Pengantar Redaksi:

Pada 13-15 Mei 2011 lalu, Redaksi Nias Online melakukan peliputan langsung acara Pagelaran Budaya Bawömataluo 2011 pada 13-15 Mei 2011 di Desa Bawömataluo. Kemudian, pada Senin, 16 Mei 2011 lalu, Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman Dachi menerima redaksi Nias Online di rumah dinasnya di Kota Teluk Dalam, Ibukota Kabupaten Nisel. Dalam bangunan megah di bekas pertapakan Rumah Dinas Pembantu Bupati era sebelum pemekaran tersebut, perbincangan hangat dan akrab berlangsung. Pada kesempatan itu, Bupati Idealisman mengungkapkan berbagai program dan progresnya sejak dilantik pada 12 April 2011.

Masa awal pemerintahan bupati yang masih muda ini, seperti lazimnya terjadi di daerah lain, telah dinanti dengan segudang pertanyaan. Dari sisi politik, apa yang akan terjadi dengan para lawan politiknya. Bagi sebagian para pegawai negeri sipil (PNS), khususnya para pejabat, mereka menanti dengan gelisah. Bagaimana nasib mereka, dimutasi, dipromosikan atau malah diturunkan.

Bagi masyarakat, pertanyaan lebih banyak lagi. Tidak bisa dimungkiri, pengalaman lima tahun sebelumnya yang penuh gonjang-ganjing dan intrik politik, membuat masyarakat banyak apatis, pesimistik. Biangnya adalah, begitu jamaknya berbagai tindakan pengabaian hak-hak masyarakat dan begitu mudahnya menyaksikan para pejabat menikmati hidup dan kesejahteraan hidup yang melampaui batasan wajar pendapatan mereka. Pejabat korupsi atau pejabat ditahan karena tindakan pidana korupsi, sudah menjadi cerita biasa. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang berharap, lebih banyak lagi pejabat yang ditangkap karena kasus korupsinya.

Bupati baru ini pun tidak terhindarkan dari respons apatistik ini. Apakah dia akan lebih baik dari pejabat sebelumnya. Ada yang berpikir, janji-janji ‘berani’nya pada masa kampanye, tidak akan lebih, seperti orang-orang lainnya sebelumnya juga pernah berkampanye dengan janji-janji manis. Setelah menjabat, semuanya tinggal cerita. Hanya untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Akibat trauma dengan pengalaman lima tahun yang lalu itu, kini tidak salah juga bila masyarakat, tidak mau peduli dengan janji-janji dan ataupun siapa orang yang ada di pucuk pimpinan. Yang mereka tunggu adalah, apakah janji-janji itu akan tinggal omong kosong, seperti yang lalu-lalu. Apakah hanya akan menambah koleksi pengalaman buruk untuk lima tahun mendatang.

Kepada anggota dewan redaksi Nias Online Etis Nehe, Bupati Idealisman menjelaskan apa saja yang mulai dikerjakannya bersama wakilnya, Hukuasa Ndruru. Juga mengenai realisasi janji-janji dan upaya menjawab harapan masyarakat. Tentu saja, juga harapannya akan dukungan seluruh masyarakat agar seluruh program dan janji mereka, dapat direalisasikan.

Redaksi Nias Online akan menayangkan hasil wawancara dalam dua bagian. Bagian pertama, terkait program dan progres kinerja kepemimpinan Bupati Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru. Bagian kedua, terkait profil pribadi Bupati Idealisman Dachi.

Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi (Foto: Doc. Nias Online/Etis Nehe)

Berikut ini wawancara bagian pertama:

Apa saja yang Bapak sudah lakukan sejak secara definitif menjabat sebagai bupati. Bagaimana progres program kepemimpinannya sampai saat ini?

Kalau bagi kami, masyarakat bisa menilai, dalam satu bulan kami menjabat sebagai bupati. Mereka dapat menilai apa yang kami lakukan. Terutama dalam penataan kota Teluk Dalam sebagi ibukota Kabupaten Nias Selatan (Nisel). Kita mengajak semua masyarakat terutama di pasar Teluk Dalam menata diri. Termasuk pembersihan sampah-sampah, parit-parit, sungai-sungai kita lakukan. Hasilnya sudah mulai nyata, di kota mulai bersih. Tetapi tidak hanya sampai di situ saja. Kami akan terus melakukan penataan-penataan sampai nanti Teluk Dalam itu menjadi benar-benar sebuah ibukota yang kita harapkan.

Kedua, menyangkut program visi dan misi kami, termasuk janji-janji kami pada masa kampanye kepada msayarakat. Tentunya ini harus kami wujud-nyatakan. Menyangkut gratisnya pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT) dan gratis pelayanan kesehatan dasar.

Puji Tuhan, dengan dukungan dari semua pemangku kepentingan (stakeholders), terutama DPRD, telah bersapakat dengan Pemda pada 6 Mei 2011 yang lalu pada sidang paripurna, mengambil keputusan yang sangat bulat sekali, bahwa kebijakan gratis bidaya pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar itu telah menjadi peraturan daerah (Perda). Begitu juga dengan pelayanan kesehatan dasar. Sudah menjadi keputusan bersama dan Perda.

Dan saya pikir ini menjadi langkah awal yang baik dimana hubungan antara legislatif dan eksekutif membangun kebersamaan memikirkan mengambil keputusan-keputusan yang kita harapkan. Saya juga menilai DPRD sudah menunjukkan sebuah kepedulian terhadap masyarakat.

Kalau dua hal itu, soal pendidikan dan pelayanan dasar kesehatan gratis, bisa dikatakan sudah mulai konkrit sekarang. Bagaimana dengan program pertama tentang pemberantasan korupsi, bagaimana progress realisasinya saat ini?

Kalau pemberantasan korupsi, tidak bisa kelihatan secara langsung. Pemberantasan korupsi itu sangat tidak nyata karena itu tersembunyi. Tapi saya mau katakan, kami sudah memulai itu. Bahwa pada saat kami melakukan pelantikan-pelantikan, sudah tiga kali kami melakukan pelantikan pejabat eselon. Kami menyatakan, kami tidak memungut biaya satu sen pun.

Dan harapan kami, ini berkesinambungan. Mereka juga tidak terbebani dengan biaya-biaya sehingga mereka bisa menunjukkan kinerja itu kepada bawahannya. Harapan saya juga, dengan mereka tidak mengeluarkan biaya, mereka juga tidak membebankan ke bawah sehingga ini menjadi sistim yang baik di pemerintahan daerah ini.

Apa yang menjadi kriteria penempatan pejabat-pejabat baru itu. Sekaligus ini untuk mengkonfirmasi dan mengklarifikasi, tentu saja karena ini masalah politik dimana bisa saja dipikir sebagai politik balas dendam.

Saya pikir mau politik balas dendam saya pikir itu jauh dari itu. Karena kami mencoba berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kalau pun ada satu dua yang tidak puas, saya pikir itu wajar-wajar saja. Sekarang yang penting bagaimana setiap pejabat yang dilantik itu mampu melakukan tugas, mampu melayani masyarakat. Seandainya dalam kurun waktu yang telah kami tetapkan, misalnya enam bulan tidak menunjukkan kinerja yang baik maka kami juga tidak ragu untuk mengganti sehingga bisa menjadi sebuah pelajaran bahwa jabatan itu terkait tanggungjawab.

Wakil Bupati Nias Selatan Hukuasa Ndruru (Foto: Doc. Nias Online/Etis Nehe)

Dalam beberapa hari ini kami banyak mendengar pertanyaan masyarakat, terkait penempatan beberapa pejabat yang katanya, berlatarbelakang guru SD. Apakah benar seperti itu, ada guru SD yang diangkat menjadi pejabat, misalnya camat?

Itu bisa saja terjadi. Tapi saya mau katakan bahwa latarbelakang pendidikan, ini kan manajemen, ini artinya bagi kita adalah karakternya, karakter personilnya. Mampu melaksanakan tugas dengan baik. Kalau soal latarbelakang, kita tidak bisa pungkiri bahwa hampir semua latarblekang pejabat di Nisel ini semua guru. Dan memang, sumber daya manusia (SDM) kita di Nisel ini hampir semuanya guru. Jadi, kita tidak bisa mengelak dari itu. Jadi, saya pikir itu mungkin yang terbaik menurut pandangan kami untuk melakukan tugas-tugas pada bidang-bidang tertentu yang kami lantik.

Memang pandangan masyarakat ada yang berpikir itu tidak tepat. Itu kan pandangan mereka. Artinya, saya sudah diberi kewenangan memimpin Nisel ini, tentunya, juga harapan saya masyarakat memberi kepada saya untuk melakukan sesutu yang menurut cara pandang saya adalah yang terbaik untuk mencapai sasaran-sasaran kami.

Berapa banyak yang dari latarbelakang guru tersebut yang diangkat menduduki jabatan yang lebih tinggi, misalnya camat ?

Sangat sedikit sekali, bisa dihitung jari saja. Tapi ini juga menjadi tantangan bagi kita. Saya sudah instruksikan Kepala Dinas Pendidikan untuk menyiapkan SDM kita. Bahkan kita juga memberikan beasiswa penuh kepada siswa-siswa terbaik di masing-masing daerah untuk disekolahkan di luar Pulau Nias, sehingga mereka bisa kembali untuk membangun Nisel. Bisa dalam strata ilmu seperti kedokteran, teknik, teknologi, tata kota, pertanian, perikanan, dan lain sebagainya. Kita sedang menggodok itu dan tahun ini kita akan kirim.

Saat ini kami sedang menjajakan komunikasi dengan pihak Universitas Suamtera Utara (USU) supaya orang-orang terbaik pilihan kita di sini diberi ruang untuk bisa belajar di sana.

Seperti apa Nias Selatan ini yang Bapak harapkan dalam tiga sampai enam bulan mendatang?

Saya mau katakan Nisel ini yang penting dulu dalam dua tiga bulan ini yang paling penting bagi kami bagaimana menciptakan trust (rasa percaya). Bagaimana menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan kami. Bahwa kami bisa memenuhi harapan mereka. Itu point yang paling penting. Karena kalau kita lihat ke belakang, ada pengalaman ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Jadi tugas kami dulu adalah trust building. Membangun kepercayaan itu sehingga rakyat benar-benar yakin dengan kami dalam memimpin Nisel.

Respons masyarakat sejauh ini sejak Bapak di lantik?

Saya tidak tahu respons masyarakat. Tapi menurut keyakinan saya, karena kami sudah mencoba memulai melakukan yang terbaik untuk rakyat ini, saya pikir kalau sudah melakukan yang terbaik pasti hasilnya juga baik. Saya tidak tahu bagaimana pandangan teman-teman di luar kami. Karena masyarakat yang menilai. Silakan masyarakat menilai.

Sekarang lebih sektoral. Persaoalan Nisel sejauh ini adalah masalah infrastruktur walaupun waktu lalu ada bangunan dari BRR yang sebenarnya juga menjadi beban baru dalam pemeliharaannya. Misalnya, saat ini Nisel punya pelabuhan yang tidak representatif. Apa yang akan dilakukan untuk pembangunan infrastruktur vital yang berdampak besar bagi pembangunan Nisel?

Memang dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) kita, menitikberatkan, pertama pada pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pariwisata dan banyak lagi. Kalau soal infrastruktur, kita sedang buat grand design mana yang kita bangun. Sentra-sentra ekonomi masyarakat harus dibuka aksesnya untuk pendisitribusian produk mereka. Sehingga, hasil produksi itu lebih mudah didistribusikan. Artinya, mereka tidak terbebani ongkos yang tinggi. Kita akan memulainya.

Kita akan bekerjasama dengan PNPM mandiri yang sebelumnya membangun akses infrastruktur di desa akan kita sinergikan itu sebagai langkah yang konkrit untuk membuka akses ke desa-desa.

Berapa besar dana PNPM ke Nisel sehingga itu bisa diandalkan juga?

Rata-rata Rp 40 miliar per tahun. Tapi yang paling penting adalah bagaimana program PNPM itu sinergi dengan program pemerintah. Supaya pada saat Musrenbang itu mereka bisa tahu mana yang perlu dibangun dan di desa mana. Sehingga matching dengan pembagunan oleh pemda dan PNPM sendiri.

Sejauh ini realisasinya?

Masih tidak memuaskan karena masing-masing fasilitator, saya lihat, kesannya tidak mendasar pada kebutuhan masyarakat sebenarnya. Tidak sesuai dengan program pemda. Harusnya itu disinkronkan. Contohnya, kalau di desa A dalam satu kecamatan dapat PNPM jalan, kan tidak ada artinya kalau tidak ada akses ke B dan ke C hingga ke jalan provinsi atau kabupaten. Jadi yang saya harapkan, bagaimana PNPM itu bisa mensinergikan kebutuhan infrastruktur dari A-D masuk di jalan kecamatan sehingga bisa tercapai, terhubung semua. Kalau desa A bangun, B bangun, dan desa lain tidak kan tidak ada artinya.

Soal bandara Silambo, bagaimana target pemda untuk mengoperasikan bandara itu?

Target kami bandara itu harus beroperasi, karena itu akses bagi pariwisata sehingga dunia luar dengan mudah masuk. Percayalah, kita akan fokuskan itu. Harapaan kami juga, masyarakat bekerja sama. Misalnya, dalam masalah tanah, ganti rugi. Kita targetkan beroperasi, paling lambat 2013. Bandara itu akan dibikin benar-benar bisa komersil.

Kemarin (13-15 Mei 2011), warga Desa Bawomataluo menginisiasi pagelaran budaya. Menurut bapak, apakah itu sesuatu yang positif? Dan apa yang akan dilakukan Pemda Nisel ke depan terkait agenda serupa?

Saya pikir itu sangat bagus sekali. Artinya mereka mampu menunjukkan dan memeragakan potensi-potensi budayanya. Saya pikir itu sangat positif. Dan pemerintah akan mencoba, saya dengar juga ada pihak swasta yang terlibat. Saya pikir itu langkah yang bagus kalau ada swasta berpartisipasi. Dan pemerintah daerah tidak akan lepas tangan untuk memberi fasilitas-fasilitas supaya potensi ini dapat ditunjukan kepada dunia luar.

Harapan saya juga, masyarakat pelaku-pelaku pariwisata ini dapat menunjukkan budaya yang jauh lebih baik, terutama dalam menerima tamu. Lebih ramah sehingga para pelancong yang datang ke desa atau ke pantai merasa nyaman dan bisa cerita kepada dunia luar.

Apa mungkin ini bisa diadopsi menjadi sebuah konsep program yang akan digelar oleh Pemda mengingat salah satu andalan daerah ini adalah pariwisatanya?

Oh itu bisa. Artinya, pemda tidak alergi terhadap hal-hal yang bisa menunjukkan sesuatu yang baik. Nanti akan saya terima laporan dari Dinas Pariwisata. Kalau memang baik, bahkan pemerintah bisa melakukan langkah yang lebih besar lagi, supaya ini bisa dieksplorasi supaya orang luar bisa tahu bahwa ada sesuatu yang indah di Nisel.

Di Bawömataluo kemarin, ada sebuah ironi. Ini salah satu contoh saja yang bisa saja terjadi di desa lainnya. Acara itu digelar untuk menarik orang/wistatawan ke sana. Tapi ternyata tidak didukung dengan infrastruktur jalan yang baik. Jalanan berlubang, mengelupas dan batu-batu berhamburan. Bahkan sempat ada korban jatuh. Kalau dengan event ini ingin menarik orang, tapi jalannnya tidak menjamin keselamatan, apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk keselamatan para pengunjung?

Oh ada yang bisa kita lakukan. Nanti kita akan membangun akses-akses dulu. Bukan hanya ke Desa Bawömataluo, tapi ke desa-desa lain seperti Lagundri, Sorake, supaya yang berkunjung ke sana merasa nyaman.

Lima tahun ke depan, apa yang membuat bapak merasa puas memimpin selama lima tahun dan kemudian akan berpikir untuk mencalonkan diri untuk lima tahun berikutnya? Apa indikatornya. Seperti apa nanti masyarakat Nisel setelah lima tahun?

Bagi kita, ini harus terukur pekerjaan-pekerjaan. Tapi kita tidak bisa kita bilang begini, oh saya bangun jalan, saya puas. Saya bisa membangun lapangan terbang, sudah puas. Itu tidak disitu. Tapi nanti kita akan coba secara totally, secara komprehensif. Nanti ada indeknya.

Misalnya begini. Ukuran kemajuan sebuah daerah itu dilihat dari IPMnya, indeks pembangunan manusianya. Itu kan ada skornya. Kita ingin mengubah itu. Variabel-variabel yang menjadi ukuran penilaian itu bisa meningkat. Termasuk dalam penataan kota, ekonomi, sosial, pelayanan masyarakat, semua terukur dalam satu skor. Kita ingin keluar dari nilai yang paling jelek itu. Bisa keluar menjadi nilai, kalau perlu yang terbaik. Kita ingin rubah dimana selama ini Nisel selalu mendapat predikat terburuk/terbawah. (EN)

Facebook Comments