MEDAN, KOMPAS.com–Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, menambah satu koleksi situs megalit temuan di Desa Saita Garamba, Kecamatan Gidö yang merupakan peninggalan sejarah di kepulauan tersebut.

Penjaga Anjungan Pameran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Olin Bobby (24), di Medan, Selasa, mengatakan, temuan megalit itu suatu kebanggaan untuk masyarakat daerah tersebut.

Struktur situs megalit itu, katanya, cukup beragam antara lain berbentuk kuburan leluhur dibuat dari tumpukan batu-batu, bentuk “ni’ogadi”, dan “behu”.

“Batu megalit tersebut saat ini dilindungi dan dilestarikan oleh Pemkab Nias, sehingga peninggalan bersejarah itu tetap terawat dengan baik dan tidak dirusak oleh manusia,” kata Olin yang juga mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara itu.

Ia menjelaskan, situs megalit Saita Garamba itu hasil temuan masyarakat. Mereka selanjutnya melaporkan temuan itu kepada pemkab setempat.

Pemkab Nias menangani situs bersejarah itu antara lain menjadikan sebagai objek wisata budaya untuk memajukan pariwisata di daerah tersebut. “Situs Batu Megalit Saita Garamba ini berada lebih kurang 34 kilometer dari Kota Gunung Sitoli,” katanya.

Megalit Lahemo dan Maliwa’a

Data yang diperoleh, Pemkab Nias sebelumnya hanya memiliki dua situs megalit yakni Situs Batu Megalit Lahemo di Desa Lahemo, Kecamatan Gidö dan Situs Batu Megalit Maliwa’a, di Kecamatan Idanögawo.

Di antara kumpulan batu-batu Situs Batu Megalit Lahemo terdapat beberapa batu dengan bentuk unik yaitu batu megalit Saita Gari Tuada Ho (tempat sangkutan pedang Tuada Ho,red).

Batu megalit itu berukuran cukup besar, terdiri atas dua lempengan batu yang persis sama dengan memiliki celah (di celah itu Tuada Ho menyangkutkan pedangnya yang cukup besar, red).

Selain itu, batu besar di tanah yang di atasnya terdapat bekas telapak kaki Tuada Ho. Lokasi bersejarah itu lebih kurang 32 kilometer dari Kota Gunung Sitoli.

Struktur batu Megalit Maliwa’a cukup bervariasi antara lain berbentuk “ni’ogadi” dan “behu”. Lokasi batu megalit tersebut lebih kurang 42 kilometer dari Kota Gunung Sitoli.

Kabupaten Nias pascapemekaran pada 2009, memiliki sembilan kecamatan (sebelumnya 34 kecamatan, red.) yakni Gidö, Idanögawo, Bawölato, Ulugawo, Ma’u, Somolo-molo, Hiliserangkai, Botomuzöi, dan Hiliduho, dengan luas wilayah 980,32 kilometer persegi dan jumlah penduduk 127.415 jiwa, beribukota di Gunung Sitoli.

Kabupaten Nias dapat dicapai dengan kapal laut dari Pelabuhan Laut Sibolga menuju Pelabuhan Laut Gunung Sitoli atau pesawat dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Binaka Gunung Sitoli.

Sumber: Kompas, 13 April 2011

Facebook Comments