga. Saya berusaha, kalau pagi, berusaha menyapa mereka, bermain dengan mereka walau cuma lima menit saja. Saya mencoba memiliki quality time dengan mereka. Saya juga mencoba membawa mereka keluar bermain bola, walau cuma setengah jam. Anak saya pertama laki-laki, namanya Patrick. (EN)

Facebook Comments