JAKARTA, Nias Online – Atraksi pagelaran budaya Bawömataluo 2011 yang akan digelar pada Jum’at-Minggu (13-15 Mei 2011), juga mendapat dukungan warga Nias Selatan di perantauan, termasuk yang berasal dari Desa Bawömataluo. Inisiatif menggelar acara itu dinilai sebagai terobosan yang bagus dan pas. Acara itu juga layak diteruskan bahkan ditiru oleh desa-desa lain yang memiliki potensi budaya.

“Itu terobosan yang bagus dan pas. Karena habitat kita kan pariwisata. Kemudian pariwisata ini mesti ada yang berani berinvestasi. Orang berani berinvestasi karena terekspos. Dan untk terekspos ada banyak faktor. Salah satunya, inisiatif melakukan acara itu,” ujar tokoh masyarakat Nias Selatan yang berasal dari Desa Bawömataluo Waspada Wau kepada Nias Online di Jakarta, Senin (25/4/2011).

Pria yang biasa dipanggil Ama Sermin tersebut menjelaskan, konten acara itu juga sangat menentukan. Menurut dia, adalah suatu kenyataan bahwa apa yang kita lihat dan kita anggap sebagai kekayaan budaya saat ini, sebenarnya sisa-sisa dari yang sudah tenggelam karena tidak dikembangkan. Melalui event “Bawömataluo 2011” tersebut, kata dia, kekayaan itu akan tergali lebih banyak lagi, selain tujuan untuk tujuan untuk memajukan pariwisata itu secara keseluruhan.

Pelibatan atraksi budaya dari desa-desa sekitar, menurut dia, juga menjadi nilai tambah dari acara itu. Itu menunjukkan bahwa inisiatif untuk maju itu berasal dari bawah dan bukan dari Pemda, yang bekerja untuk pariwisata dan kebudayaan. Kalau hanya ‘menjual’ Bawömataluo, jelas dia, setelah acara berlangsung, para turis akan langsung pulang. “Kalau ada objek lain, mereka bisa habiskan waktu di tempat-tempat lain dan menggunakan uang mereka berbelanja di sana. Itu hal yang baik,” tandas dia.

Sementara itu, pengusaha asal Bawömataluo yang berdomisili di Tangerang, Ama Kalvin Zagötö mengatakan, ide pagelaran berbagai acara kolosal melalui “Bawömataluo 2011” tersebut, sangat harus diapresiasi. Patut disyukuri bila ada orang-orang yang mau ‘berkorban’ untuk memikirkan dan melaksanakan acara seperti itu.

“Bapak Ama Gibson (Hikayat Manaö) dan semua panitia, layak diapresiasi. Apa yang mereka tampilkan itu, bukan cuma aset Bawömataluo, tapi juga aset Nias Selatan,” ujar dia.

Karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat Nias Selatan, agar bisa melakukan sesuatu sebagai bagian atau kontribusi pada kegiatan yang telah dirintis panitia dan warga Bawömataluo tersebut. “Acara itu pasti butuh dana. Kalau bisa bantu dana, silakan dibantu. Itu bagian kita yagn ada di sini. Paling tidak, apa yang kita bisa bantu, kita lakukan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Nias Selatan (Fornisel) Yulius Duha mengapresiasi dan mendukung prakarsa masyarakat Desa Bawömataluo yang dengan sukarela mau berswadaya untuk menyukseskan pagelaran budaya itu. “Fornisel mengucapkan selamat dan sukses kepada panitia dan seluruh masyarakat desa Bawömataluo atas pagelaran seni budaya yang diadakan pada 13-15 mei 2011,” ujar pria yang biasa dipanggil Ama Andra itu.

Patut Ditiru dan Dilanjutkan

Meski pelaksanaan acara itu sangat menentukan kesuksesan, Ama Sermin mengatakan, acara itu bisa dipertimbangkan menjadi agenda rutin. Tidak hanya di Desa Bawömataluo, desa-desa lain yang memiliki potensi budaya, juga bisa melakukan hal serupa.

“Acara ini, selain kebudayaan akan berkembang, dampak ikutannya (multiplier effects)nya akan banyak. Termasuk secara ekonomi,” kata dia.

Ama Kalvin juga berpendapat bahwa acara itu layak menjadi agenda rutin. Tidak hanya itu, acara itu harus ditingkatkan dengan adanya keterlibatan Pemda Nias Selatan dengan disertai pembenahan-pembenahan. ”Acara seperti itu memiliki nilai jual,” kata dia.

Dia juga mengusulkan agar dalam pelaksanaan acara seperti itu, panitia memperhatikan tata kelola kenyamanan pengunjung. Faktor kenyamanan pengunjung harus jadi prioritas. Desa itu, harus dijadikan, tidak hanya milik warga desa Bawömataluo, tapi menjadi desa universal, desa nasional bahkan desa internasional. Praktik serupa itu, kata dia, sudah menjadi kelaziman dan modal utama kemajuan pariwisata di Bali.

“Kalau kenyamanan diperhatikan, tidak usah bicara orang bule yang akan datang, turis lokal pun bisa menghasilkan sesuatu. Dari turis lokal saja sudah cukup bagus, bila dikelola dengan baik. Bila itu terus berlanjut, efek ekonomisnya juga akan ada terus,” kata dia.

Sementara Yulius mengharapkan, ke depan ada paket-paket pagelaran budaya yang terjadwal dan rutin, agar para tamu atau wisatawan bisa menjadwalkan kedatagannya ke Desa Bawömataluo. (Etis Nehe)

Facebook Comments