MEDAN – Tarian kolosal berupa tari “Famadaya Harimao” dari Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, diminati para turis mancanegara yang berkunjung ke daerah tersebut.

Penjaga anjungan pameran Pemerintah Kabupaten Nias Selatan (Nisel), Fonono Saro Maru’ao di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Medan, kemarin mengatakan, tarian tradisional tersebut merupakan tari yang digelar dalam pengukuhan hukum adat di desa dengan membuang patung harimao di sungai yang disebut Sungai Jumali.

Para tamu-tamu maupun wisatawan berkunjung ke Kabupaten Nisel yang ingin menyaksikan dengan jelas Tarian Famadaya Harimao itu, menurut dia, bisa melihatnya langsung ke Desa Ori Maenamolo.

Selain, Tari Famadaya Harimao, juga terdapat Tari Famadaya Saembu di Desa Ori Toene Asi, Tari Famadaya Orabatu di Desa Ori Onolulu dan Tari Famadaya Jahili di Kecamatan Pulau-Pulau Batu dan Kecamatan Hibala.

“Tari-tarian tersebut memiliki nilai sejarah, dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan kelestariannya oleh masyarakat di Nisel,” kata Fonono.

Dia menjelaskan, di Nisel tersebut juga ada Tari Moyo (tari elang) merupakan tarian yang menunjukkan kelemah-kelembutan gadis-gadis di daerah itu dalam pergaulan dan terhadap tamu.

Selain itu, katanya, juga ada Tari Fogaele merupakan tarian yang dipersembahkan untuk menyambut para tamu dan acara ritual.

Tari Manaho merupakan tari yang dipersembahkan untuk menyambut para tamu.”Tarian ini disediakan oleh sanggar budaya yang ada di Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Hibala dan Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur,” kata putra Nias Selatan itu.

Lompat batu

Selanjutnya, dia mengatakan, di Nias Selatan itu, juga ada lompat batu yang merupakan atraksi yang sudah dikenal di tingkat nasional dan internasional .

Para wisatawan dapat menikmati atraksi lompat batu di setiap desa tradisional di daerah Kabupaten Nisel seperti di Desa Bawomataluo, Orahili Fau, Hilinawalo Fau, Hinalawalo Mazino, Ono Hondro, Hiliamaeta Niha, Hilisimaetano, Bawogosali, Hilinamozaua,Hilimondreoeraya, Hiliganowo, Hilifalago dan lain-lain.

Menurut dia, lompat batu ini, awalnya sebagai sarana ketangkasan prajurit yang akan turun di Medan tempur dalam membela desa dan memenangkan perjuangan.

“Lompat batu ini juga dilakukan pada acara ritual dan pada kunjungan tamu-tamu penting ke daerah tersebut. Wisatawan mancanegara juga sangat tertarik dan menyenangi lompat batu tersebut, ini juga sebagi hiburan menarik bagi mereka,” katanya.

Sumber: Waspada Online

Facebook Comments