Kepala Desa Bawömataluo Ariston Manaö (Foto: Etis Nehe)

JAKARTA, Nias Online – Menyusul suksesnya Pagelaran Atraksi Budaya Bawömataluo 2011 pada 13-15 Mei 2011, warga Desa Bawömataluo meminta dukungan konkrit pemerintah daerah Nias Selatan (Nisel) untuk pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung bagi kegiatan pariwisata di desa itu.

“Semalam saya melaporkan kegiatan Bawömataluo 2011 itu kepada Kepala Dinas Pariwisata Nisel Herman Laia. Dalam laporan itu juga saya menyampaikan beberapa kekurangan yang membutuhkan dukungan Pemda Nisel untuk dibenahi karena acara ini akan dilaksanakan lagi tahun depan,” ujar Kepala Desa Bawömataluo Ariston Manaö kepada Nias Online di Jakarta, Kamis (19/5/2011).

Menurut dia, laporan itu merupakan laporan kepada Bupati Nias Selatan yang secara struktural disampaikan melalui Kadis Pariwisata. Dia menjelaskan, beberapa kekurangan yang mesti dibenahi di antaranya, akses jalan yang banyak rusak, kesulitan bahan baku air bersih, sarana parkir dan penerangan jalan menuju maupun di dalam Desa Bawömataluo.

“Saya berharap acara ini berkesinambungan. Jangan sampai hal-hal ini (kekurangan-kekurangan) sampai terulang kembali. Nanti tamu-tamu yang datang bisa kesal karena merasa tidak nyaman,” kata dia.

Berdasarkan pantauan Nias Online selama tiga hari pagelaran acara itu, masalah air bersih sangat mengganggu. Bahkan beberapa tamu, di antaranya para wartawan, memutuskan tidak menginap di home stay di Bawömataluo karena kesulitan air. Panitia juga berusaha mendatangkan air bersih dari sumber air di desa lain dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran. Namun, tetap saja, kesulitan itu tidak teratasi.

Kerusakan jalan juga menjadi pemandangan jamak. Mulai dari simpang Desa Bawofanayama (Ndraso) menuju Desa Bawömataluo. Lobang dan serakan batu-batu jalanan yang terbongkar dengan mudah ditemukan di sepanjang lebih 2 kilometer jalan menuju Desa Bawömataluo. Bahkan Nias Online sempat menemukan seorang pengunjung menjadi korban karena sepeda motor yang dikendarainya tergelincir di bagian jalan yang rusak dan batu-batunya berhamburan tersebut. Pengaspalan jalanan itu terkesan asal jadi dan hanya melapis badan jalan sebelumnya dengan ketebalan sekitar 5-10 sentimeter sehingga mudah mengalami kerusakan.

Sepanjang jalan menuju Desa Bawömataluo juga tidak memiliki penerangan jalan sama sekali. Sedangkan penerangan jalan di dalam Desa Bawömataluo, meski ada, tapi tidak memadai. Penerangan lebih banyak dibantu oleh cahaya lampu dari rumah-rumah warga.

Sedangkan soal parkir, perlu terobosan kreatif untuk mengatasinya. Sebab, parkir yang ada saat ini, hanya cukup menampung beberapa unit mobil dan puluhan motor saja. Karena keterbatasan itu, biasanya pemarkiran kendaraan akhirnya dilakukan di sepanjang tepi jalan. Selain mengurangi luas bidang jalan, juga menimbulkan kerawanan karena ada kemungkinan tersenggol atau mengganggu pengguna jalan lainnya.

Acara pagelaran itu sendiri, khususnya pada hari terakhir/hari puncak pagelaran, dihadiri oleh lebih dari 20 ribu pengunjung. Sebagian besar dari berbagai desa, kecamatan dan kabupaten di Pulau Nias. Juga ada turis lokal dari Sumatera Utara, Jakarta serta turis mancanegara. (EN)

Facebook Comments